Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Qumil yang Galau


__ADS_3

"Aku serius lamar kamu, kamu mau jadi istriku?" tanya Yudha pada Qumil. Qumil terbelalak menutup mulutnya.


"Ting tong.." belum sempat Qumil menjawab bel pintu berbunyi.


Yudha yang masih menunggu jawaban Qumil, dengan kesal berdiri membukakan pintu karena dia tuan rumahnya.


"Siapa sih yang datang, ga tau lagi serius apa," gumam Yudha dengan kesal.


Sementara Qumil yang masih tegang, minum seteguk air.


"Ama, ini beneran?" tanya Qumil pada Najma.


"Ya iya beneran," sahut Najma yang memegang tangan Qumil yang gemetar.


"Kok bisa dokter Yudha ngelamar aku?" Qumil mengedipkan matanya pelan beberapa kali, mencoba menyadarkan dirinya yang hampir pingsan.


Dari depan Yudha datang bersama wanita yang pernah ditemui Najma beberapa kali, namun mungkin asing bagi Qumil.


"Wah ada tamu juga rupanya, aku ganggu nih Yud, Ar apa kabar?"


"Baik, sini gabung sama kita Mei," ajak Ardi, iya rupanya yang datang adalah Meita.


"Iya makasih, tapi aku ada perlu sama Yudha sebentar, boleh ya aku ngobrol berdua dengannya?" tanya Meita.


"Iya silakan aja," sahut Ardi.


"Oke, kita ke teras belakang," ajak Yudha. Meita mengikuti Yudha ke teras belakang, melewati dapur, dan Yudha membuka jendela dan pintu dapur agar mereka juga terlihat dari dalam.


"Siapa itu Ama? Kamu kenal?" tanya Qumil.


"Meita, teman Mas Ardi dan Mas Yudha," sahut Najma.


"Cantik banget kaya artis, ma syaa Allah," ucap Qumil.


"Banget, aku dulu sempat cemburu sama dia, hihihi," bisik Najma pada Qumil.


Qumil melihat, Yudha dan Meita yang berbincang begitu akrab. Terbesit rasa sakit juga melihatnya.


"Ama, aku harus gimana? Aku jawab apa nanti?" tanya Qumil.

__ADS_1


"Lha perasaanmu gimana Mil?" tanya Ardi.


"Kalian tahu kan aku ngefans banget sama dokter Yudha, tapi ga pernah nyangka dia bakal ngelamar aku kaya gini," jawab Qumil.


"Coba dengerin hati kamu kaya gimana? Siapkah menjadi istri seorang Yudha Airlangga, seorang calon pewaris rumah sakit besar, keluarganya juga bukan orang sembarangan," Najma memberi saran.


"Tapi kenapa musti aku? Kenapa aku yang dipilih?" Qumil masih bingung.


"Ya, ini bocoran ya Mil, orangtuanya tahu foto kamu di sosmed Yudha, terus mereka tanya itu siapa, Yudha menceritakan apa adanya, dan mereka menyukaimu, itulah kenapa Yudha berani melamar mu," ucap Ardi.


"Begitulah, au ah, aku jadi pusing, aku makan aja deh, laper banget," ucap Qumil sambil melahap daging panggang di hadapannya, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


Tidak berselang lama Yudha dan Meita selesai berbincang dan kembali masuk ke dalam rumah.


"Ya itu tadi ya Yud, kabari secepatnya, aku tunggu ya," ucap Meita.


"Oke, ini syaa Allah aku kabarin," sahut Yudha.


"Oke semuanya, aku pamit ya, udah ditunggu sopir," pamit Meita.


"Ga gabung sini dulu Mei," ucap Ardi.


"Huft..." Yudha membuang napas berat lalu kembali duduk di depan Qumil.


"Meita ngapain Yud nyari kamu?" tanya Ardi.


"Biasa proposal kerja sama rumah sakit," sahut Yudha.


"Jadi gimana tadi? Mau?" tanya Yudha sambil mengambil daging yang matang di panggangan dengan sumpit.


"Ehm.. boleh minta waktu dulu untuk berpikir dan sholat istiqoroh?" Qumil balik nanya.


"Tafadholy, silakan,"


"Minumnya habis Babe," ucap Ardi.


"Okey aku bikinin ya, temani yuk sayang," Najma sengaja mengajak Ardi ke dapur agar Qumil dan Yudha agak leluasa mengobrol, berdua, bukan berarti membiarkan mereka berkhalwat atau berduaan, karena mereka masih terlihat dari dapur tanpa sekat apapun.


"Mas Yudha tiba-tiba lamar saya, jujur saya terkejut, dan sekarang bertanya-tanya, memangnya sudah izin orangtua Mas Yudha mau lamar saya?" tanya Qumil.

__ADS_1


"Ehm, sebenarnya papa mama yang memintanya, dan akhirnya aku juga mempertimbangkan kamu untuk aku nikahi, kamu teman baik Najma, keluargamu juga sangat baik, eh bukan berarti ini semua karena Najma, tapi dari kebaikan-kebaikan keluarga kalian membantu Najma yang tidak ada hubungan darah dengan keluarga kalian, membuat aku jadi semakin yakin untuk memintamu menjadi istriku," tutur Yudha.


"Ya.. kalau begitu saya bicarakan dengan mama papa dahulu, saya minta waktu," ucap Qumil.


"Iya, silakan, tapi jangan lama-lama ya, kabari Najma saja kalau sudah ada jawaban," sahut Yudha.


"Kalau boleh tahu kenapa kita melibatkan Najma dan Kak Ardi? Tidak bisakah saya kabari Mas Yudha sendiri?" tanya Qumil.


"Anggap saja kita memulai ta'aruf dengan mereka sebagai perantara kita, aku rasa itu bukan hal yang buruk, aku ingin memulai hubungan ini dengan baik, sebisa mungkin sesuai syariah agama, maaf bukannya aku sok suci atau apa, tapi ini sangat penting untuk hidupku, aku hanya ingin memulai hubungan dengan baik dan benar," tutur Yudha.


"Oh iya saya paham, tapi sebenarnya saya masih ingin kuliah, ambil profesi apoteker, dan kalau bisa sampai bekerja," ujar Qumil.


"Iya tafadholy, silakan saja lanjutkan kuliahnya, sampai selesai, kalau mau ambil S2, aku yang biayain,"


"Bukan masalah biayanya, in syaa Allah orang tuaku masih sanggup biayain kuliahku, tapi misalkan, ini misalnya ya, kita jadi menikah, Mas Yudha dinas di sana, saya kuliah di sini, dan kuliah reguler sampai lulus tidak boleh hamil, maaf,"


"Kenapa minta maaf? Tapi bagus juga pertanyaan kamu, kamu memikirkan itu, berarti ada arah menerimaku, hehehehe," Yudha terlihat senang.


"Ha.. apa?" Qumil kurang jelas mendengarnya.


"Gini, kamu tetap boleh kuliah di sini, dan kita bertemu setiap menjelang akhir pekan seperti ini, kamu tinggal di rumah ini, kalau perlu teman aku carikan asisten rumah tangga, yah.. selama kamu kuliah kita LDM/ long distance marriage," tutur Yudha yang juga telah memikirkan hal yang sama dengan yang dikhawatirkan Qumil.


"Oh seperti itu," ucap Qumil.


"Iya, dan satu hal lagi yang penting juga untuk dipertimbangkan, seperti kamu tahu kalau papaku direktur rumah sakit Airlangga Medika, dan setelah papa pensiun in syaa Allah aku yang akan memimpin rumah sakit itu, kalau misalnya, ini misal kamu bersedia menikah denganku, aku minta tolong untuk selalu menjaga nama baik keluarga kami, bukan kami meremehkan kamu dan keluarga kamu, kami sangat menghargai kalian, dan bukan untuk menekan kamu, cuma berbuatlah seperti biasanya kamu sebaik sekarang, itu saja sudah cukup,"


.


.


.


Di atas pembaringannya, Qumil belum juga bisa memejamkan matanya. Masih jelas terlihat di angannya, bagaimana Yudha memintanya menjadi istrinya.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan..." lirihnya.


"Kalau aku terima, aku masih sangat muda, aku ingin belajar dan meniti karir dahulu, kalau aku tolak, aku akan kehilangan dia, mana dia tampan, mapan, kaya, calon pewaris rumah sakit, huft..."


Ia bangkit lalu duduk, bersandar pada sandaran tempat tidurnya.

__ADS_1


"Besok setelah acara seminar aku harus pulang, aku butuh bicara langsung sama mama papa," ucapnya, kemudian bangkit untuk mengambil wudhu dan sholat istikharah, meminta kemantapan hati atas apa yang menjadi pilihannya nanti.


__ADS_2