
Pukul dua dini hari, Ardi mendapat telepon dari Rumah Sakit.
"Apa? Iya, masukkan obatnya melalui infus, saya akan segera ke sana," ucap Ardi kemudian menutup teleponnya.
"Babe, bangun Babe, ikut aku ke Rumah Sakit yuk," Ardi membangunkan Najma.
"Ada apa Mas?" tanya Najma sambil menggeliat, mengeriyip dan melihat jam digital di dinding.
"Yudha barusan kejang, kita ke sana yuk,"
"Ah iya," mereka segera berganti baju dan menaiki mobil untuk segera ke rumah sakit. Karena masih dini hari jalanan sepi sehingga mereka bisa segera sampai ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ardi langsung masuk ruang rawat Yudha. Ia memeriksa langsung keadaan Yudha, kejang telah berhenti, dan Yudha juga sadar.
"Ngapain aku dipasangin kaya gini?" tanya Yudha sambil menunjuk elektroda yang menempel di dadanya, dan sebuah alat menyerupai penjepit di jari telunjuknya, dan semua itu terhubung di monitor di sebelahnya. Menunjukkan denyut jantung, saturasi oksigen, respirasi/ jumlah pernafasan, dan tekanan darah.
"Biar terpantau lebih rinci lagi Yud, nurut napa, di sini aku dokternya, kamu pasien ya," sahut Ardi.
"Maaf ya brother, aku ngerepotin kamu sama Najma,"
"Iya, ngerepotin banget, makanya semangat sembuh ya, biar repot ku ini ga sia-sia," ucap Ardi, ia memberi semangat sahabatnya itu.
"Iya, in syaa Allah, jazaakallaahu khairan Ar, Qumil gimana? Sudah ada jawaban?"
"Waiyyaka, kamu fokus aja buat kesembuhan mu dulu ya, aku berusaha dengan antibiotik, orang tuamu berusaha dengan doa, dan kamu optimis untuk segera sembuh ya,"
"Iya Ar, siap in syaa Allah," sahut Yudha.
"Baiklah, kamu istirahat lagi ya, habis ini pasti ngantuk kena obatnya, aku panggil Om Rendra dan tante Helena dulu ya Yud," kata Ardi, Yudha mengangguk dan tersenyum.
Ardi keluar kamar, dan menemui orangtua Yudha yang juga bersama Najma di teras ruangan.
"Gimana Ar Yudha," tanya Rendra.
"Alhamdulillah Om, Yudha sadar dan sekarang tidur, sebaiknya Om dan Tante temani Yudha," sahut Ardi.
"Iya, kami masuk dulu kalau begitu, terima kasih kalian sudah datang ke sini," ucap Rendra.
"Iya Ama, makasih ya sudah repot-repot ke sini," ucap Helena. Najma yang sedari tadi menenangkan Helena mengangguk dan tersenyum, bibirnya memang tertutup cadar, namun dari matanya terlihat ia sedang tersenyum.
__ADS_1
Ardi dan Najma kemudian memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dahulu, karena keduanya mulai mengantuk lagi.
"Subuh masih satu jam lagi, kita ke ruang istirahatku ya Babe, ada kasur lipat di sana," tutur Ardi. Najma hanya menurut karena dia juga merasakan kantuk yang sangat.
Mereka menaiki lift menuju lantai empat dimana ruang istirahat Ardi berada. Ternyata di sana ada dokter Irwan, dokter spesialis bedah torax. Teman satu ruangan Ardi di rumah sakit itu.
"Assalamualaikum," sapa Ardi.
"Waalaikumusalam, lho Dok, kok jam segini di sini?" tanya dokter Irwan.
"Iya Dok, nengok dokter Yudha," sahut Ardi.
"Gimana Dok keadaannya dokter Yudha?" tanya Irwan.
"Alhamdulillah sudah lebih baik, ya masih observasi terus, Dokter Irwan habis operasi?"
"Iya, pasien ICCU / ICU khusus penyakit jantung, ada operasi darurat, sudah dari jam satu tadi selesai, saya mau pulang, ini istrinya Dok?" tanya Irwan sambil menengok ke arah Najma sekilas.
"Iya, kenalkan istri saya, Najma," ucap Ardi.
"Kami mau pulang, tapi kok ngantuk banget rasanya, makanya saya ajak ke sini nunggu subuh," lanjut Ardi.
"Waalaikumusalam," sahut Ardi dan Najma.
"Tidur Babe di sofa itu, sebentar aku ambilkan bantal," ucap Ardi seraya membuka lemari di belakang meja kerjanya, dan mengambil bantal dan selimut kemudian memberikannya pada Najma.
"Mas tidur dimana?" tanya Najma.
"Di sini," sahut Ardi sambil menunjuk bawah sofa yang ditiduri Najma.
"Di lantai?" tanya Najma. Ardi kemudian mengambil kasur lipat di sudut ruangan, dan menggelarnya di sebelah sofa.
"Pakai ini, udah yuk tidur, masih satu jam an lagi, lumayan buat istirahat Babe,"
Najma merebahkan dirinya di sofa, sedangkan Ardi rebahan di kasur bawah. Tidak sampai lima menit, mereka tertidur karena sangat mengantuk.
.
.
__ADS_1
.
"Jadi gimana Ma?" tanya Qumil sambil membantu mamanya memasak di dapur.
"Mama sama Papa menyerahkan semua keputusan padamu Nak," sahut Arina sang mama.
"Qumil tambah bingung ini, padahal mau nurut aja sama Mama papa," ucap Qumil.
"Semua pilihan dan keputusan ada tanggung jawabnya masing-masing, kalau kamu siap menikah dan menjadi seorang istri, kamu juga harus siap akan kewajiban dan tanggung jawab mu, kalau kamu menolaknya, siapkah kamu melepaskan orang yang kamu sukai?" tutur Arina.
Qumil jadi berpikir, kalau menolaknya, cepat atau lambat Yudha juga akan menikah dengan orang lain, dan pasti Qumil akan sering bertemu Yudha dan istrinya, karena tempat tinggal mereka kalau kuliah berdekatan, apalagi dia dan Yudha sama-sama teman dekat Najma dan Ardi. Pasti ga enak melihat orang yang dulu pernah melamar, lalu menikah dengan orang lain.
"Kok malah bengong, gosong tuh tempe nya," Arina segera mematikan kompor yang dipakai Qumil menggoreng tempe.
"Astaghfirullah..." ucap Qumil yang tersadar.
iu "Assalamualaikum," sapa Najma yang tiba-tiba bergabung dengan mereka.
"Waalaikumusalam, kok bisa masuk?"
"Iya, tadi pas mau pulang, Om Ridwan di depan bersih-bersih, aku mampir aja deh, kangen sama Tante Arina," sahut Najma.
"Ah iya Ama sayang, tante juga kangen banget sama kamu, ikut sarapan yuk," ajak Arina.
"Belum sarapan kan, yuk, tapi sama tempe Ama," imbuh Qumil.
"Alhamdulillah, kebetulan laper banget, tadi cuma minum susu doang, karena mas Ardi hampir telat ke rumah sakit,"... Najma lalu menceritakan kejadian Yudha semalam.
Mereka kemudian sarapan bersama dengan menu rumahan sederhana, tempe goreng, telur rebus, dan trancam, yaitu timun dan kacang panjang yang dipotong kecil-kecil, ditambah potongan tempe goreng dan kemangi dibumbui sambal kelapa yang mirip dengan urap-urap.
" Antar aku membezuk dokter Yudha ya Ama," pinta Qumil. Najma mengiyakan.
Setelah bersiap-siap, sepasang sahabat itu pergi ke rumah sakit Airlangga Medika untuk menjenguk Yudha.
Sesampainya di sana, Qumil segera memasuki kamar rawat Yudha. Najma dan Helena yang telah berjaga semalaman, menunggu di luar. Sedangkan dokter Rendra telah pergi ke kantornya.
Qumil terkejut dengan keadaan Yudha, di tangannya terpasang infus dengan selang bercabang yang salah satunya terhubung ke syringe pump, infus otomatis dengan setelan dosis dan waktu, kemudian yang satu lagi terhubung ke infus biasa. Juga terpasang monitor di sebelahnya, ada angka-angka di sana yang Qumil tidak tahu apa artinya. Melihat Yudha yang terpejam dan terbaring lemah membuatnya menangis. Ingin memegang tangannya, namun ia urungkan karena mereka bukan mahram.
"Mas Yudha, kalau tahu keadaanmu seperti ini, aku pasti segera memberi jawaban padamu, aku takut kamu tidak sempat mendengar bahwa aku mau menjadi istrimu," ucap Qumil sambil terisak.
__ADS_1