
Episode sebelumnya.. .
Pak Sakti segera menuntun Bumi untuk menuju ke rumah sakit tempat Shanty saat ini sedang di rawat.
Sementara di tempat lain ada Bintang yang menunggu Bumi pulang.
###
Happy Reading an Enjoy Guys.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Bumi belum juga kembali sementara Bintang sudah amat lelah bolak balik ke arah pintu menunggu laki-laki itu pulang.
Bintang sudah berkali-kali mencoba menghubunginya namun ponsel laki-laki itu seperti sengaja di matikan.
"Huhhhh." Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Bintang membentangkan kasur untuk tempat tidurnya dan berpikir untuk berbicara dengan Bumi besok pagi saja.
###
Bumi sudah seharian hingga tengah malam menemani Shanti yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Sebenarnya Bumi beberapa waktu lalu masih memiliki trauma untuk masuk ke rumah sakit, menginjakkan kaki di gerbang rumah sakit saja biasanya Bumi akan langsung merasa pusing mengingat kenangan bersama ibunya dulu.
Namun setelah Bintang masuk ke dalam hidupnya rasa sakit dan segala traumana perlahan-lahan menghilang. Tapi, sepertinya laki-laki itu belum sepenuhnya menyadari hal tersebut.
"Bumi.. " Panggil Shanti dengan suara lirih.
"Iya Shanti?. "
"Kamu gak pulang?. " Shanti memperhatikan sekelilingnya dan hanya ada Bumi yang menemaninya.
"Malam ini aku yang gantiin keluarga kamu, biar mereka istirahat dulu. " Jawab Bumi.
"Makasih yah, kamu udah mau datang, kalau kamu gak datang hari ini mungkin aku bakalan berpikir untuk mencari cara yang lain buat mati. " Shanti menangis untuk kesekian kalinya hari ini, Bumi yang menyaksikan keadaan Shanti membuat hatinya terasa sakit, namun Bumi tidak dapat kembali kepada gadis itu, karena posisinya saat ini sudah menikah dengan Bintang hingga kontraknya berakhir Bumi belum bisa kembali kepada Shanti.
"Udah gak usah nangis lagi, aku ada disini. " Ucap Bumi memegang erat tangan Shanti, namun pikirannya tiba-tiba memikirkan Bintang yang pasti sudah menunggunya pulang.
"Makasih yah Bumi, aku harap kita bisa kayak dulu lagi, ibu dan ayah aku udah cerai buat kita, jadi kita berdua bisa ngelanjutin hidup kita sama-sama, Bumi. " Ucap Shanti yang membuat Bumi merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Harusnya ia merasa senang mendengar hal itu.
"Iya Shanti. " Bumi hanya tersenyum kecil dan menggenggam tangan Shanti lebih erat.
Bumi belum siap mengatakan keadaannya kepada Shanti bahwa dirinya sudah menikah, Bumi merasa takut jika Shanti mengetahuinya, gadis itu akan berpikir untuk benar-benar mengakhiri hidupnya.
###
Bumi pulang ke Apartement nya di pagi hari dan mendapati Bintang yang sedang memasak sarapan di dapurnya.
"Mas Bumi? Dari mana aja mas kok baru pulang?. " Tanya Bintang yang menyadari Bumi sudah pulang.
__ADS_1
"Iya, semalam gue ada pertemuan sama klien. " Jawab Bumi berbohong sambil berjalan masuk ke kamarnya.
"Gak sarapan dulu mas Bumi?. " Teriak Bintang.
Namun, Bumi tidak menanggapinya.
Bintang yang melihat itu tidak terlalu ambil pusing, mungkin laki-laki itu sedang lelah dan ingin segera beristirahat.
Tidak lama kemudian Bumi keluar lagi dan terlihat sudah berganti pakaian. Bumi ikut sarapan bersama Bintang.
Hening.
"Mas Bumi. " Bintang mencoba membuka percakapan.
"Hm."
"Katanya mas Bumi kemarin ke tempat kerja Bintang?. "
"Oh iya, gue bilang elo udah keluar dari sana. "
"Hm kenapa gak bilang dulu mas sama aku?. "
"Elo mulai hari senin depan kerja sama gue. "
"Hah? Saya nggak mau mas, saya belum siap kerja di tempat mas Bumi, kenapa mas Bumi gak ngomong dulu sama saya?. " Bintang merasa heran dengan sikap laki-laki itu kepadanya, setelah menikah sikapnya jadi gampang berubah.
"Gak bisa gitu dong mas, Bumi.... "
"Bisa diam gak?. " Bumi membentak Bintang dan membuat gadis itu langsung terdiam.
Bintang langsung menyadari bahwa inilah temperamen Bumi yang asli, harusnya Bintang segera mengakhiri hubungannya dengan laki-laki itu bukannya terus-terussan pasrah menuruti kemauannya.
Bintang merasa dadanya sesak dan langsung berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu meninggalkan Bumi makan seorang diri.
Bintang merasa tidak adil, kenapa Bumi memperlakukannya seperti ini padahal pernikahan ini bukanlah keinginannya, tapi Bumi lah yang terus-terussan membuatnya terjebak dalam hubungan ini.
Air mata Bintang berjatuhan membasahi pipinya, entah mengapa ia merasa sangat sakit hati Bumi mulai mengatur hidupnya sesuka hati. Bintang tidak biasanya secengeng ini.
Sementara, disisi lain Bumi merasa bersalah juga kepada gadis itu. Bumi merasa prustasi dengan hubungan yang di buatnya sendiri sehingga ketika Bintang mengajaknya untuk berbicara entah kenapa laki-laki itu merasa ingin mengeluarkan seluruh emosinya.
Bumi segera mengejar Bintang yang sudah keluar dari Apartement nya dan mendapati gadis itu sedang menuju ke lift.
"Bintang." Teriak Bumi sambil berlari.
"Bintaaangggg."
Bintang menghentikan langkahnya dan menyadari Bumi sedang berlari menuju ke arahnya, Bintang segera mengusap air matanya jangan sampai laki-laki itu melihatnya menangis.
__ADS_1
"Aduh Bintang, elo mau kemana. " Tanya Bumi yang sudah berdiri di depan Bintang.
"Mau cari angin. " Cuek Bintang.
"Lah suaminya baru pulang kerja bukannya di temenin makan, malah di tinggalin. "
"... " Bintang hanya diam tidak menanggapi ucapan Bumi.
Bumi langsung menarik tangan Bintang untuk kembali ke Apartementnya.
"Apaan sih. " Bentak Bintang dan langsung menghemoaskan tangan Bumi.
Bumi yang menyadari bahwa Bintang sedang marah kepadanya langsung memeluk gadis itu.
"Maaf deh, gue bakalan perlakuin elo lebih baik lagi, maaf yah. " ucap Bumi terdengar tulus.
Ucapan Bumi membuat Bintang sedikit tersentuh dan pasrah saja ketika laki-laki itu memeluk erat tubuhnya. Bintang tidak mengerti perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Bintang ingin segera mengakhiri hubungannya dengan laki-laki itu namun hati kecilnya berharap Bumi akan membuka hati dan menerimanya.
Sesampainya di dalam Apartement Bumi, Bintang langsung menyuruh Bumi untuk mendengarkan ucapannya, kali ini Bintang tidak ingin laki-laki itu mengatur hidupnya.
"Aku bakalan kerja di tempat kamu, tapi dengan syarat ke depannya jangan terlalu ngatur hidup aku, karena kita punya jalan kita masing-masing setelah kontrak ini berakhir aku gak bakalan ketergantungan sama kami, jadi aku mau gaji aku dia kali lipat dari pada karyawan yang lain dan tolong selalu aktifin HP kamu di manapun dan kapanpun kamu berada. " Ucap Bintang tegas.
"Oke, ada lagi?. "
"Jadi berapa lama kontrak ini bakalan berlangsung?. "
"Sampai elo yang minta cerai. "
"Kenapa?. " Bintang mengertnyitkan alisnya.
"Gue gak pengen ngerasa bersalah kalau sampai orang tua elo tau gue yang duluan minta cerai. "
Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda ia sudah mengerti ternyata Bumi memang terpaksa melaksanakan pernikahan ini karena sudah terlanjur di ketahui oleh orang tua Bintang.
"Ok Deal. " Ucap Bintang sambil mengulurkan tangannya kepada Bumi.
"Aku berharap hubungan kita gak bakalan lama, jadi tolong cari alasan buat kita bisa segera bercerai. " Ujar Bumi yang langsung membuat Bintang merasa kecewa dan kembali sadar diri lagi, bahwa dirinya memang tidak pantas untuk Bumi.
"Ok."
Bintang Dan Bumi bersalaman menyepakati kontrak pernikahan mereka.
Bersambung...
klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah.
Terima kasih.
__ADS_1