
"Assalamualaikum," sapa Ardi dan Najma sesampainya di kediaman keluarga Rahman dan Hamida.
"Waalaikumussalam," sahut Hamida di pintu dapur yang berbatasan langsung dengan garasi rumah, rupanya ia telah menunggu kedatangan keluarga kecil Ardi yang telah memberi kabar dahulu bahwa mereka akan menginap.
Fifi membawa tas perlengkapan baby A, sedangkan Ardi membawa koper berisi beberapa pakaiannya dan pakaian Najma, ia hanya membawa beberapa karena masih banyak juga pakaian mereka di rumah itu. Dan baby A tengah terlelap dalam dekapan sang Umma, Najma.
Najma dan Ardi bergantian mencium punggung tangan Hamida dan cipika-cipiki.
"Sehat Ma?" tanya Ardi.
"Alhamdulillah, berkat doa kalian," jawab Hamida.
"Mama ga ke kantor?" tanya Najma.
"Tadi Mama pulang duluan begitu Ardi kasih kabar kalau cucu gembul Oma mau datang, sini-sini Oma gendong," sahut Hamida yang mengambil baby A dari gendongan Najma.
"Ini siapa?" tanya Hamida setelah melihat Fifi.
"Oh iya, ini Fifi yang bantuin saya ngasuh Akbar, kenalin Fi, ini mamanya mas Ardi," ucap Najma memperkenalkan Fifi kepada ibu mertuanya.
Fifi kemudian bersalaman dengan Hamida. Melihat Hamida yang sangat menyayangi Najma, ia juga pengen suatu saat punya mertua yang menyayanginya.
"Yuk masuk semuanya, udah makan belum? Kalau belum biar Bu Marni siapkan makan," tanya Hamida.
"Sudah Bu, tadi sudah makan, Bu Ani juga masak," sahut Najma.
Setelah menaruh koper ke kamarnya, Ardi kembali turun ke ruang tengah dimana Hamida, Najma, juga Fifi bermain bersama baby A.
"Ma aku mau ke rumah sakit, titip istri dan anakku ya," pamit Ardi.
"Iya Ar, semangat kerjanya, jangan khawatirkan mereka, in syaa Allah aman di sini," ucap Hamida. Ardi tersenyum dan mencium punggung tangan mamanya.
"Berangkat sekarang Mas?" tanya Najma seraya berdiri dan menggandeng lengan Ardi.
"He em, iya Babe," sahut Ardi, mereka kemudian berjalan menuju pintu dapur dekat garasi.
"Mas, bentar," ucap Najma yang tiba-tiba memeluk Ardi, menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang menjadi candunya.
__ADS_1
Ardi tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia membelai punggung Najma dan menciumi wajah istrinya.
"Rasanya aku ga mau pisah Mas, pengen peluk terus," ucap Najma.
"Sabar dulu ya babe, ada pasien yang butuh pertolonganku, nanti aku usahakan cepat selesai operasinya, kamu doakan biar lancar semuanya, I love you so much Babe..." ucap Ardi.
Dengan berat hati, Najma lepaskan pelukan hangat itu, kemudian mencium punggung tangan Ardi dengan khidmat. Membelai kedua pipi Ardi, dan mendoakannya. Ardi pun berangkat dengan tenang, menitipkan istri dan anaknya kepada mamanya.
Setelah mobil Ardi tak terlihat, Najma kembali ke dalam.
"Gimana kehamilan kamu Ama? Ada keluhan?" tanya Hamida.
"Tadi pagi mual aja Ma, terus pengennya dekat terus sama mas Ardi, ga tau deh kalau mual itu, bau bajunya mas Ardi itu ga jadi mual, aneh ya Ma,"
"Emang biasanya kamu ga suka baunya Ardi?" tanya Hamida.
"Ya suka tapi ga separah ini, hihihi,"
"Bawaan hamil itu macam-macam, ada yang ga suka bau parfum, ga suka sama suami, pengen makan ini makan itu, kamu pengen makan apa Ama?"
"Belum pengen, cuman kangen masakan mama dan Bu Marni," sahut Najma.
"Apa aja Ma, kalau Mba Sarah juga kaya aku Ma hamilnya?" tanya Najma.
"Kalau Sarah sih pas hamil Salma, ga mau didekati Arya, langsung muntah begitu lihat Arya, duh kasian banget Arya waktu itu, sampai tujuh bulan baru bisa didekati, kalau hamil yang ini dia sama kaya kamu, pengen dekat terus sama Arya, beruntung Arya kerjanya bebas, karena dia bosnya, tapi Ardi...terikat dengan rumah sakit, karena dia juga satu-satunya dokter spesialis bedah syaraf di kota ini, pasti kamu kesulitan ya sayang..."
"Iya sih Ma, tapi In syaa Allah aku bisa sabar kok, bangga dan senang juga, mas Ardi bisa jadi orang yang dibutuhkan banyak orang," ucap Najma.
Sementara Fifi hanya terdiam mendengar mereka berdua berinteraksi, ada rasa iri dan cemburu pada Najma, itu pasti... bersuamikan Ardi yang seorang dokter spesialis, yang tampan, keluarganya berada, orang tuanya baik, pasti jadi idaman semua wanita. 'Andai saja, aku kenal lebih dahulu dengan pak Ardi, andai saja mereka belum menikah ...' batin Fifi berandai-andai.
"Fi .." panggil Najma.
"Ah...iya Mba ada apa?" tanya Fifi tersadar dari lamunannya.
"Kamu nglamunin apa?" tanya Najma yang sedari tadi memanggil Fifi.
"Nggak Mba, cuman kepikiran motor saya ada di rumah Mba Najma, nanti pulangnya gimana.." jawab Fifi berbohong.
__ADS_1
"Kam naik taksi aja, saya kasih ongkos nanti, tapi besok pagi kamu mampir rumah saya ya, ambil motor sekalian bawa Bu Ani dan Dinda, biar ikut ke sini sekalian," ucap Najma.
"Oh iya Mba... tadi Mba Najma butuh sesuatu, kenapa manggil saya?" tanya Fifi.
"Iya, tolong kamu tata perlengkapan Akbar di kamar yang itu," ucap Najma sambil menunjuk kamar tamu di sebelah kamar mertuanya.
"Baik Mba," sahut Fifi yang kemudian segera melakukan perintah Najma.
.
.
Di rumah sakit...
Ardi selesai visit pasien di rumah sakit Airlangga dahulu, dan selesai waktu ashar. Ia sholat di masjid rumah sakit Airlangga, kemudian menuju rumah sakit umum untuk visit pasien juga.
Selepas sholat Maghrib iya beristirahat sebentar menunggu waktu isya sambil mempelajari kasus pasien yang akan dioperasi malam ini. Tapi tidak bisa fokus karena sangat merindukan Najma.
"Najma sedang apa ya? Apa aku telpon aja ya..." gumam Ardi. Kemudian ia meraih ponsel di mejanya dan menelpon Najma. Namun yang dituju sedang nada sibuk.
"Telpon siapa dia... ah mungkin sedang bertelpon dengan Qumil,"
Kemudian Ardi mengirim pesan untuk Najma.
Bismillah...
Babe gimana kamu masih mual sayang? Sebentar lagi aku masuk ruang operasi, kamu dan Akbar baik-baik di sana, kalau ada apa-apa bilang Mama aja..
semoga operasinya lancar dan cepat selesai, biar aku cepat pulang, sudah kangen kamu dan Akbar... I love you honey...
Adzan isya sudah terdengar, ia bergegas menuju masjid rumah sakit untuk sholat berjamaah. Kemudian bersiap untuk memimpin operasi malam ini.
Dan sementara Najma, seperti dugaan Ardi sedang bertelpon dengan sahabatnya Qumil.
"Aku seneng banget waktu mas Yudha bilang kamu hamil, gimana rasanya Ama?" tanya Qumil.
"Ya ga ada perubahan yang banyak, cuma kalau pagi suka mual, kamu udah ada tanda-tanda?" tanya Najma balik.
__ADS_1
"Tanda-tanda apa? Hamil? Aku sekarang ga tinggal serumah dengan mas Yudha," sahut Qumil lesu.
"Loh kenapa Mil??"