Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Mencari Ardi


__ADS_3

Seorang pria tergolek tak berdaya di bed pasien ruang VVIP rumah sakit Airlangga. Lengannya ada luka gores dan pipinya juga memar.


Di samping bed itu ada seorang wanita yang dengan sabar menyeka wajah, leher dan tangan pria itu. Iya wanita itu adalah Najma dan pria yang tergolek tak sadarkan diri itu adalah Ardi.


#Flash back ...on


"Pliss Mas...temani aku naik yaa..hmm.." ucap dokter Sabrina manja, dan tangannya mulai meraba paha Ardi yang berotot.


"Sudah cukup Brin!!! Aku tidak bisa, turunlah!" Ardi mulai emosi dengan dokter Sabrina.


"Aku tahu Mas Ardi juga menginginkan hal itu...naiklah bersamaku, aku akan membuat mas Ardi bahagia...hmm," Dokter Sabrina tak urung niat.


"Cukup Sabrina!!!" Ardi mendorong tangan dokter Sabrina, dan keluar dari mobilnya. Dia sudah tidak memperdulikan mobilnya, dan memilih pergi dari sana begitu saja.


Setelah berlari keluar dari basemen, Ardi merasa pusing, mungkin karena perbedaan suhu yang tiba-tiba, setelah dingin di dalam mobil dengan panas terik matahari di pelataran apartemen itu. Mata Ardi terasa berat sehingga tidak begitu jelas melihat sekitar, dan ada ojek online yang menyerempet tubuhnya, Ardi limbung dan jatuh, tangannya tergores aspal dan pipinya menghantam bahu jalan.


Si tukang ojek online itu pun panik, namun tetap berhenti, turun dari motornya dan segera menolong Ardi yang mulai tak sadarkan diri.


"Mas bangun Mas," panggil tukang ojek itu dengan menepuk-nepuk pelan pipi Ardi. Namun tidak ada jawaban dari Ardi. Si tukang ojek itu bertambah panik.


Dokter Sabrina yang melihat kejadian itu berlari mendekati mereka.


"Mas, Mas Ardi bangun Mas," ucap dokter Sabrina yang membawa kepala Ardi di pangkuannya.


"Aduh gimana ini...apa aku bawa ke atas aja ya," lirih dokter Sabrina, dia melihat tukang ojek yang panik, timbul ide licik di kepala dokter Sabrina.


"Aku sudah rekam semua kejadian tadi, kamu yang menyerempet pacarku, aku bisa laporkan kamu ke polisi, lihat dia tak sadarkan diri, kalau sampai dia kenapa-napa, bisa masuk penjara kamu," ucap dokter Sabrina mengancam tukang ojek itu.


"Mbak tolong jangan lapor polisi Mba, saya ga sengaja tadi, masnya juga jalan ga lihat-lihat, tolong Mba lepasin saya," pinta tukang ojek itu memohon kepada dokter Sabrina.


"Enak aja, sekarang gimana ini, apa tanggung jawabmu?"


"Saya harus gimana Mba?"

__ADS_1


"Gini aja, kamu bantu bawa pacar aku ke apartemenku, lalu aku lepaskan kamu, dan kita rahasiakan kejadian ini, anggap kamu ga lakukan dan ga lihat apapun tentang ini, gimana?" tanya dokter Sabrina.


"Ba...baik Mba," ucap tukang ojek online itu, dia hanya berpikir gimana caranya biar dia tidak dilaporkan ke polisi.


Setelah sampai di apartemen dokter Sabrina. Tukang ojek itu segera pergi meninggalkan mereka berdua.


Dengan sabar dokter Sabrina merawat lengan Ardi yang tergores dan mengompres pipinya yang memar karena benturan tadi.


Lalu dia mengikat kedua tangan Ardi dan mengaitkannya dengan tempat tidur, praktis Ardi tidak bisa bergerak banyak dari situ.


Ardi mengeriyip matanya, rupanya dia sudah sadar. Dia bingung berada di ruangan yang masih asing baginya, sebuah kamar namun bukan kamarnya atau kamar lain di rumahnya, bahkan bukan juga kamar di rumah orang tuanya.


Dilihatnya dokter Sabrina yang masuk kamar membawa air minum. Ardi semakin terkejut.


"Brin, apa yang kamu lakukan? Dimana aku? Ahhh!!!" Ardi meronta kesakitan memaksa tangannya yang terikat untuk lepas, namun usahanya sia-sia.


"Ssst..." ucap dokter Sabrina yang duduk di tepi tempat tidur di samping Ardi.


"Lepaskan aku!!!"


"Jangan gila kamu Brin, cepat lepaskan aku," ucap Ardi sambil terus berusaha melepaskan ikatan di pergelangan tangannya.


"Mas Ardi kalau ga bisa tenang, dengan terpaksa aku yang akan bikin mas Ardi tenang," ucap dokter Sabrina kesal. Lalu ia mengambil obat penenang dan disuntikkan ke tubuh Ardi.


"Apa itu? Apa yang kamu masukkan ke dalam tubuhku?" tanya Ardi. Belum sempat dokter Sabrina menjawab, Ardi kembali terlelap.


"Maaf Mas Ardi, aku terpaksa melakukan ini, habisnya Mas Ardi ga kooperatif," ucap dokter Sabrina yang kemudian memeluk Ardi yang tak sadarkan diri, menciumi ceruk leher Ardi, dan menghirup dalam-dalam aroma maskulin khas tubuh Ardi. Kemudian naik menciumi seluruh wajah Ardi, dan terakhir bibir Ardi. Dokter Sabrina merasa tidak nyaman karena tidak ada balasan, ya benar saja Ardi memang tidak sadarkan diri akibat suntikan obat penenang dosis tinggi yang diberikan oleh dokter Sabrina.


Drrrrt...drrrttt.... Ponsel dokter Sabrina bergetar, membuatnya menghentikan penjelajahannya pada Ardi.


"Ih siapa sih ganggu aja, ha... Dokter Akbar??" gumam dokter Sabrina.


"Halo,"

__ADS_1


"Halo Dok, ini saya hubungi dokter Ardi ga bisa, ada operasi penting malam ini, dokter Sabrina bisa gantikan?" tanya dokter Akbar di seberang.


"Gimana ya, libur saya cuma hari ini, saya juga belum mempelajari kasusnya, gimana kalau dokter Akbar saja yang gantikan?"


"Oh begitu, baiklah kalau begitu, kalau misalnya dokter Ardi menghubungi dokter Sabrina, minta tolong kabari saya ya,"


"Baik Dok," sahut dokter Sabrina mengakhiri panggilan telepon itu.


"Hufth..."


Sampai keesokan harinya pun Ardi tetap terlelap. Dokter Sabrina pun heran kenapa Ardi belum bangun juga, padahal obat penenang yang diberikan dosisnya tidak banyak.


"Kenapa ini, mana sore nanti aku ada operasi, masa iya aku tinggal sendiri kamu Mas," dokter Sabrina menunduk, dia sebenarnya juga takut atas apa yang dilakukannya, namun yang terjadi sudah terjadi.


Sementara di rumah Ardi...


"Pah handphone mu berdering," ucap mama Hamida yang segera menyerahkan benda pipih itu pada suaminya, saat ini mama Hamida masih berbaring karena masih merasa pusing.


"Halo, assalamualaikum," sapa papa Rahman.


"Iya pak Rahman, saya Andri dari kepolisian, rekaman cctv di jalan sudah kami periksa dan kami menemukan mobil saudara Ardi, dan ponselnya kami lacak terakhir berada di area yang sama dengan tempat mobilnya ditemukan,"


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya papa Rahman.


"Bapak tenag saja, tim kami sedang menuju lokasi, dan akan mencari keberadaan saudara Ardi di sana,"


"Baiklah terima kasih, kami tunggu kabar baiknya," pungkas papa Rahman.


Tim dari kepolisian mendatangi apartemen tempat mobil Ardi terparkir, dan memeriksa rekaman cctv pada hari kejadian itu.


Dan mereka menemukan video dimana Ardi dibawa masuk oleh seorang wanita dan tukang ojek online ke dalam apartemen. Sehingga polisi tahu unitnya dimana mereka membawa Ardi masuk.


Dan Ardi berhasil ditemukan. Polisi membawa dokter Sabrina ke kantor polisi untuk diperiksa.

__ADS_1


#flash back off...


__ADS_2