
Ardi selesai membersihkan diri dan menyusul Najma yang duduk di sofa sambil makan coklat, iya coklat Belgia yang diberikan Sabrina tadi di restoran.
"Mas aku nemu ini di saku kamu, maaf aku makan, baby icha lagi pengen banget makan coklat," ucap Najma yang menikmati enaknya coklat Belgia itu.
"Iya kamu makan aja babe, sudah selesai nelpon mamanya?" tanya Ardi.
"Sudah, ga bisa lama, soalnya lagi sama Akbar, nungguin Akbar lagi tidur," sahut Najma.
"Oh,"
"Ma syaa Allah enak banget, nih cobain Mas, dari mana coklat ini?"
"Kamu makan aja babe, aku udah kenyang, udah gosok gigi juga,"
"Oh, tapi dari mana?"
"Dari kolega aku, tadi dibagiin, baru pulang dari Eropa dia,"
"Bungkusnya juga lucu warna merah, kaya orang mau lamar aja pake coklat,"
Deg ... Ardi terhenyak, dia gugup seperti ketahuan, padahal itu juga bukan salah dia. Namun Najma ternyata peka, dia melihat wajah gugup Ardi.
"Rupanya iya, kamu dilamar ya? Yang mana yang lamar? Cantik ga?" Goda Najma.
"Emang boleh aku poligami?" tanya Ardi malah merasa diberi jalan, dan itu membuat Najma kecewa, tak disangka Ardi menanyakan hal itu.
Najma terdiam sejenak, mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Mas emang ada rasa juga sama dia?" tanya Najma.
"A...aku..." Ardi terbata dan akhirnya tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aku tahu, pasti ada rasa, dia dokter itu kan yang pakai baju warna putih, yang ke toilet setelah kamu," ucap Najma.
'Daebak... Najma bisa tahu juga,' batin Ardi. Dan melihat Ardi terdiam lagi, berarti benar kejadiannya.
"Wah, aku lagi hamil dan kamu minta nikah lagi, gila kamu Mas, kalau mau nikah lagi, ceraikan aku saja," ucap Najma dengan kesal melempar coklat di tangannya ke sembarang tempat dan pergi ke kamar mandi.
Di kamar mandi Najma dengan kesal membanting pintu. Ia menangis ketakutan.
'Kenapa aku ngomong gitu, bagaimana kalau mas Ardi benar-benar menceraikan aku, dan menikahi wanita itu... ah gimana nih...'
"Tok...tok ...." terdengar pintu kamar mandi diketuk dari luar, sejenak kemudian pintu berdecit terbuka sedikit, kepala Ardi masuk. Najma pura-pura cuek dan tidak peduli.
"Babe..." panggil Ardi, kemudian ikut masuk ke kamar mandi, terlihat Najma sedang menggosok gigi. Ardi dengan sabar menunggunya.
__ADS_1
"Babe, maafin aku, maaf ya," ucap Ardi ketika Najma sudah selesai kegiatannya di kamar mandi, dan mengekor mengikuti Najma yang kembali ke kasur.
"Ya Mas pikir aja, gimana aku ga sakit hati dan kecewa, aku lagi hamil anak kamu, terus kamu mikir mau nikah lagi, kejam kamu Mas,"
Ardi yang duduk di dekat Najma mencoba membujuk Najma.
"Maaf, aku akui sempat terpikir hal itu saat dia melamar ku, tapi aku sadar kembali, kalau kamu satu-satunya untukku, aku janji gak akan menduakan kamu, aku sayang kamu dan anak kita," ucap Ardi sambil mengelus perut Najma. Dan si janin mungkin merasakan ketulusan babanya.
"Gerak Mas," cicit Najma senang, ia seakan lupa apa yang terjadi tadi. Dia hanya menikmati dan mensyukuri, ada Ardi yang ikut merasakan gerakan kecil si janin dalam kandungannya.
"Hmm, baby Icha, in syaa Allah baba akan selalu ada untuk kamu dan Umma," ucap Ardi kemudian menciumi perut Najma.
.
.
.
Setelah penutupan seminar, mereka check out dari hotel. Ardi tidak melepaskan tangannya dari tangan Najma. Ia fokuskan pikirannya kembali untuk keluarga kecilnya, ia tepis semua pikiran tentang Sabrina.
"Mas aku mau minum vanila latte, boleh?" tanya Najma sesampainya di bandara.
"Iya, tapi satu bagi dua denganku ya, jangan banyak-banyak," ucap Ardi.
"Oke," Najma setuju, Ardi pun memesankan vanilla latte kesukaan Najma dan dirinya.
"Jazaakallaahu khayran Mas," ucap Najma ketika menerima minuman itu.
"Waiyyaki," sahut Ardi.
Setelah membaca bismillah, Najma menyedot minumannya.
"Hmmm, ma syaa Allah seger Mas," ucap Najma.
"Nih," merekapun bergantian minum dan masuk gate karena pesawat mereka sudah siap.
.
.
Setelah sampai di bandara tujuan, Najma dan Ardi dijemput oleh Arif sopir ayahnya sekaligus sepupunya.
Dan ketika akan masuk ke mobil, ada seseorang yang memanggil Ardi.
"Kak Ardi!!!"
__ADS_1
Ardi dan Najma menoleh dan orang itu berlari ke arah mereka.
"Kak Ardi, mau pulang?" tanya orang itu yang tak lain adalah Sabrina.
Najma hendak meninggalkan mereka, namun tangan Najma ditarik oleh Ardi, sehingga ia tidak bisa kemana-mana.
"Iya, Dok, eh iya kenalkan ini istri saya, hari itu kan belum kenalan secara langsung," ucap Ardi.
"Saya Sabrina," ucap Sabrina seraya menodongkan tangan ingin bersalaman dengan Najma.
"Najma," ucap Najma seraya membalas tangan Sabrina.
"Mas aku tunggu di mobil ya," ucap Najma yang meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobil.
"Ini tadi sama Tante Hamida saya disuruh bawakan bantal buat Mba Ama," ucap Arif dari balik kemudi, seraya menyerahkan sebuah bantal pada Najma.
"Iya makasih mas Arif," ucap Najma dengan menerima bantal itu, kemudian menaruhnya di belakang tubuhnya untuk menopang pinggang dan punggungnya yang pegal.
"Kamu mau apa Sabrina? Bukankah kemarin pembicaraan kita sudah selesai?" tanya Ardi.
"Ih galak amat sih Kak, aku mau numpang mobil kak Ardi, sopir aku ga bisa jemput," tukas Sabrina.
"Jangan ngaco kamu, kota tujuan kita beda Sabrina,"
"Ye, aku mau ke rumah kak Ardi, mau ketemu sama Tante Hamida dan om Rahman, mau bilang kalau kamu mau nikah sama aku," ucap Sabrina.
Kuping Ardi jadi panas mendengarnya..
"Ngawur kamu, udah ah sana, istriku udah nunggu di dalam," ucap Ardi menahan kemarahan.
"Nggak-nggak aku bercanda, tapi aku numpang ya, beneran ini, aku ada urusan sama dokter Ryan," ucap Sabrina.
Ardi berpikir sejenak, kemudian masuk ke dalam mobil untuk bertanya pada Najma.
"Babe, dokter Sabrina mau ikut mobil kita, dia mau ke rumah sakit umum, ada urusan sama dokter Ryan," ucap Ardi.
"Iya gapapa, barengin aja," sahut Najma.
Setelah mendapat izin dari Najma, Sabrina memasukkan kopernya ke bagasi dan duduk di kursi penumpang depan.
"Mba Najma maaf ya, aku numpang, habisnya sopir aku ga bisa jemput ke sini, istrinya mau lahiran," ucap Sabrina dengan gayanya yang selalu ceria.
"Iya gapapa, searah juga kok," ucap Najma.
"Udah Rif, berangkat yuk," ucap Ardi setelah duduk di samping Najma.
__ADS_1
"Siap Mas," ucap Arif kemudian melajukan mobil itu ke kota asal mereka yang berjarak tiga jam perjalanan dengan mobil.
"Babe, sini," ucap Ardi yang menarik Najma ke dalam pelukannya, Najma hanya menurut saja jatuh dalam pelukan hangat Ardi.