
Dan sementara Najma, seperti dugaan Ardi sedang bertelpon dengan sahabatnya Qumil.
"Aku seneng banget waktu mas Yudha bilang kamu hamil, gimana rasanya Ama?" tanya Qumil.
"Ya ga ada perubahan yang banyak, cuma kalau pagi suka mual, kamu udah ada tanda-tanda?" tanya Najma balik.
"Tanda-tanda apa? Hamil? Aku sekarang ga tinggal serumah dengan mas Yudha," sahut Qumil lesu.
"Kenapa Mil? Kalian bertengkar?" tanya Najma.
"Itu Ama..."
"Kenapa? Kak Yudha ngapain kamu? KDRT??"
"Ya itu, aku ada kuliah, jadi tinggal di luar kota, Mas Yudha harus kerja, jadi balik ke rumah orang tuanya, akhir pekan baru bisa ketemu, hehehe," sahut Qumil yang ternyata mengerjai Najma.
"Astaghfirullah...iya ya...kalian kan emang LDM an, xixixi telmi aku," Ucap Najma yang baru sadar.
"Apa tuh telmi?" tanya Qumil.
"Telat mikirrr ....hihihihi,"
Begitulah dua sahabat ketawa ketiwi, bercerita banyak hal. Sampai tidak terasa sudah isya. Najma mengakhiri telponnya. Dan melihat ternyata Ardi mengirim pesan padanya.
"Mas Ardi tadi telpon, kirim pesan juga, aku balas aja, walaupun mungkin baru kebaca setelah operasi.
Iya Mas, maaf tadi masih telponan sama Qumil, selamat bekerja sayang, semoga Allah beri kelancaran dan kemudahan dalam operasi nanti, love you to...
Kemudian Najma sholat isya dan makan malam bersama baby A dan mertuanya di lantai bawah.
.
.
Ardi tiba di rumah orang tuanya sekitar pukul sebelas malam. Lampu dapur masih menyala, terdengar sayup merdu lantunan ayat suci Al-Quran. Rupanya sang papa sedang mengaji di meja makan.
"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika masuk dapur, kemudian mencuci tangan di wastafel dekat pintu.
"Waalaikumussalam, Ar gimana operasinya?" tanya Rahman yang menghentikan sejenak bacaannya.
"Alhamdulillah lancar Pa, Papa kok belum tidur.."
__ADS_1
"Papa nunggu kamu pulang, Mama kamu sudah tidur sama Akbar,"
"Ehm...aku mau mandi dulu Pa, Papa segera tidur ya, istirahat Pa,"
"Iya, habis ini, satu lembar lagi Papa baca," ucap Rahman kemudian melanjutkan mengaji.
Ardi naik ke lantai atas menuju kamarnya. Terlihat istri kecilnya tertidur pulas dalam gelap, hanya menyalakan lampu tidur kecil. Ardi ingin segera mencium dan memeluknya, namun badannya terasa lengket, harus segera mandi.
Segera Ardi mandi, di bawah pancuran air hangat, membuat rileks pundaknya yang kaku karena duduk selama empat jam memimpin operasi.
Setelah itu ia berpakaian dan menyemprot tubuhnya dengan parfum kesukaan Najma. Dan benar saja, ketika Ardi menyusul menyusup dalam selimut Najma, ibu hamil itu langsung memeluknya bagai guling.
Ardi tersenyum karenanya, ia membelai rambut panjang Najma dan mengecup pucuk kepalanya, kemudian ikut terlelap bersama Najma.
.
.
Keesokan paginya setelah sarapan, mereka bersiap untuk pergi. Ardi ke rumah sakit, namun sebelumnya mengantar Najma dan baby A ke toko. Hari ini dia lumayan sudah kuat, hanya mual satu kali waktu pagi, dan setelah dipeluk Ardi, mualnya hilang entah kemana.
Pekerjaan di toko juga menumpuk, laporan keuangan beberapa pekan belum ia periksa, dan banyak orderan online maupun offline.
"Iya Ris, makasih," sahut Najma. Ia mulai membuka-buka laporan berisi angka-angka itu. Tiba-tiba merasa angka itu bergerak mengumpul jadi satu, Najma merem melek berusaha menetralkan matanya. Namun yang ada semakin pusing dibuatnya.
"Ya Allah..." ucap Risma yang segera menutup buku laporan itu.
"Kenapa Mba?" tanya Fifi yang sedang menggendong baby A.
"Pusing lihat tulisan, biar aku bawa pulang aja laporan ini, aku mau kontrol anak-anak bagian produksi dulu, kamu di sini dulu ya, " ucap Najma, Fifi mengangguk, dan Najma segera ke ruang sebelah bagian produksi.
"Assalamualaikum," ucap Ardi yang ternyata ada di depan pintu ruang kerja Najma ketika Najma membuka pintu.
"Waalaikumussalam, Mas.." ucap Najma yang menarik Ardi masuk ke dalam dan segera masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Hey ...kenapa Babe?" tanya Ardi sambil membelai kepala Najma dan turun ke punggungnya yang tertutup jilbab lebar.
Fifi yang sedang memberi susu pada baby A di dalam ruangan itu hanya manyun melihat kelakuan atasannya itu, mengapa ga ada yang menyadari keberadaannya... batin Fifi.
"Aku pusing lihat laporan...bentar aja peluk aku dulu..." ucap Najma.
"Iyaa... sayang," Ardi melihat Fifi tanpa sengaja.
__ADS_1
"Udah ya, kita makan dulu," ucap Ardi kemudian.
"Ada Fifi, ga enak dilihatnya..." bisik Ardi di telinga Najma. Najma segera melepaskan pelukannya, ia juga baru sadar ada Fifi di ruangan itu juga.
"Mas bawa apa?" tanya Najma.
"Katanya kamu pengen masakan mas Arya, ini aku bawakan nasi bento, ini yang punya kamu khusus dimasakin mas Arya langsung, semua karyawan juga aku bawakan tadi, udah dibagikan sama Risma," sahut Ardi.
"Whaaa makasih sayang," ucap Najma yang bergelayut di lengan Ardi.
'Manja banget sih Mba Najma, kalau aku ga ada pasti udah ngapa-ngapain mereka,' batin Fifi.
"Tapi Mas tunggu di sini sebentar ya, aku mau ngecek anak produksi dulu, sampai mana kerjanya, ada yang harus dikirim besok pesanannya," ucap Najma yang meninggalkan Ardi di ruang kerjanya.
"Ini Fi, makan siang kamu," ucap Ardi memecah keheningan.
"Ah iya Pak, sebentar lagi, nunggu dek Akbar tidur," ucap Fifi.
"Tidurin di kasur, biar aku gendong, kamu makan dulu aja," tukas Ardi yang merasa iba melihat Fifi, mengasuh bayi pasti melelahkan pikirnya.
"Oh baik Pak," Fifi tersentuh dengan perhatian Ardi, dia meletakkan baby A di atas kasur dan mengambil satu kotak nasi bento di atas meja kerja Najma dan makan di sana.
Ardi menggendong baby A, menidurkan putra angkatnya itu dengan penuh kasih sayang.
'Benar-benar hot Daddy..suami idamanku...' batin Fifi sambil memandangi Ardi. Ardi yang merasa diperhatikan Fifi, beralih memunggungi pengasuh baby A itu. Namun Fifi malah tersenyum, memandang punggung Ardi yang lebar dan gagah. Sungguh dilihat dari sisi manapun Ardi tetap mempesona.
"Mas ...." panggil Najma ketika memasuki ruangannya. Ia terkejut Fifi sudah makan siang duluan di kursi tamu meja kerjanya, dan Ardi yang menggendong baby A.
"Ssttt..." Ardi memberi isyarat jari telunjuk di mulutnya agar Najma tenang, karena baby A sudah sangat mengantuk.
Najma lalu duduk di kursi tamu sebelah Fifi dan membuka kotak makannya. Najma terdiam sejenak, menunggu Ardi selesai menidurkan baby A.
Setelah terlelap, Ardi menidurkan baby A di tempat tidur. Dan mencium pipinya yang gembul dengan sayang.
"Makan Mas," ucap Najma. Ardi tersenyum dan duduk di kursi kerja Najma.
"Kamu ga makan?" tanya Ardi yang melihat kotak makan Najma masih utuh.
"Tetiba malas makan..." sahut Najma.
'Pasti deh dia merasa risih ada aku di sini, biarin aja, kalau aku ga di sini mereka pasti bermesraan lagi...'
__ADS_1