
Episode sebelumnya...
Mata Bintang yang terpejam tiba-tiba terbuka, ia merasakan hembusan nafas Bumi yang harum mengenai wajahnya. Wajah mereka berdua kini sangat dekat. Mata mereka saling menatap satu sama lain seolah-olah ada magnet yang saling tarik menarik di antara keduanya. Bumi memajukan wajahnya lagi dan bibir mereka saling bersentuhan. Bintang dan Bumi bercium*n.
###
Happy Reading & Enjoy Guys.
###
Minggu ke 3 dan hari terakhir Bumi belajar memasak.
Sudah berhari-hari Bintang dan Bumi dalam kecanggungan. Hari ini adalah pertemuan terakhir untuk mengajari Bumi belajar memasak. Setelah kejadian Bintang yang mabuk, kecanggungan itu dimulai saat insiden mereka berciuman.
"Ekhemmm gimana rasanya? " Tanya Bumi memecah kesunyian.
"Hemmm, oh enak mas udah pas ini bumbunya. " Balas Bintang.
"Gue coba belah dulu yah ayamnya. "
"Iya, mas. "
Bumi kemudian membelah ayam utuh yang telah di panggang itu menjadi 2 bagian, bau bumbu yang telah meresap ke daging ayam mengeluarkan bau yang semerbak, menggugah selera. Ayam utuh itu tadinya telah diisi bagian perutnya dengan bumbu-bumbu yang telah di haluskan kemudian di campur dengan daun singkong dan daun jeruk lalu di panggang. Begitulah ciri khas ayam betutu khas Bali.
"Wahhh." Bintang merasa takjub. Bumi tersenyum tipis merasa bahwa dirinya sepertinya akan lulus dari penilaian Bintang dengan mudah kali ini.
"Cobain dong jangan diliatin aja. "
Bintang mengambil sendok garpu dan mencicipi bumbu-bumbu bercampu daun singkong dan jeruk nipis dari dalam perut ayam yang telah di belah tadi, kemudian memasukkan potongan daging ayam yang sudah di potong-potong kecil oleh Bumi ke dalam mulutnya.
"Hhmmmmmm." Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia menikmati masakan Bumi kali ini.
"Enakk mas, mantapp. " Bintang mengacungkan ibu jarinya ke arah wajah Bumi yang berdiri tepat di sampingnya.
Mata mereka kembali beradu, saling bertatapan.
...Deg.. Deg.. Deg... ...
Sesaat kemudian Bintang segera mengalihkan pandangannya. Begitupula dengan Bumi.
"Elo ke sofa aja, biar gue yang bersihin ini. " Ujar Bumi sambil membersihkan meja, mengangkat piring dan perabotan lainnya yang kotor dari meja makan menuju wastafel tempat pencucian piring.
__ADS_1
"Biar aku bantuin aja, mas." Bintang mencoba membantu.
"Udah gak usah, elo duduk aja disana. " Suruh Buki sekali lagi, Bintang mengalah dan berjalan menuju sofa.
Bintang duduk sambil memperhatikan Bumi yang sedang sibuk mencuci piring. Ingatannya kembali kepada kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka berci*man. Bintang tanpa sadar mengelus bibirnya.
"Ahhh pikiranku. " Batun Bintang, sambil menepuk-nepuk kepalanya.
"Bintang, elo kenapa?. " Tanya Bumi yang sekarang sedang berjalan ke arahnya sambil memegang gelas berisi air putih.
"Nih minum dulu. "
"Ehh gapapa mok mas. " Bintang tersadar.
Saking canggungnya, Bintang sampai lupa minum tadi.
"Makasih yah udah mau bantuin gue salama 3 minggu ini. " Bumi seperti akan mengeluarkan kata-kata perpisahan.
"Iya mas saya juga makasih karena udah diijinin bawa pulang sisa makanan, hehee. "
"Gue punya sesuatu buat elo. " Ucap Bumi yang berjalan masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian Bumi kembali lagi membawa sebuah paper bag.
"Nihhh." Bumi menyodorkan paper bag itu ke tangan Bintang.
" Elo suka warna ungu kan? isi kamar lo warna ungu semua. " Ujar Bumi yang ternyata se perhatian itu.
Bintang yang tidak mengangka Bumi akan sejauh itu memperhatikan dirinya tersenyum kecil namun ia masih tidak mengerti kenapa celemek?.
"Elo harus bantuin gue nyiapin makanan pas hari H di ulang tahun pacar gue nanti. " Ujar Bumi memberikan perintah.
Jleb. Seperti ada yang menimpa jantungnya, mendingan ucapan Bumi barusan.
"Oh saya kirain ini hari terakhir saya, mas?. " Tanya Bintang merasa kecewa dengan perasaannya sendiri, harusnya dia sadar dirinya siapa, kenapa ia bisa lupa kalau 3 minggu yang di jalaninya dengan Bumi hanya untuk membuat kejutan dan untuk menyenangkan Shanti, kekasih Bumi di hari ulang tahunnya nanti. Namun, Bintang lebih tidak menyangka lagi karena Bumi memintanya untuk membantunya di hari H?.
"Elo bisakan? Nanti gue kasih bonus lagi buat elo. "
"Tapikan itu gak ada dalam kontrak, mas. " Bintang mencoba menolak secara halus. Uang tidak ada gunanya lagi. Ia menyadari harus segera berlari dari lingkaran yang di buat Bumi, sebelum lingkaran itu benar-benar tidak memiliki cela untuk meloloskan diri.
"Maksud gue, elo cuman jadi asisten gue kok, tenang aja. "
"Saya pikir-pikir dulu deh mas. "
__ADS_1
"Tolong dong Bintang, plis yah sekali ini aja lagi. " Bumi memohon.
"Plisss sekali lagi aja buat yang terakhir kalinya, setelah itu gue gak bakalan, gangguin elo lagi, gak minta apa-apa lagi, lagian gue tetap bakalan kasih elo bonus kok, kan lumayan. "
"Saya pikir-pikir dulu deh mas. " Ucap Bintang tegas. Bumi nampak kecewa, melihat itu Bintang buru-buru mengambil paper bag berisi celemek itu dan beroamitan dengan Bumi.
"Ya udah mas, saya permisi dulu. " Pamit Bintang.
"Elo udah mau pulang?. "
"Eh, tunggu gue antarn elo pulang, gue ganti baju bentar.. " Ucap Bumi lalu menghilang masuk ke kamarnya.
Bintang berjalan ke arah pintu tanpa menghiraukan ucapan Bumi barusan, Bintang keluar dari Apartement itu dengan perasaan yang bimbang.
"Huuuhhhh" .Bintang membuang nafas berat.
Bintang harusnya tidak perlu menaruh harapan kepada Bumi, dari awal di antara mereka memang tidak ada kecocokan sama sekali. Bumi bagaikan langit yang tidak bisa ia gapai. Sementara dirinya hanyalah ilalang-ilalang di antara banyaknya rerumputan. Tidak ada gunanya dalam kehidupan Bumi. Ciuman???
" Ciiih. " Dengus Bintang, ingatannya kembali melayang ke beberapa hari yang lalu.
Sekali lagi Bintang menyadarkan dirinya, apalah artinya sebuah ciuman bagi seorang Bima Sakti yang kaya raya dengan penghasilan yang sangat luar biasa, sungguh sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang rakyat jelata. Bumi bisa saja mencium banyak wanita yang lain hanya untuk sekedar bersenang-senang.
Bersenang-senang? Jadi selama ini Bumi hanya menganggapnya sebagai selingan untuk bersenang-senang selagi kekasihnya berada di tempat yang jauh. Bintang seperti menyadari kebodohannya. Apalah bedanya dia dengan perempuan-perempuan di luar sana yang di bayar hanya untuk membuat senang para laki-laki hidung belang.
"Dasar si hidung belang. " Lirihnya.
Bintang kini sudah berada di lobi dan berjalan menuju ke jalan raya, menyetop sebuah angkutan umum yang lewat yang akan mengantarkan gadis itu menuju ke kosannya. Bintang masih memegang paper bag berisi celemek berwarna ungu yang di berikan Bumi tadi, entah mengapa dirinya merasa sangat kecewa.
"Huuhhhh."
Tidak lama setelah angkutan umum itu berlalu pergi, Bumi muncul dari dalam gedung Apartementnya suaranya tampak berat dengan nafas yang tidak karu-karuan. Laki-laki itu baru saja berlari.
Bumi merasakan sesuatu seperti menusuk ke dalam jantungnya, ia tiba-tiba saja merasa sangat kesepian.
###
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca. Klik like dan tinggalkan komentar kalian. Saran dan masukkan yang membangun akan sangat berguna untuk penulis kedepannya menjadi lebih baik lagi.
Author
__ADS_1
#kimel#