Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
First Night dan Honeymoon


__ADS_3

"Kita cuma pengen tahu, seperti apa istri kamu sayang, apa lebih cantik dan sexy dari kita-kita.." ujar Stevy.


"Ternyata ini istri kamu Mas, suka banget sama yang muda-muda, boleh juga," ucap Lidya sambil mengamati Qumil.


Dokter Rendra yang sedang makan di bawah panggung bersama Helena, menggelengkan kepalanya. Tidak heran lagi, putra semata wayangnya memang suka bermain-main dengan gadis, tapi itu sudah masa lalu, dan ia sudah menjelaskan pada Qumil dan kedua orangtuanya.


Qumil menghela nafas berat, sebal sekali melihat lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu dikerumuni banyak cewek, ia hanya diam saja. 'Awas nanti di kamar ya, aku balas dengan caraku,' batin Qumil.


Para security yang dipanggil Ardi datang dan naik ke panggung pelaminan untuk menyingkirkan para gadis itu.


"Silakan kalian keluar dari aula ini," security meminta dengan lembut agar para gadis itu keluar.


"Tunggu Pak, kami belum foto sama pengantin," ucap Deara.


"Karena saudari-saudari sudah mengganggu ketertiban pesta pernikahan ini, silakan keluar atau kami panggil polisi," ucap pak security yang lainnya.


"Iya iya, kami keluar, galak amat sih," sahut Lidya.


"Bye Yudha sayang.. !!!" seru para gadis itu yang kemudian keluar dari aula.


Ardi telah kembali duduk bersama Najma untuk makan.


"Siapa sih Mas cewek-cewek itu?" tanya Najma.


"Mantan pacarnya Yudha," sahut Ardi.


"Yang mana?"


"Semuanya,"


"Hah, semuanya?? Kok bisa akur gitu ya,"


"Entahlah, yang jelas alhamdulilah Yudha udah tobat, kalau gak ya kasian Qumil kan," tutur Ardi.


"Iya sih, Mas Ardi juga punya pacar dulu?" tanya Najma.


Ardi menggeleng. "Ga ada," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Yang bener ..." goda Najma, walaupun sebenarnya dia tahu Ardi tipe anak rumahan dan kutu buku.


"Ya terserah kalau kamu gak percaya, tapi kamu pacar pertamaku, pacarannya setelah akad pula," ucap Ardi.


"Alhamdulillah kalau gitu.." ucap Najma.


"Babe.. aku sadar orang tuaku gak sekaya orang tua Yudha, jadi aku ga mau masa mudaku aku habiskan untuk hal yang tidak berguna, terus kalau aku sampai gagal, pasti papa mama kecewa, pernah sih sekali terbesit pengen lah sekali-sekali jalan sama cewek, namanya juga cowok normal ya, tapi aku ingat lagi wajah lelah papa mama yang udah bekerja keras biayai kuliahku, jadi aku sibukkan diri dengan belajar dan menghafal Al-Qur'an saja," tutur Ardi.


"Tapi kak Yudha walaupun pacaran juga bisa cumlaude kaya Mas Ardi juga ya ..."


"Dia itu ma syaa Allah, pada dasarnya memang cerdas Babe, tapi aku gak se pede itu, aku usaha dengan belajar dan berdoa, alhamdulilah bisa cumlaude juga," pungkas Ardi.


Aula sudah nampak sepi, para tamu dan sebagian keluarga sudah pulang. Qumil dan Yudha masih makan malam di meja VIP sebelah Ardi dan Najma.


"Udah malam Mas, pulang yuk, ngantuk aku," ucap Najma.


"Ardi, Ama, kami mau pulang dulu, kalian ga pulang?" tanya Hamida yang baru saja berdiri di samping mereka.


"Ah iya Ma, sebentar lagi," ucap Ardi sambil mengerlingkan sebelah matanya memberi isyarat pada Hamida, Hamida tersenyum mengerti.


"Kita pulang juga yuk," ajak Najma lagi karena tadi terpotong pembicaraan mereka.


"Oke, kita pamit pengantin sama orang tuanya dulu," ucap Ardi, dan mereka pun berpamitan kepada kedua mempelai, juga papa mama Yudha dan ayah ibu Qumil.


Ardi menggandeng Najma keluar dari aula itu, kemudian mereka masuk lift. Mobil mereka terparkir di basemen, namun Ardi memencet lantai sepuluh.


"Mas kita mau kemana?" tanya Najma.


"Surprise... kita juga pengantin baru sayang, jadi aku pengen nginap di sini juga sama kamu, pengantin yang tadi first night, kita honeymoon lagi," sahut Ardi yang tersenyum menggoda Najma.


"Serius Mas? Kita ga bawa apapun, kan sore tadi udah dipulangkan,"


"Udah tenang aja, kenapa sih panik, kan di kamar juga ga butuh baju juga, besok pulangnya masih bisa pakai ini," ucap Ardi santai sambil menunjuk pakaian yang mereka kenakan.


Ardi membuka pintu dengan kartu setelah sampai di depan kamar mereka. Sebuah suite room yang indah, dengan balkon menyajikan pemandangan malam kota dari lantai sepuluh. Dan ternyata Ardi telah menyiapkan koper mereka di dalam kamar itu.


"Mas..." panggil Najma manja Ardi.

__ADS_1


"Kamu suka?" tanya Ardi setelah mereka masuk.


"Hmm iya, tapi kalau boleh jujur, aku sangat capek malam ini, tapi aku akan lakukan yang terbaik semampuku," ucap Najma.


"Kita mandi dulu.." ucap Ardi.


Setelah mandi air hangat dan berganti baju, mereka duduk di atas tempat tidur. Najma telah siap dengan senyuman yang manis, yang menyejukkan pandangan Ardi.


"Babe, malam ini kita tidur dengan nyaman aja,"


"Lho Mas, kenapa? Ngapain sewa kamar mahal gini kalau cuma pengen tidur nyenyak, di rumah juga bisa,"


Ardi membelai lembut rambut panjang Najma yang hitam legam.


"Iya, malam ini kita tidur aja, besok setelah subuh kamu siap-siap ya, yuk bobok sini," ucap Ardi sambil berbaring dan mempersilahkan Najma tidur dengan nyaman di sampingnya.


Sementara di kamar presidensial suite room, satu lantai di atas kamar Ardi dan Najma. Qumil dan Yudha juga tengah bersiap untuk pertama kalinya mereka bersama dalam satu kamar, karena telah sah menjadi suami istri.


Karena kejadian tadi dia aula, Qumil merasa sebal dengan Yudha. Meskipun dia telah berkomitmen untuk menerima apapun masa lalu Yudha, tapi tak disangka akan ada kejadian seperti tadi.


Yudha yang telah mandi dan berganti pakaian, tengah duduk santai di ruang tamu menunggu Qumil yang masih di kamar mandi. Tak lama kemudian Qumil keluar dari kamar mandi. Dan duduk di sofa yang sama dengan Yudha, namun memberi jarak antara mereka.


"Kenapa masih pakai jilbab Dek? Aku kan suami kamu, aku berhak melihatmu," ucap Yudha.


"Maafin aku Mas, aku gak bisa," ucap Qumil, kemudian dia menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lho kenapa?" tanya Yudha. Qumil tidak menjawab, hanya menangis. Yudha menepuk pundak Qumil dengan perlahan, dengan sabar menunggu Qumil hingga tenang.


Perlahan Qumil tenang, Yudha memberinya minum dan Qumil mulai bicara.


"Aku sudah mengetahui bagaimana ceritamu dulu, banyak pacar, suka gonta-ganti pacar, aku juga sebenarnya dulu waktu menerima Mas, aku juga terima masa lalu Mas, tapi dengan hadirnya mereka tadi, aku jadi bertanya-tanya, berapa gadis yang pernah berhubungan denganmu? Yang mana saja? Dan mereka terlihat cantik-cantik,"


"Berhubungan?" tanya Yudha. Qumil mengangguk.


"Semuanya pernah berhubungan denganku," sahut Yudha.


"Lalu kenapa tidak bertanggung jawab dan menikahi mereka?"

__ADS_1


__ADS_2