Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Memaafkan Sabrina


__ADS_3

"Babe..." lirih Ardi. Najma yang mendengarnya, langsung bangkit dari duduknya.


"Mas, Mas udah bangun, Alhamdulillah... Alhamdulillah.... Makasih Mas," ucap Najma.


Ardi masih sedikit pusing, mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Sabrina ....dimana dia?" tanya Ardi, yang dia ingat dokter Sabrina menyuntikkan sesuatu padanya, namun setelah itu Ardi tidak ingat apapun lagi.


"Ih Mas... bangun-bangun kok nanyain dokter Sabrina," gerutu Najma yang merasa kesal.


Ardi tersenyum melihat Najma yang kesal. Dan bersamaan dengan itu dokter Rahadi masuk bersama perawat laki-laki. Dokter Rahadi adalah dokter spesialis penyakit dalam yang bertanggung jawab atas perawatan Ardi selama periode ini, dan Najma memang meminta semua perawat atau petugas medis yang berhubungan langsung dengan perawatan Ardi harus laki-laki.


Najma segera memasang cadarnya dan berdiri menjauh dari bed Ardi, memberikan kesempatan pada dokter Rahadi untuk memeriksa Ardi.


"Oh, sudah sadar, sudah dari tadi?" tanya dokter Rahadi seraya memeriksa dada Ardi dengan stetoskop.


"Barusan Dok," sahut Ardi.


"Gimana sekarang? Ada keluhan?" tanya dokter Rahadi.


"Tadi sempat pusing sedikit, pas mengingat kejadian sebelumnya, saya kenapa ya Dok? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Ardi.


"Kita akan check up seluruhnya, apa ada akibat serius dari pemberian obat penenang itu, oh iya kabarnya dosisnya yang diberikan masih dalam batas normal, tapi dokter Ardi ini tidak sadarkan diri sampai dua hari, kemarin belum sempat MRI, ini nanti kita jadwalkan untuk MRI, kalau tidak ada sesuatu yang bermasalah, berarti dokter Ardi cukup sensitif dengan obat penenang itu," tutur dokter Rahadi.


"Iya, Dok, saya rasa juga begitu," sahut Ardi.


"Nah itu, anda juga seorang dokter, malah berkaitan langsung dengan ilmu sistem saraf, baiklah saya pamit duluan, kalau sudah check up semuanya, dan tidak ada masalah atau keluhan, kita observasi semalam lagi ya Dok, besok saja pulangnya," ujar dokter Rahadi.


"Baik Dok," sahut Ardi.


Dokter Rahadi bersama perawat asistennya meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Akbar sama Icha gimana? Mama gimana?" tanya Ardi.


"Mama tentu saja sangat sedih saat mas Ardi menghilang, Akbar dan Icha sekarang di rumah Mama, aku kirim asi aja buat Icha, semoga mereka ga rewel, kasian mama papa harus menjaga mereka," jawab Najma.


"Kamu gimana Babe? Pasti panik ya ga ketemu aku,"


"Ya iyalah Mas, gimana bisa coba Mas Ardi tiba-tiba aja menghilang, Alhamdulillah banyak yang bantu nyari, kolega papa, kolega mas Arya, koleganya kak Yudha, sampai dokter Rendra juga ikut bantu nyari," ucap Najma.


"Aku sudah boleh tanya?"


"Tanya apa Mas?"


"Sabrina..."


"Kamu khawatir banget sih Mas, dia sudah buat celaka Mas Ardi," lagi-lagi Najma manyun mendengar nama itu disebut.


"Ya udah, aku ga akan tanya lagi, sini deketan duduknya, biar aku bisa pegang tangan kamu," Ardi meminta Najma mendekat, dan ia memegang tangan lembut istrinya itu.


"Terus dia mau ngapain?" tanya Ardi.


"Ya dia minta maaf sama aku, sama mama, dia mohon-mohon, tolong cabut laporannya, kalau gak, karir dia bisa hancur," lanjut Najma.


"Kamu sama mama maafin dia?" tanya Ardi yang penasaran.


"Mama sebelumnya menolak, mau tetap laporin, tapi aku bilang, sudahlah Ma, toh Mas Ardi juga sudah kembali," jawab Najma.


"Terus...kok kamu mau maafin dia begitu saja sih Babe, kamu ga cinta ya sama aku,"


"Ya cintalah Mas, kalau ga cinta gimana bisa jadi anak Mas, karena dia janji bakal menjauh dari keluarga kita, dia pergi keluar negeri, ya udahlah, apapun yang terjadi yang penting Mas Ardi sudah kembali dan sekarang sudah sadar dan mulai pulih, toh kalau misalnya, nauzubillah min Zalik nih, Mas Ardi kenapa-kenapa, aku juga akan tetap lepaskan dia, bagiku kalau kita menghukum dia berarti kita sama dengan dia, dendam istilahnya, aku ga mau itu, dia dihukum juga ga akan mempengaruhi keadaan Mas Ardi kan, jadi gitu, jangan marah ya Mas," ucap Najma.


"Kenapa musti marah, aku malahan bangga sama kamu, meskipun kamu masih muda, tapi pemikiran kamu sangat dewasa," ucap Ardi.

__ADS_1


"Tok...tok .. tok..." ada yang mengetuk pintu, sejenak kemudian pintu terbuka, rupanya dokter Akbar dan perawat yang mendampingi dokter Rahadi tadi datang, membawa kursi roda.


"Assalamualaikum bang," sapa dokter Akbar.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut Ardi dan Najma. Najma segera melepaskan tangan Ardi karena malu ada orang lain di situ.


"Gimana? Masih ada keluhan?" tanya dokter Akbar.


"Ga ada, pengen cepet-cepet pulang aja, kangen anak-anak," sahut Ardi.


"Iya, cepet pulang aja, pasien bedah syaraf banyak bang, cepet sehat, bagi-bagi jadwal operasi, dan kasihan juga Ama, bingung banget pas bang Ardi menghilang," ucap dokter Akbar.


"Ama? Kalian saling kenal?" tanya Ardi yang heran, karena panggilan Ama hanya untuk orang terdekatnya.


"Iya, Kak Lana ini putranya pemilik toko mas depan toko aku, jadi kita udah kenal dari kecil, jadi kaget waktu itu, aku mau bikin kejutan ngantar makan malam buat mas Ardi, eh ketemunya malah Kak Lana, dan dia yang kasih tahu aku kalau Mas Ardi dari siang ga kembali dan ga bisa dihubungi, dia juga yang gantiin mas Ardi pimpin operasi malam itu," jawab Najma.


"Oh... Begitu, kalau gitu makasih banyak ya bro," ucap Ardi.


"Makasihnya ntar aja pas sudah sembuh bisa traktir aku makan di restoran kak Arya ya," sahut dokter Akbar.


"Sip deh, atur aja,"


"Oke, kita ke radiologi buat MRI, aku temani ya bang, yuk mas bantuin dokter Ardi pindah ke kursi roda," perintah dokter Akbar pada perawat yang dari tadi diam berdiri di sampingnya.


"Kamu di sini aja ya Babe, tunggu di kamar, nanti kalau papa atau mas Arya datang, biar ga bingung nyari," pinta Ardi.


"Baik Mas," sahut Najma.


Ardi diantar perawat dan dokter Akbar menuju ruang radiologi untuk menjalani MRI.


"Ya Allah .. semoga hasilnya baik, dan Mas Ardi bisa segera pulang, dan segera bekerja kembali," ucap Najma penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2