
Sabtu malamnya mereka berkumpul di rumah Yudha, Yudha telah memesan ikan bakar, cumi asam manis, dan udang goreng tepung, dari restoran boga bahari di dekat rumahnya.
Ardi, Najma, Qumil, dan Yudha juga Arif makan bersama di taman belakang rumah. Mereka semua makan dan mengobrol dengan akrab termasuk Arif yang notabene adalah sepupu Ardi. Usia Arif, selisih dua tahun lebih muda dari Ardi, yang berarti dia sebaya dengan Yudha. Sejak lulus SMA Arif diminta ayah Ardi menjadi sopir, karena dia juga tidak mau melanjutkan kuliah.
"Makan yang banyak Rif, ga usah sungkan," ucap Yudha agar Arif tidak merasa sungkan makan bersama mereka.
"Iya Mas, makasih," sahut Arif.
"Makan yang banyak Babe, biar cepet besar," ucap Ardi sambil menggosok kepala Najma dengan gemas.
"Hmm.. iya Mas," sahut Najma sambil mengunyah makan malamnya, dia bolak-balik nambah, karena memang boga bahari kesukaannya.
"Ayo Dek, nambah," ucap Yudha yang melihat Qumil hanya makan sedikit.
Qumil hanya tersenyum dan mengangguk, Yudha merasa Qumil terlihat lain, ada apa ya...
"Kamu kurang suka masakannya? Mau aku beliin sesuatu yang lain,"
"Eh nggak kok Mas, udah ini aja aku makan," sahut Qumil buru-buru, merasa tidak enak Yudha menawarkan yang lain.
"Qumil itu jaim kali Kak, di depan calon suami, makan sedikit, biasanya kalau dimasakin kaya gini sama ibunya, nasi sebakul dihabisin," tukas Najma. Dengan segera Qumil yang duduk di samping Najma menginjak kaki Najma.
"Aaww, sakit Mil," Najma meringis kesakitan.
"Makanya jangan banyak ngomong, makan aja dengan baik," bisik Qumil dengan gemas pada Najma.
Ardi dan Yudha hanya tertawa melihat dua wanita bersahabat itu, mereka masih belia sehingga terkadang terlihat seperti anak-anak, walaupun lebih sering bersikap dewasa.
"Jadi kalian kapan nikahnya?" tanya Ardi.
"Bulan depan paling cepat," sahut Yudha yang telah menyelesaikan makan malamnya dan mencuci tangan di kran dekatnya.
"Okelah, semoga dilancarkan, dan kalau butuh bantuan, kami siap membantu," ucap Ardi yang juga mengakhiri makannya.
"Iya bro, pasti,"
__ADS_1
"Mas, Kak kok pada udahan? Masih banyak ini lauknya," ucap Najma yang melihat ketiga pria itu hendak masuk ke dalam rumah.
"Iya habisin berdua sama Qumil, kita tunggu di dalam ya," ucap Ardi.
"Yuk habiskan Mil, mas calon suami lagi ga lihat," ucap Najma setelah para pria menghilang ke dalam rumah.
"Kamu buat aku malu aja Ama, aku kan malu kalau ketahuan makan banyak," ucap Qumil sambil memenuhi kembali piringnya yang nyaris kosong.
"Halah ga usah jaim, nanti kalau sudah hidup bersama juga kebuka semua yang kamu tutupin, mending jadi diri sendiri aja Mil,"
"Gitu ya, tapi aku beneran masih malu.."
"Iya sih Mil, aku dulu juga gitu, malah takut sama mas Ardi, hihihi,"
"Suami kamu nakutin Ama?"
"Nggak sih, aku nya aja yang dideketin aja rasanya takuut banget, namanya aja juga dari ga kenal sama sekali, terus ketemu aja cuma beberapa kali, tau-tau jadi suami aja, tau-tau sekamar aja, tapi kalau dia ga ada aku suka nyariin,"
"Sekarang masih takut?"
"Aku minder banget sama kamu Ama, kayanya sudah pinter banget jadi istri, aku masih blank, harus ngapain kudu ngapain, do or don't,"
"Ya ela Mil, aku juga masih banyak belajar, ingat-ingat aja apa yang biasanya ibu kamu lakukan buat ayahmu sehari-harinya, tapi ya jangan sama persis plek ketiplek, disesuaikan juga suami kamu maunya seperti apa, yang disukai apa, yang tidak disukai apa,"
"Emang kak Ardi banyak maunya gitu..?" tanya Qumil.
"Alhamdulillah nggak, apapun yang aku masak dia makan, cuma satu pesannya dulu, selepas sholat subuh minta dibikinkan minuman, terserah minuman apapun, mau teh, kopi, susu, atau jus sekalipun, yang penting buatanku,"
"Kamu bilang dia ga suka lihat rumah kotor,"
"Nggak..nggak.. Mas Ardi itu ga pernah bilang apapun, tapi dia langsung gerak sendiri, misalnya habis tidur aku langsung mandi, ya dia yang beresin kasur dan nyapu kamar, itu bikin aku ga enak sendiri, jadi bagaimanapun aku usahakan bersih-bersih sebelum mas Ardi yang ambil alih,"
"Ooh gitu," Qumil hanya ber ooh saja.
Sementara di dalam rumah, Ardi berbincang dengan Yudha, sedangkan Arif memilih beristirahat di lantai atas.
__ADS_1
"Sudah siap beneran nih, playboy kampus insaf nih ceritanya," goda Ardi.
"Hehe, aku sudah ga muda lagi Ar, iri banget lihat kamu sama Najma, kalian kelihatan bahagia banget, capek juga sama cewek-cewek itu, ngabisin duit aku doang,"
"Bukannya kamu juga senang-senang sama mereka?" tanya Ardi.
"Ga ada Ar, paling buat temenin makan, ajak jalan, belanjain dia, udah gitu doang,"
"Beneran gitu doang? Ga pernah tidur bareng?" tanya Ardi dengan berbisik agar tidak ada yang mendengar mereka.
"No, ga pernah Ar, takut aku," sahut Yudha.
"Takut apa?"
"Dosa lah, lagian aku harus menjaga nama baik keluarga aku, misal nih kalau aku pernah sekali lakuin hal itu sama satu cewek ya, terus aku ga tau dia juga kaya gitu sama cowok lain, tau-tau dia hamil, ngakunya anak aku, padahal bukan, pusing kan.. makanya meskipun aku terkenal playboy, tapi aku masih perjaka dong,"
"Wiih keren ma syaa Allah, salut aku bro," ucap Ardi.
Pembicaraan mereka terhenti karena melihat Najma dan Qumil masuk dari pintu belakang membawa setumpuk piring dan alat makan bekas makan malam mereka.
"Eh taruh situ aja, biarin ntar aku yang beresin," ucap Yudha seraya berdiri dari sofa ruang tengah menuju dapur dimana Najma dan Qumil meletakkan piring-piring itu.
"Ga papa Kak, ini biar sekalian calon nyonya rumah terbiasa," ucap Najma.
"Apa sih Ama..." gumam Qumil. Sedangkan Yudha cuma mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh kalian nanti mau tinggal dimana setelah menikah?" tanya Najma.
"Rencana aku selama Dek Qumil masih kuliah ini ya di sini, kalau mau, tapi kalau kurang suka ya nanti nyari ke tempat yang lebih bagus," sahut Yudha.
"Gimana Mil? Suka?" tanya Najma lagi.
"Aku ngikut aja gimana baiknya," sahut Qumil malu-malu sambil segera menyelesaikan cucian piringnya, sedangkan Yudha kembali ke ruang tengah, dan Najma tetap di sana membantu Qumil.
Qumil Laila Ila Qalila, yang biasanya begitu cablak, bawel, suka bercanda... semenjak Yudha menyakatan niat untuk menikahinya, berubah menjadi gadis kalem yang pemalu.
__ADS_1
Netra Najma memandang sahabat kecilnya itu.. dalam hati Najma berkata.. 'Ini sementara atau Qumil sudah benar-benar berubah ya.. jadi kangen Qumil yang dulu..'