Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Tenang dan Senang


__ADS_3

Pintu ruang operasi terbuka, muncul Ardi dengan pakaian bedahnya juga cap yang menutup rambut kepalanya.


Najma dan Indra segera berdiri menghampiri Ardi.


"Mas gimana Mas?" tanya Najma.


"Nak Ardi bagaimana keadaan istri saya? Apa saya sudah boleh melihatnya?" tanya Indra.


Ardi membuka masker medisnya dan menghembuskan napas dengan berat. Najma dan Indra semakin takut dengan apa yang akan terjadi.


Ardi tersenyum pada mereka berdua, membuat keduanya bertanya-tanya ada apa di dalam sana.


"Alhamdulillah operasinya berhasil, tadi sempat drop tensinya, tapi Alhamdulillah Allah telah menolong kita, jadi om Indra dan kamu Babe, jangan khawatir ya, in syaa Allah Tante Samira akan baik-baik saja," tutur Ardi, seakan membawa angin kesejukan bagi mereka berdua-- Indra dan Najma, setelah ketegangan dan kegelisahan sedari tadi.


"Lalu apakah saya bisa melihatnya?" tanya Indra.


"Untuk sementara, Tante Samira masih perlu observasi intensif di ruang ICU, Om silakan ke sana saja, tunggu di ruang tunggu, nanti kalau butuh sesuatu om akan dipanggil oleh perawatnya," ucap Ardi.


"Baik, om segera ke sana," ucap Indra kemudian pergi menuju ruang ICU. Najma hendak berjalan mengikuti Indra. Namun tangannya ditarik oleh Ardi hingga dia terhenti.


"Kamu mau kemana?" bisik Ardi. Najma menoleh lalu menatap Ardi 'Apa?' seakan ia berkata begitu.


"Ikut aku Babe," ucap Ardi seraya menggandeng tangan Najma menuju ruang istirahatnya di lantai yang sama.


Ardi segera merebahkan dirinya di sofa setibanya mereka di ruang istirahat.


"Mas aku belum sholat.." lirih Najma sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua siang.


"Apa? Ya kamu sholat di sini, itu sajadahnya di lemari," ucap Ardi.


"Mas udah?" tanya Najma.


"Udah, tadi di ruang operasi, setelah Tante Samira keluar dari kamar operasi, observasi di ruang pulih sadar sebentar, aku ambil waktu sholat di ruang dokter di sana," sahut Ardi.

__ADS_1


Najma kemudian mengambil wudhu di kamar mandi dalam ruangan itu, dan mendirikan sholat dhuhur.


Ardi pergi ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, bisa menyegarkan tubuh dan pikirannya setelah memimpin operasi. Sesudahnya ia keluar kamar mandi mendapati istrinya sedang melakukan panggilan video dengan mamanya.


"Itu Mas Ardi udah keluar Ma, sini Mas, tuh Akbar melek matanya," panggil Najma dengan semangat, pasalnya dia sudah sangat menyayangi Akbar, dan sangat rindu walau baru sebentar berpisah.


Ardi duduk di sebelah Najma, ikut masuk dalam layar ponsel Najma.


"Akbar ..sayang ini Baba..." ucap Najma. Ardi hanya tersenyum.


"Dia belum bisa jelas melihat Babe," ucap Ardi.


"Tapi dia bisa mendengar, ayo panggil dia..." pinta Najma.


"Akbar, ini Baba nak, yang pinter ya sama Oma di rumah," ucap Ardi, baby A pun mengedipkan matanya beberapa kali, sehingga terlihat imut sekali.


"Hi hi ma syaa Allah lucu kamu tuh," ucap Najma kegemasan.


"Gimana keadaan Tante kamu?" tanya Hamida.


"Alhamdulillah, ini Akbar kaya nya pup, bau nih, mama tutup dulu ya, mau ganti popoknya," ucap Hamida menyudahi.


Najma meletakkan ponselnya di meja dan ikut menyandarkan punggungnya di samping Ardi. Tersenyum lebar... itu yang nampak pada wajah mereka, walaupun harus terus berdoa akan keselamatan Samira, namun mereka berdua optimis keadaannya segera membaik. Dan mereka masih seperti bermimpi mendapatkan buah hati, tanpa disangka sama sekali...


.


.


.


Malam itu hujan deras... kilat dan petir bersahutan. Najma berdiri di belakang pintu kaca yang terhubung dengan balkon kamar Ardi. Ia tetiba teringat kedua orangtuanya yang telah tiada.


'Ayaah...Ibuu .... Ama rindu...rinduuu sekali,' batinnya.

__ADS_1


Dan ia terkejut ada dua tangan hangat yang memeluknya dari belakang.


"Mas..." ucapnya.


"Kamu mikirin apa?" tanya Ardi seraya menciumi pipi Najma dari belakang.


"Nggak ada, cuma lagi kangen sama ayah ibu," sahut Najma yang tidak mengalihkan pandangannya, masih terpaku melihat malam gelap disertai hujan lebat.


"Kalau rindu kirimkan doa... itu yang sangat beliau berdua butuhkan di alam sana ..doa dari anak sholihanya...," tutur Ardi.


"Iya Mas, in syaa Allah, selalu," sahut Najma.


"Akbar mana? Tadi waktu aku mau masuk kamar mandi, kamu bilang mau turun ambil Akbar," tanya Ardi.


"Udah bobok sama mama papa, aku bawa naik ga boleh, katanya biar kita bisa istirahat dengan nyaman, karena seharian sudah capek di rumah sakit," jawab Najma.


"Kamu sedih ga bisa tidur sama Akbar?" tanya Ardi.


"Ga juga sih Mas, aku merasa tenang kalau Akbar sama mama, beliau lebih berpengalaman dari pada kita, dan lagi.... jujur malam ini aku capek banget," sahut Ardi.


"Baiklah, kita istirahat saja malam ini.. yuk tidur, besok pagi waktunya ketemu pasien poli klinik," ucap Ardi sambil memapah kedua pundak Najma menuju tempat tidur mereka. Masing-masing membaringkan tubuhnya.


"Mas..." panggil Najma.


"Hmm..." sahut Ardi sambil terpejam.


"Jangan malam ini Babe, mas capek banget," lanjut Ardi.


"Ih...dikira aku minta jatah gitu??"


"Emang mau apa manggil gitu?" tanya Ardi.


"Aku mau tidur hadap Mas Ardi, aku mau peluk semalaman," ucap Najma seraya memutar tubuhnya menghadap Ardi, lalu memeluknya dari samping.

__ADS_1


Memeluk mas dokter gagah itu sampai pagi menjelang....


__ADS_2