
Adzan Subuh berkumandang, Najma yang terbangun duluan segera membangunkan Ardi, namun Ardi masih tetap kukuh menenggelamkan kepalanya pada ketiak Najma dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping istri kesayangannya itu.
"Mas, ga mau ke masjid?" Najma mencoba membangunkan Ardi kembali.
"Hmmmh, iya Babe," Ardi dengan wajah yang masih sangat mengantuk dan rambut acak-acakan berjalan gontai ke kamar mandi.
Dan tidak sampai lima menit dia keluar kamar mandi sudah dengan wajah yang segar, rambut rapi dan kelihatan bersemangat.
"Hah secepat itu berubahnya, ma syaa Allah," lirih Najma.
"Apa Babe?"
"Ah nggak, ini bajunya Mas, buruan gih keburu iqamah dan Mas ga dapat sholat qabliyah," Najma segera menyodorkan kurta lengan panjang dan juga sirwalnya.
"Mas, aku pengen ikut ke masjid," ujar Najma.
"Kita belum tahu keadaan masjidnya sayang, biar Mas lihat dulu tempat wudhu dan sholat untuk perempuan tertutup atau terbuka, dan kalau ternyata tempatnya tertutup in syaa Allah next kita ke masjid sama-sama, aku ga rela kamu di dalam masjid dilihatin lelaki ajnabi/ bukan mahram," tutur Ardi.
"Iya, baik Mas, aku sholat di kamar aja,"
Setelah Ardi bersiap, kemudian ia segera pergi ke masjid yang tidak jauh dari tempat kost itu, Ardi berjalan kaki pergi dan pulang dari kost ke masjid.
Ketika Ardi pergi, Najma segera merapikan tempat tidur dan ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu. Kemudian sholat Subuh dan membaca beberapa halaman Al Quran. Setelahnya ia melipat kembali mukena dan sajadah yang ia pakai sholat, dan ke dapur lalu memasak air untuk membuat susu coklat hangat.
"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika memasuki kamar. Kali itu ia membuka pintu sendiri, dengan nomor sandi yang telah mereka ganti dari nomor sebelumnya.
"Waalaikumusalam Mas, sudah pulang, apa itu?" tanya Najma yang melihat Ardi membawa kresek plastik berisi sesuatu.
"Nasi kuning, aku beli di depan masjid, kamu mau bikin apa?" Ardi balik bertanya melihat Najma di dapur memasak air.
"Susu coklat, Mas mau kan? Aku bikin dua nih,"
"Iya, mau, nanti aja tapi, matikan kompornya,"
"Kenapa? Mas mau sarapan dulu?" tanya Najma sambil mematikan kompor menuruti permintaan suaminya.
"Iya, Mas mau sarapan," jawab Ardi sambil terus memandangi Najma yang masih memakai baju tidur mininya.
__ADS_1
"Sini aku siapin, aku pindahin ke piring ya nasi kuningnya," Najma mencoba meraih plastik di tangan Ardi, namun Ardi menjauhkannya.
"Mas, katanya mau sarapan," Najma belum ngeh apa yang diinginkan Ardi.
"Bukan sarapan nasi, Mas mau sarapan menu spesial, bernama Najma," Ardi meletakkan plastik berisi nasi itu ke meja makan dan langsung menyerang Najma, tanpa ampun, tanpa jeda.
.
.
Hingga pukul enam lebih empat puluh lima menit, mereka berdua masih meringkuk di dalam selimut. Alarm dari ponsel Ardi berbunyi, ia sengaja memasang alarm agar tidak kesiangan ke kampus.
"Babe, bangun Babe, aku ada kelas pagi," ucap Ardi yang tidak bisa beranjak, karena lengan kirinya dipakai bantal oleh Najma, dan tangan dan kaki kiri Najma memeluk tubuh Ardi bagaikan guling.
Perlahan mata Najma terbuka, mendengar suara berat lelakinya itu. Ia memandang wajah teduh lelaki di depannya dan tersenyum padanya.
"Mas, hari ini ga usah ngajar ya, mau kaya gini seharian," kata Najma.
"Oh Babe, seenak itukah sarapan kita?" tanya Ardi.
"He em, banget, ga usah ngajar ya,"
"Aku mau jalan sama Qumil Mas," ucap Najma seraya merenggangkan pelukan tangan dan menurunkan kakinya dari tubuh Ardi.
"Kamu ko ga izin dulu sama Mas,"
" Tadi pengen izin pas nanti kita sarapan, ga taunya mau nyarap yang lain, aku jadi lupa deh, boleh ya,"
"Okelah, kamu boleh pergi sama Qumil, sore sampai maghrib, habis Isya ganti aku," Ardi membuat kesepakatan.
"Oke," Najma sepakat dan melepaskan Ardi, Ardi yang tubuhnya sudah bebas segera berlari ke kamar mandi untuk segera mandi agar tidak telat mengajar.
Najma juga bangun ia meraih kimononya yang ia letakkan di kursi belajar Ardi, dan merapikan tempat tidur yang tidak karuan bentuknya, dan memunguti pakaian mereka yang tadi Ardi lepas dan lempar ke sembarang arah, lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor dekat kamar mandi.
Setelah itu ia menyiapkan sarapan dan melanjutkan membuat susu coklat hangat yang tadi sempat tertunda.
"Sudah bersih aja Babe kamarnya," ucap Ardi yang melihat tempat tidur mereka sudah tertata rapi.
__ADS_1
"Biar enak aja dilihat, Mas pergi ngajar juga dengan pemandangan indah, biar semangat ngajarnya," sahut Najma yang tengah membuka bungkusan nasi kuning dan memindahkannya ke piring
Ardi segera memakai kemeja putih bergaris silver, juga sirwal kantor berwarna abutua yang telah disiapkan Najma. Kemudian memakai sun screen dan parfum lalu menyisir rambutnya.
"Udah, jangan cakep-cakep dandannya, sarapan nasi yuk, laper banget," ajak Najma. Ardi kemudian menghampiri Najma dan duduk di kursi makan berhadapan dengan Najma.
Setelah menghabiskan sarapan dan susu coklatnya, Ardi pamit pergi mengajar. Ia memeluk dan menciumi Najma yang belum mandi, dan baru sadar Najma tidak memakai apapun dalam kimononya.
"Babe, kamu ga pake baju,"
"Iya, biar suamiku kangen aku terus dan cepat pulang," sahut Najma.
"Nakal ya kamu, wah aku harus segera pergi, sebelum benar-benar tergoda sama kamu, assalamualaikum," ucap Ardi setelah mengecup kening Najma.
"Waalaikumusalam, fii amanillah sayang," sahut Najma.
"Aamiin," jawab Ardi sebelum benar-benar menghilang dari pintu.
"Najma.. Najma, dulu aja takut banget aku deketin, sekarang ganasnya ma syaa Allah," gumam Ardi sambil tersenyum sendiri.
"Ar, pagi-pagi dah senyum-senyum sendiri, kesambet kamu bro," ucap Yudha yang ada di parkiran yang sama dengan Ardi.
"Lho, kamu tinggal di sini juga?" tanya Ardi yang heran melihat sahabatnya.
"Iya, di gedung itu," sahut Yudha sambil menunjuk ke arah gedung di seberang gedung tempat kost Ardi.
Gedung itu hanya berlantai dua, namun bukan seperti kamar kost, melainkan rumah kontrakan berlantai dua, dan ada lima unit saja berjejer di gedung itu.
Ardi melihat ke arah yang ditunjuk Yudha.
"Itu Ar, rumah paling ujung yang warna biru," Yudha memperjelas.
"Oh gitu, aku tinggal di gedung yang ini, sama Najma,"
"Sudah aku duga, mana bisa pengantin yang masih agak baru LDM ( long distance marriage ), ke kampus? Selesai jam berapa? Barengan yuk pake mobil aku,"
"Aku Ashar selesai in syaa Allah," sahut Ardi.
__ADS_1
"Aku juga, bareng aja dah, nih kamu yang nyetir," Yudha melempar kunci merci s class miliknya ke arah Ardi, dan Ardi dengan tangkas menangkapnya, kemudian mereka pergi ke kampus bersama.