Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Surat Peringatan


__ADS_3

"Sekitar berapa Dok biayanya?" tanya Najma.


"Tiga juta operasinya saja, belum obat bius dan obat lainnya,"


"Oh iya, kalau gitu saya bicarakan dengan suami saya dulu, mari Mba Rinjani, makasih sudah nemani saya ngobrol tadi, assalamualaikum," ucapnya kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Waalaikumussalam," sahut Rinjani, yang ikut merasa tak enak melihat perlakuan dokter itu kepada pasiennya, mau bagaimana lagi dia hanya menjalankan perintah dokter atasannya.


Di ruang tunggu yang sudah sepi, karena sudah siang juga, pelayanan poli klinik sebagian sudah selesai, dan pasien kebanyakan antri menunggu di depan apotek untuk mendapatkan obat.


Najma duduk di depan poli bedah mulut, karena di sana sepi. Duduk termenung sendiri.. Dan dia tersadar dari lamunannya setelah seseorang menyapanya.


"Najma, kamu kok di sini? Mana Ardi? Kamu ga diantar?" tanya Yudha.


Najma melihat ke arah Yudha...


"Kak Yudha..." ucapnya dan pecahlah tangis yang ia tahan sedari tadi. Melihat seseorang yang ia kenal membuat ia ingin menumpahkan semua rasa kecewa dan gondoknya tadi.


"Lho kamu kenapa?" Yudha bingung lalu duduk di dekat Najma, namun menyisakan jarak satu bangku darinya, asisten yang bersama Yudha duduk agak menjauh dari mereka.


Najma lalu menceritakan apa yang baru ia alami.. Yudha sebagai kerabat dekatnya dan juga sebagai wakil direktur rumah sakit itu mendengar dengan sabar keluhan Najma.


"Aku uda nunggu dua jam kak, tapi dibilang alatnya rusak, dan dokternya ga mau lihat keadaan gigiku dulu, perlu tindakan apa cuma pakai obat saja, terus kalau alatnya rusak seharusnya perawatnya juga tahu dan ga nyuruh aku nunggu, dan aku disuruh ke tempat prakteknya, bukan masalah biayanya, kak Yudha tau sendiri berapa penghasilan suamiku satu bulan," Najma menumpahkan semua kekesalannya.


"Iya Najma, kamu tenang dulu minum dulu nih," ucap Yudha menyodorkan sebotol air mineral yang dibawakan asistennya tadi. Dan Najma meraihnya lalu menghabiskan setengah botol, menangis membuatnya haus.


"Anas, kamu hubungi instalasi pemeliharaan sarana, apa ada laporan kerusakan alat dari poli bedah mulut," perintah Yudha pada asistennya.


"Baik Dok," sahut Anas kemudian segera melaksanakan perintah bosnya itu.


Tak lama kemudian, Anas membisikan sesuatu pada Yudha.


"Baik, makasih Nas," ucapnya.


"Babe... kamu kenapa?" tanya Ardi yang datang karena Yudha memintanya menjemput Najma.


"Mas kok di sini?" bukannya jawab kenapanya malah balik nanya.


"Di chat sama Yudha katanya aku harus segera menjemput kamu, kamu kenapa?"


"Capek ah cerita lagi .." sahut Najma, kemudian ganti Yudha yang bercerita pada Ardi.

__ADS_1


"Ya Allah.. Babe, maafkan aku, tadi ga bisa. nemenin kamu,"


"Gapapa Mas, qodarullah, Mas udah selesai pasien polikliniknya?"


"Udah, habis sholat dhuhur tadi baca chat Yudha, langsung aku ke sini, takutnya kenapa-kenapa kamunya,"


"Aku capek, pulang yuk, mau minta jus Bu Ani lagi," pinta Najma.


"Iya, kita pulang," sahut Ardi.


"Ardi, Najma, di sini aku minta maaf ya atas kelalaian aku, ini aku anggap kelalaian aku sampai terjadi ketidaknyamanan pada pasien, jadi atas nama rumah sakit Airlangga, aku minta maaf sebesar-besarnya, dan aku akan peringatkan pegawai aku yang salah dimana, aku akan urus masalah ini sendiri, aku janji," ucap Yudha.


"Iya, kami pamit pulang dulu ya, semoga terselesaikan dengan baik," ucap Ardi kemudian meninggalkan tempat itu.


Pasien sudah keluar dari ruang poliklinik bedah mulut. Dan tidak ada lagi yang masuk, karena pasien lain sudah pulang.


Yudha bersama Anas asistennya masuk ke ruang itu untuk menyelidiki apa yang terjadi.


"Assalamualaikum," sapa Yudha dengan senyuman pada Cindy dan Rinjani yang ada di dalam.


"Waalaikumussalam," sahut mereka, mereka merasa senang dikunjungi wakil direktur rumah sakit.


"Ada yang bisa kami bantu Dok?" tanya Cindy dengan ramah.


"Pasien gagal ginjal kronik, ada tindakan pengambilan gigi bungsu," sahut Cindy.


"Untuk pasien yang sehat dan yang punya riwayat gagal ginjal apa peralatan dan tindakan berbeda untuk kasus pengambilan gigi bungsu?" tanya Yudha.


"Kalau peralatan sama, tapi tindakan mungkin yang dengan gagal ginjal lebih diperhatikan dan diobservasi terus Dok," jawab Cindy.


"Dokter ada gigi bungsu yang mengganggu juga? Mau saya periksa Dok?" tanyanya seramah mungkin karena Yudha adalah atasannya.


"Bukan, bukan saya, jadi alat-alat di sini baik-baik saja ya, tidak ada yang rusak?" tanya Yudha.


"Iya Dok, sangat baik malah," sahut Cindy dengan percaya diri.


Jawaban itu membuat Rinjani melongo, bukannya tadi bilang ke pasien rusak ya, dan ternyata baik-baik saja alatnya, Rinjani merasa Cindy berlaku tidak adil kepada pasien perempuan tadi.


Yudha melihat foto panoramic di atas meja, ia melihat nama Najma di sana. Melihat gigi bungsu Najma yang tumbuh miring, pasti sakit ini.


"Ini punya siapa?" tanya Yudha.

__ADS_1


"Punya pasien ketinggalan Dok," sahut Rinjani.


"Ini bisa juga kan tindakan di sini?" tanya Yudha sambil melihat foto itu.


"Iya Dok, bisa," sahut Cindy.


"Lalu kenapa kamu bilang pada pasien ini alatnya rusak?" tanya Yudha.


"Dhegggg..." jantung Cindy terasa mau meledak, kenapa Yudha bisa tahu hal tadi.


"Ehm itu.." Cindy kehabisan kata-kata. Ia hanya menunduk tak berani menatap Yudha.


"Dan kamu tahu siapa dia? Dan berapa waktu yang ia buang di sini untuk menunggu diperiksa, padahal ia punya bisnis besar yang ia tinggal karena ingin periksa di sini? Apa gaji kamu kurang sehingga menyuruhnya datang ke praktek mandiri kamu?" tanya Yudha.


"Ma...maaf Dok, saya tidak tahu," Cindy sampai terbata saking gemetarnya.


"Najma Burhanuddin, dia istri dokter Ardi spesialis bedah syaraf, teman sejawat kita sendiri, dan kamu pasti tahu bagaimana kedekatan saya dengan dokter Ardi," Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudha dan Ardi bersahabat dari kecil.


"Saya malu, benar-benar malu di depan mereka karena di rumah sakit saya ada pelayanan seperti ini,"


"Maaf Dok," hanya itu yang keluar dari mulut Cindy.


"Dan bukankah ini kamu waktunya jaga poliklinik? Kenapa ada di ruang operasi? Kenapa pasien sampai menunggu lama? Kalau sekarang jaga poli ya jaga, operasinya jadwalkan pas kamu tidak jaga," Yudha sedikit emosi.


"Anas, telepon komite medik, panggil semua dokter, kita rapat sore ini," ucap Yudha.


Cindy menyesal dan merutuki sikapnya tadi, sekarang ia hanya bisa pasrah akan mendapatkan hukuman apa. Salah mencari mangsa ..


.


Sore setelah Ashar, rapat komite medik digelar. Yudha sendiri yang memimpin rapat yang dihadiri seluruh dokter umum dan dokter spesialis rumah sakit itu, kecuali yang sedang berjaga di IGD.


Ia menghimbau agar para dokter tidak membedakan pasien asuransi atau bayar mandiri, juga pasien gratis, mereka punya hak dan kewajiban yang sama, dan segera melaporkan kerusakan alat pada instalasi pemeliharaan sarana agar segera diperbaiki. Dan menyerahkan surat peringatan kepada Cindy secara terpisah.


.


.


.


Maaf ya... ini hanya fiksi, tidak bermaksud menyinggung profesi manapun...

__ADS_1


Jazaakumullaahu khayran... terima kasih sudah setia menunggu tulisan othor.. love sekebon 💜💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2