
Keesokan harinya Najma duduk bosan di sofa kamar. Ia sendirian di dalam kamar hotel itu, karena setelah sarapan di restoran hotel, Ardi mengantarnya kembali ke kamar dan ditinggal ke ruang pertemuan untuk melanjutkan workshop nya.
Ia juga sudah menelpon Akbar yang bersama mama mertuanya, menelpon Qumil namun tidak bisa lama karena ada kuliah pagi, menelpon Tante Samira juga tidak bisa lama-lama karena beliau butuh istirahat.
Sungguh bosan ia rasakan, dari tadi bolak-balik duduk di sofa, berdiri pindah ke kasur, berdiri, duduk di sofa lagi. Acara tv juga membosankan, yang ada hanya acara gosip. Sebenarnya Najma ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel saja. Namun tidak berani meminta izin kepada Ardi, dia sangat tahu bagaimana sifat Ardi, bukannya diizinkan keluar yang ada malah dipelototin.
'Mas aku bosan di kamar terus, pengen nyari minuman segar,' Najma mengirim pesan pada Ardi.
Tak lama kemudian Ardi menjawab.
'Iya, sabar ya, jam makan siang Mas naik,'
Najma meletakkan ponselnya kembali...
"Tuh kan bener, kirain dibolehin beli," cicit Najma. Ia pun duduk kembali di sofa.
Dia pun mengambil Qur'an kecil dari hand bag nya, dan mulai membacanya. Ia mengaji selain mengharap pahala dari Allah, juga agar kebosanannya teralihkan, dan juga agar janin di perutnya bisa sedini mungkin mengenal Al Qur'an.
Lima belas menit berlalu....
"Tok ...tok... tok ..." ada yang mengetuk pintu.
Najma mengintip dari lubang tengah pintu, terlihat mas pegawai hotel membawa kereta makanan.
"Pasti mas Ardi yang ngirim," gumamnya.
"Tunggu sebentar ya Mas!!" ucapnya agak keras.
"Iya Bu..." sahut pegawai hotel di balik pintu.
Najma mengirim pesan pada Ardi, meminta izin membuka pintu bertemu pegawai hotel itu. Dan Ardi mengizinkan. Najma segera memakai jilbab dan cadarnya, lalu membuka pintu.
"Maaf menunggu lama Mas," ucapnya ketika membuka pintu.
"Iya Bu ndak papa, ini ada pesanan Tuan Ardi untuk Nyonya Najma," ucap pegawai hotel itu seraya mendorong kereta makan kecil ke arah Najma. Di dadanya ada papan nama juga ada tulisan "Trainee", yang menunjukkan ia adalah pegawai magang.
__ADS_1
"Ah iya Mas, makasih, ini buat Mas," Najma memberikan selembar uang biru pada pegawai hotel itu.
"Iya Bu terima kasih, permisi," pegawai hotel itu kemudian pergi.
Najma menarik kereta makan itu dan menutup pintu kembali. Ia penasaran dengan isinya dan membuka satu persatu gelas dan mangkuk bertutup itu.
"Haaah ma syaa Allah... banyak sekali isinya..."
Ada berbagai macam smoothies buah dingin, es cincau, es oyen, bahkan ada es kelapa muda. Di rak kedua ada beberapa mangkuk tertutup isinya, siomay Bandung, rujak buah, dimsum, asinan sayur, bahkan ada toppokki kesukaannya. Semua dalam porsi kecil agar Najma bisa memakan semua tanpa ada sisa karena kekenyangan.
Ia tidak lupa mengambil foto dan mengirimkan pada Ardi.
'Maaas ... jazaakallaahu khayran... love sekebon,'
'waiyyaki, habisin, biar Umma dan Icha juga senang,
Memang beberapa hari ini Najma ingin memakan itu semua, namun belum sempat ia memberi tahu Ardi.
"Dari mana Mas Ardi bisa tahu aku ingin makan ini semua, au ah kita makan aja yuk babycha," gumamnya.
Najma kemudian memakan makanan itu sedikit-sedikit, kemudian istirahat, lalu makan sedikit lagi dan istirahat, begitu ia ulangi sampai semua makanan habis.
"Ah ..kamu bergerak nak... iya kata Amma Sarah kamu harusnya mulai bergerak, ma syaa Allah, Umma senang nak, baik-baik di perut Umma ya sayang, sampai ketemu in syaa Allah lima bulan lagi," ucap Najma.
Ia kemudian duduk di tepi kasur, bersandar pada kepala dipan, dan mengantuk dan tertidur.
Pukul dua belas lebih tiga puluh menit, setelah sholat dhuhur Ardi naik ke kamarnya membawa nasi box jatah makan siangnya.
Ardi tersenyum melihat Najma yang tidur sambil duduk.
"Kok bisa sih kamu Babe..." ucap Ardi dengan pelan agar Najma tidak terbangun. Ia bermaksud membaringkan Najma agar tidurnya lebih nyaman, namun belum sampai ia menyentuh Najma, sang istri sudah membuka matanya.
"Mas Ardi..." Najma perlahan menegakkan duduknya dan langsung menyambar Ardi yang setengah berjongkok, memeluknya erat seakan sudah berpisah berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Babe... bentar, nanti aku jatuh," ucap Ardi yang sedang dalam posisi squat. Namun Najma tidak mempedulikannya. Beruntung Ardi sering olahraga jadi otot paha dan kakinya cukup kuat menahan agar dirinya tidak jatuh.
__ADS_1
Setelah puas memeluk Ardi, Najma perlahan melepaskan pelukannya.
"Aku bosen mas, pengen jalan-jalan juga," cicit Najma.
"Iya, nanti setelah Isya in syaa Allah aku ajak kamu makan di luar, terus kita jalan-jalan, kamu sudah pernah lihat suasana malam ibu kota?"
"Aku belum pernah ke kota ini," sahut Najma.
"Iya nanti In syaa Allah aku bawa kamu jalan, makan yuk, ini jatah makan siangku kubawa ke sini, aku suapin ya,"
"Yah Mas, aku udah kenyang banget, mas kirimin makanan sama es banyak banget,"
"Sudah habis semua kamu makan?"
"Masih ada es kelapa muda aku taruh kulkas, Mas minum ya, aku ambilin," Najma segera bangkit dan menuju kulkas kecil di bawah meja untuk mengambil es kelapa muda.
Ardi duduk di sofa dan membuka box nasi yang dibawanya tadi dan memakannya dengan lahap.
.
.
.
Malam harinya, selepas isya sesuai yang dijanjikan, Ardi mengajak Najma ke restoran untuk makan malam.
Ternyata mereka tidak hanya berdua, karena malam ini panitia seminar mengundang peserta untuk gathering di restoran.
"Mas, rame banget..." ucap Najma meremas lengan Ardi.
"Kenapa? Kamu ga nyaman? Tenang aja, aku sudah pesan meja sendiri kok buat kita berdua, yuk ke sana," ajak Ardi.
"Iya Mas," Najma menurut saja, sebenarnya Najma tidak keberatan jika harus satu meja dengan peserta seminar, namun kebanyakan mereka adalah praktisi medis, dan jika mereka berbincang tentang dunia kedokteran pasti Najma tidak nyambung dengan kata-kata istilah medis, maka Najma setuju dengan Ardi yang memesan meja sendiri untuk mereka berdua.
"Kamu duduk sini dulu ya, pesan aja yang kamu mau, aku mau menyapa mereka, duduk sebentar dengar pembukaannya, nanti aku ke sini lagi," ucap Ardi.
__ADS_1
"Iya Mas, santai aja, Mas nyamanin aja sama mereka, aku gapapa kok sendirian, jangan kepikiran aku," ucap Najma, ia tidak ingin Ardi merasa tidak nyaman meninggalkannya, Najma ingin sepenuhnya mendukung karir Ardi sebagai dokter spesialis bedah syaraf.
"Iya Babe, makasih," ucap Ardi sembari mengecup pucuk kepala Najma yang terbungkus jilbab.