
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Ardi.
"Hari ini aku libur, sebenarnya pengen pulang ke rumah mama, tapi kalau melihat aku seperti ini, mama papa pasti sedih, Mas Ardi tolong antar ke apartemenku saja ya.
"Baiklah," sahut Ardi, sebenarnya ada rasa tidak nyaman di hari Ardi berduaan di mobil dengan wanita yang bukan mahram, apalagi pakaian dokter Sabrina ini terlalu terbuka baginya, atasan tanpa lengan dan rok di atas lutut, membuat Ardi banyak-banyak beristighfar. Tapi meninggalkan dokter Sabrina di jalanan, Ardi tidak bisa melakukan itu, ia menyetir saja dan secepatnya membawa dokter Sabrina ke apartemennya.
Ardi menepikan mobilnya ketika sampai di pelataran parkir apartemen dokter Sabrina.
"Mas Ardi, bisa antar ke parkiran basemen? Mobilku di sana, aku mau ambil dokumen pekerjaan di sana," pinta dokter Sabrina.
"Baiklah," Ardi menyetujuinya berharap agar urusan dengan dokter Sabrina hari ini cepat selesai, dan dia bisa segera kembali ke rumah sakit.
Ardi memarkirkan mobilnya di sebelah mobil dokter Sabrina.
"Turunlah Brin, aku harus segera kembali ke rumah sakit," ucap Ardi.
"Sebentar Mas, temani aku ke atas, aku masih sangat sedih dengan kejadian tadi, aku ga nyangka sama sekali dokter Aldo bisa berbuat sekejam itu kepadaku," dokter Sabrina memegang siku Ardi, walaupun masih terlapisi oleh jasnya, namun Ardi merasa risih. Ardi terdiam sejenak, rasa iba menyelimuti hatinya, namun ia segera tersadar rupanya dokter Sabrina telah memanfaatkan kesempatan untuk menggodanya.
"Pliss Mas...temani aku naik yaa..hmm.." ucap dokter Sabrina manja, dan tangannya mulai meraba paha Ardi yang berotot.
"Sudah cukup Brin!!! Aku tidak bisa, turunlah!" Ardi mulai emosi dengan dokter Sabrina.
"Aku tahu Mas Ardi juga menginginkan hal itu...naiklah bersamaku, aku akan membuat mas Ardi bahagia...hmm," Dokter Sabrina tak urung niat.
"Cukup Sabrina!!!" Ardi mendorong tangan dokter Sabrina, dan keluar dari mobilnya. Dia sudah tidak memperdulikan mobilnya, dan memilih pergi dari sana begitu saja.
.
.
Sore harinya, Najma dan anak-anaknya pulang ke rumah, ia menyetir sendiri mobil yang dibelikan Ardi ketika baru menikah dahulu, mobil kecil itu tetap bersih dan terawat karena Ardi juga ikut merawat mobil itu.
__ADS_1
Akbar duduk di kursi depan sebelah Najma, baby Icha duduk di car seat dengan Bu Tami di bangku belakang.
"Umma," panggil Akbar.
"Apa sayang?" sahut Najma.
"Baba Umma, Baba, main sama Baba," celoteh Akbar.
"Abang Akbar mau main sama Baba?" tanya Najma.
"Em," sahut Akbar dengan mengangguk.
"Baba masih kerja sayang, nanti pulangnya malam, besok saja ya mainnya sama Baba, nanti main sama Umma saja ya," dengan lembut Najma memberi Akbar pengertian.
"Iya, Baba keja (kerja)," Akbar sangat sayang dan dekat dengan Ardi, namun ia juga bisa diberi pengertian mana kala Ardi sibuk dan tidak bisa menemaninya bermain.
"Sudah sampai, kita turun yaa, habis ini kita mandi," ucap Najma.
Akbar pun menurut untuk mandi, baby Icha juga dimandikan oleh Najma sendiri, Bu Tami hanya membantu menyiapkan air dan perlengkapan mandi.
"Main?" tanya Akbar.
"Iya, sayang, abang Akbar dan adik Ichamain ke rumah Mba Salma ya," ucap Najma. Akbar melompat kegirangan, dia juga sangat suka diajak bermain di rumah mas Arya dan Mba Sarah.
"Baik Mba," sahut Bu Tami yang mendorong baby Icha pada kereta bayi dan menggandeng Akbar dengan satu tangan lainnya.
Najma merasa cukup lelah, setelah bekerja seharian, sekaligus mengasuh kedua anaknya, walaupun sudah dibantu Bu Tami, namun masih saja pundaknya merasa pegal.
"Kapan-kapan aku pengen ke spa ah... sekarang mandi berendam air hangat saja dulu," ucapnya sendiri. Ia kembali ke kamar, menyandarkan tubuhnya ke belakang pintu dan memandang seluruh kamar yang selalu tertata rapi itu. Menikah dengan Ardi membuatnya ikut menjadi rajin bersih-bersih, karena Ardi sangat suka kerapian.
"Mas Ardi.... Biasanya jam segini sudah pulang bersama, memandikan anak-anak bersama, dan setelah itu ...mandi bersama...hihihi," Najma jadi tersenyum sendiri ketika mengingat semuanya. Tapi kini kamar itu sepi, hanya dirinya seorang.
__ADS_1
Najma beranjak ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam bathtub berisi air hangat, menyalakan lilin aroma terapi, dan memakai sabun dengan wangi yang menenangkan.
"Mas Ardi lagi ngapain ya, pasti sibuk belajar kasus operasi untuk nanti malam, kenapa aku sudah sangat merindukannya ya..sudah makan atau belum ya, ah aku masakin saja buat persiapannya operasi nanti," gumamnya.
Setelah mandi berendam air hangat, badan Najma terasa lebih segar, dan dia jadi bersemangat menyiapkan makan malam untuk Ardi.
Najma memasak ayam lada hitam dan tumis sayuran. Rencananya ia akan langsung antarkan ke rumah sakit dan memberikan kejutan pada Ardi.
Najma mencicipi sedikit masakannya.
"Emm, menurutku cukup enak," gumamnya.
"Aku yang tidak begitu pandai memasak, namun mengapa ya, Mas Ardi selalu memakan dan menghabiskan makanan yang aku buat untuknya," gumamnya sendiri.
Setelah selesai memasak, ia sholat Maghrib, dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Najma memakai gamis berwarna navy dengan jilbab dan cadar bandana poni warna senada.
Ia sangat bersemangat seperti akan menemui pacar yang sudah lama tak bertemu, padahal juga baru tadi siang mereka bertemu.
"Bu Tami, saya ke rumah sakit dulu ya, antar makan malam buat mas Ardi, titip anak-anak ya," pamit Najma pada Bu Tami melalui panggilan telepon.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit umum, karena lalu lintas petang ini tidak seramai siang hari tadi.
Najma telah sampai di ruang istirahat Ardi, ruangan itu kosong, namun pintu kamar mandi tertutup dan terlihat dari angin-angin jika lampu di dalam kamar mandi menyala.
"Mungkin mas Ardi masih di kamar mandi," gumam Najma, ia duduk saja di sofa dan meletakkan tas berisi bekal makan malam di atas meja.
Lima menit berlalu...
"Ceklek..." pintu kamar mandi terbuka, dan betapa terkejutnya Najma karena yang keluar dari kamar mandi bukan suaminya.
__ADS_1
"Lana...!" ucap Najma.
"Ama...!" pria itupun tak kalah terkejutnya.