Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Anak Mama yang Baik


__ADS_3

"Praaaanggg!!"


"Mug mas Ardi...." lirih Najma. Ia segera membersihkan pecahan mug yang ada di lantai. Kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Ardi. Takut terjadi sesuatu pada Ardi.


"Tuuut....tuuuut..." terdengar nada panggil.


"Assalamualaikum Babe," sapa Ardi di seberang sana.


"Wa waalaikumussalam Mas," Najma terbata karena gugup, namun ada rasa lega karena dengan jelas bisa mendengar suara Ardi.


"Kenapa Babe, belum ada dua jam aku tinggal, udah kangen kah?" suara Ardi membuat pipi Najma memerah.


"Mas nyampe mana ini? Lancar kan jalannya?"


"Iya Alhamdulillah lancar, ini masih di tol, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ardi balik.


"Iya Mas, ini mau sarapan, susunya udah aku minum, jazaakallaahu khayran,"


"Wa jazaakillaahu khayran sayang, ya udah sarapan gih, aku mau belajar sebentar, belajar materi di workshop nanti,"


"Iya Mas," sahut Najma kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Mba, tadi kenapa? Ada yang jatuh?" tanya Bu Ani yang keluar dari kamar baby A.


"Iya, mug bekas kopi mas Ardi jatuh Bu, Akbar mana Bu?"


"Udah tidur lagi Mba, sama Dinda di kamar, Dinda juga ngantuk," sahut Bu Ani. Najma memang mengizinkan Dinda tidur di kasur yang sama dengan Akbar, karena ia telah menganggap Bu Ani dan Dinda seperti keluarganya sendiri.


"Ah iya, saya sarapan dulu Bu, udah laper ini," ucap Najma yang segera melahap makanan yang sudah disiapkan Bu Ani di meja makan. Perlahan kegelisahannya sirna, tepatnya dia mencoba baik-baik saja, demi kewarasannya, demi janin dalam kandungannya.


Najma menghirup udara segar di kebun belakang sebelah kolam renang. Biasanya Ardi yang berjalan-jalan di sana bersama Akbar, kali ini dia sendiri.


"Kalau ga ada baru kerasa deh... Harusnya aku ikut mereka jalan-jalan di sini," gumam Najma.


"Nanti kalau baba pulang kita jalan-jalan sama-sama ya dek..." ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Kreekkk...." pintu belakang terbuka.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Sarah, rupanya Sarah yang membuka pintu pagar pembatas halaman belakang rumah mereka.


"Waalaikumussalam Mba," sahut Najma.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Sarah.


"Ini Mba, seger lihat tanaman hijau-hijau," sahut Najma.


"Ardi udah berangkat?"


"Udah Mba, dua jam an yang lalu,"


"Ini susu almond, semalam mas Arya bawain dari mall," ucap Sarah sambil menyerahkan plastik berisi beberapa botol susu almond.


"Kok banyak Mba... Mba Sarah ga minum?" Najma terheran kenapa ada lima botol yang diberikan.


"Mas Arya bawa sepuluh botol, tester dari temannya, mau nitip di restoran, aku ada lima di rumah, yang lima buat kamu,"


"Oh, makasih kalau gitu, masuk yuk Mba, kita ngobrol di dalam,"


"Oke..." Sarah kemudian mengikuti Najma masuk rumah melalui pintu dapur.


"Susu almond itu tawar Ama, bisa kamu tambah kurma atau madu biar ada rasanya,"


"Oh iya Mba," Najma kemudian menuang susu itu ke dalam gelas dan menambah sesendok madu ke dalamnya.


"Mba ga kerja?" tanya Najma.


"Aku sudah resign dari rumah sakit, fokus sama klinik aja sore hari, capek, sama mas Arya disuruh resign, ya udah istirahat dulu,"


"Iya apalagi Mba Sarah juga lagi hamil kan,"


"Iya Ama,"


"Kita ngobrol di ruang tengah yuk Mba, sambil nunggu nanti karyawan aku datang bawain laporan toko,"


Mereka berdua pun ngobrol di ruang tengah, bagaikan dua sahabat yang sama-sama sedang mengandung. Dan tak terasa waktu berlalu.

__ADS_1


Sementara di kediaman Rahman..


Rahman dan Hamida sedang bersiap ke kantor.


"Hari ini Ardi berangkat ke ibukota Ma?" tanya Rahman.


"Iya Pa, tadi dia kirim pesan, aneh sih, masa dia tanya gini ... Ma aku berangkat, ini sudah sampai bandara, nitip Najma dan anak-anakku ya, Ma aku anak mama yang baik kan?... tumben banget gitu, biasanya kalau kirim pesan cuma ma aku berangkat, ma aku ada operasi, gitu aja," ucap Hamida.


"Dia mungkin kepikiran anak dan istrinya, kali ini kan dia pergi sendiri kan, setelah menikah dia ga pernah pisah sama Najma," kata Rahman.


"Iya sih, apa nanti sore kita ke rumah Ardi ya, kangen sama Akbar aku Pa,"


"Iya, in syaa Allah kita ke sana, minta Bu Marni masak yang enak untuk mereka, Ama kesukaannya soto kuah bening, suruh bikin itu aja nanti biar diantar sopir ke sana,"


"Iya Pa, sebentar aku ke belakang, minta Bu Marni masak soto,"


.


Tangisan baby A terdengar dari kamar, dan Najma segera menghampiri bayi gembul itu dan menenangkannya. Dinda pun ikut bangun.


Sarah yang sedang sendirian di ruang tengah iseng membuka berita online dari gawainya.


Najma membawa dua balita itu ke ruang tengah. Dan bertepatan dengan itu Salma dan pengasuhnya datang ingin bermain dengan baby A dan Dinda.


"Ada Mba Salma, Akbar main sama mba Salma dan Mba Dinda di belakang ya," ucap Najma yang kemudian menyerahkan baby A kepada Bu Ani.


"Jam segini, harusnya mas Ardi sudah sampai ya Mba, kok belum ngabarin ya..." ucap Najma seraya mengambil ponselnya dari atas meja.


"Ama, ini ada kecelakaan pesawat, baru aja, Ardi naik pesawat maskapai penerbangan apa?" tanya Sarah.


"Viva air Mba, kecelakaan gimana Mba?" Najma menjadi panik.


"Jatuh di laut, tapi Viva air kan penerbangannya banyak, belum tentu juga Ardi naik yang itu,"


Najma mencoba menelpon Ardi, namun ponsel Ardi tidak aktif.


"Ponsel mas Ardi ga aktif, bentar Mba, aku yang pesan tiket pesawat via online, aku lihat dulu nomor penerbangannya, pesawat yang jatuh itu berapa nomor penerbangannya?"

__ADS_1


"Ini Ama," Sarah menunjukkan ponselnya yang sedang membuka berita online.


"Sama Mba... mas Ardi...." dan pecah tangisan Najma....


__ADS_2