Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Ikutan Ngilu


__ADS_3

Malam harinya, papa, mama, Arya, dan Sarah datang menjenguk Najma. Mereka sangat bersyukur dan bahagia Najma telah bangun.


"Najma, terima kasih kamu sudah bangun Nak, mama bahagia juga bersyukur," ucap Hamida.


"Iya Ama, papa juga senang kamu bangun, papa ga tega lihat Ardi begitu sedih dengan kondisi kamu waktu itu," kata Rahman.


"Iya Ama, aku juga sempat takut, karena aku sendiri yang membelah perutmu dan mengeluarkan bayi kamu, sekarang gimana? Ada keluhan?" tanya Sarah.


"Ehm, masih nyeri sih di bawah perut," sahut Najma.


"Oh jahitannya, bentar aku periksa, papa sama mas Arya keluar dulu dong, mau lihat jahitan Najma," pinta Sarah. Papa dan Arya segera keluar dari ruang rawat VIP itu.


Sarah membuka bagian perut Najma, sang mama sudah menyingkir karena merasa tidak tega melihat luka Najma. Ardi yang baru keluar dari kamar mandi, kumisnya sudah dicukur dan jenggotnya sudah di rapikan.


"Mas, Mas Ardi ganteng banget sih, ma syaa Allah," sambil meringis menahan sakit, sempat-sempatnya ia memuji ketampanan suaminya.


"Baru tahu ya," balas Ardi.

__ADS_1


"Kalian itu, sini Ar, lihat," panggil Sarah memperlihatkan bekas robekan di bawah perut Najma. Ardi mendekat, dilihatnya bawah perut Najma, bekas sobekan yang terjahit rapi, namun membuatnya sakit, Ardi seakan ikut merasakan sakit, dari luka itu lahirlah putri kecil mereka, begitu berat perjuangan menjadi ibu.


"Ngapain meringis gitu?" tanya Sarah yang menyadari perubahan raut muka Ardi.


"Jahitannya jelek ya?" tanya Sarah lagi.


"Bagus kok, aesthetic, ga bakal ada bekas yang menonjol nanti, tapi ngilu aja lihatnya," sahut Ardi.


"Yah kamu gimana sih Ar, gitu aja ngilu, biasanya kamu malah buka kepala orang," ucap Sarah sambil menutup luka Najma dengan plester tahan air.


"Iya sih, ya beda aja Mba, ini istri aku sendiri yang dibelah perutnya, jadi lebih gimana gitu, ngilu lihatnya," sahut Ardi sembari membelai punggung tangan Najma. Najma tersenyum sendiri melihat suaminya yang mellow.


"Iya Mba, rasanya gerah banget, pengen mandi," ucap Najma.


"Baiklah, aku tinggal dulu ya, besok pagi ada operasi lagi, mau istirahat," ucap Sarah.


"Iya, Mama juga pamit, Akbar pasti nyariin," ucap Hamida, yang selama Najma di rumah sakit ia yang menjaga Akbar.

__ADS_1


"Aku kangen banget, sama Akbar, gak bolehkah dia ke sini Mas?" tanya Najma.


"Iya, boleh, tapi sebentar ya, ga boleh terlalu lama di rumah sakit anak sekecil itu," ucap Ardi.


"Oke, besok biar mama bawa ke sini Akbar sama Bu Tami, kami pulang dulu ya, istirahat Ama, semoga cepat pulih dan cepat pulang ke rumah," pamit Hamida.


"Iya Ma, Ama juga ga sabar pengen cepat kembali ke rumah," sahut Najma.


"Babe, aku antar mereka sebentar ya, kamu ga pa pa kan aku tinggal sebentar?" tanya Ardi.


Najma tersenyum dan mengangguk mengiyakan, ia tahu Ardi mungkin jenuh berada dalam ruangan ini, biarkan suaminya menghirup udara segar di luar sana.


Najma membuka ponselnya yang beberapa hari ini tidak aktif.


"Ma syaa Allah banyak banget pesan yang masuk," gumam Najma, ia pun mulai membuka pesan satu persatu, ia tidak membalas satupun pesan yang ia terima, karena kepalanya masih sedikit pusing. Rata-rata yang mengirim pesan adalah karyawan juga rekanan rumah souvenir yang bekerja sama dengan tokonya, dan isinya semua mendoakan agar Najma cepat pulih dan sehat kembali. Najma hanya menulis status di WhatsApp nya.


"Jazaakumullaahu khayran teman-teman yang sudah mendoakan saya," itu saja, kemudian meletakkan kembali benda pipih persegi panjang itu di lemari dekat tempat tidurnya.

__ADS_1


"Tok...tok...tok..." ada yang mengetuk pintu, Najma hanya melihat ke arah pintu untuk melihat siapakah yang datang selarut ini. Agak takut juga dia, karena Ardi belum kembali juga.


"Assalamualaikum, Mba Najma, boleh saya masuk?" tanya perempuan berambut ikal itu.


__ADS_2