
Pagi itu Ardi sarapan di rumah orang tuanya. Hamida dan Rahman cukup terkejut, semenjak menikah, tidak biasanya Ardi pulang sendiri tanpa Najma, banyak pertanyaan melintas di benak mereka, apa Ardi bertengkar dengan Najma? Apa terjadi sesuatu di rumah mereka? Apa Ardi sedang marah pada Najma? .. namun Hamida juga Rahman belum berani menanyai Ardi. Karena pasti nanti Ardi akan cerita sendiri. Ardi dan Arya selalu terbuka kepada kedua orangtuanya, namun ada kalanya masalah mereka diselesaikan sendiri, apalagi menyangkut masalah rumah tangga, pasti keduanya berusaha menyelesaikan sendiri tanpa campur tangan orang lain, termasuk Hamida dan Rahman.
"Makan Ar..." ucap Hamida setelah menyajikan lontong sayur dan opor ayam di meja makan.
"Iya Ma," Ardi kemudian menyendok makanan di depannya, seperti biasa masakan mamanya selalu ia rindukan.
"Hemm.." Rahman berdehem, mencoba membuka suara.
"Najma mana? Tumben kamu sendiri," tanya Rahman.
"Ada di rumah," sahut Ardi.
"Kok ga ikut? Kalian bertengkar?" tanya Hamida. Ardi menggeleng.
"Terus.." ucap Hamida penasaran.
"Makan dulu Ma, aku laper..." sahut Ardi. Hamida dan Rahman kemudian diam dan saling pandang lalu melanjutkan makan dengan khidmat, meskipun merasa penasaran namun mereka menurut putra bungsu mereka untuk diam dan makan saja.
Setelah sarapan, Ardi mulai membuka suara.
"Kenapa sih Ma..Pa ... tegang banget, aku sama Najma ga ada bertengkar kok," ucap Ardi.
"Terus Ama mana? Kenapa menantu perempuanku itu tidak diajak kemari?" tanya Hamida.
"Najma sibuk urus bayi.." sahut Ardi.
"Bayi?? Bayi siapa Ar?" Rahman bertanya.
Kemudian Ardi menceritakan apa yang terjadi semalam, dari A sampai Z.. Bagaimana baby A bisa ada di rumah Ardi sekarang. Hamida dan Rahman hanya terdiam melihat Ardi, mereka terkejut pastinya, entah harus merasa bagaimana, apa harus senang karena kini Ardi dan Najma punya bayi yang mereka idamkan, tapi sedih juga mengingat keluarga Indra yang memperlakukan Najma dengan buruk waktu itu ...
__ADS_1
"Mama Papa tidak senang aku rawat bayi itu?" tanya Ardi setelah melihat reaksi kedua orang tuanya.
"Bu..bukan begitu Ar, kami cuma terkejut, shock, belum tahu harus bagaimana, terlebih mengingat kejadian lamaran itu, mereka sungguh kejam pada Ama," ucap Hamida.
"Ma..Pa... bayi kecil itu tidak bersalah, kalaupun ibu dan kakek neneknya pernah berlaku buruk terhadap Najma, bayi itu tidak tahu apapun, dia tidak bisa memilih mau dilahirkan oleh ibu seperti apa, dan dari keturunan siapa, terlebih bayi itu juga yatim piatu sama seperti Najma, jadi dia juga tidak ingin bayi itu merasakan kehilangan yang sangat dalam seperti Najma," tutur Ardi.
Hamida dan Rahman akhirnya mengerti, terlebih hampir setahun menikah, Najma dan Ardi juga belum ada tanda-tanda akan punya anak, pasti mereka merindukan suara tangis bayi di rumah mereka.
"Baiklah, kalau menurut kalian itu yang terbaik untuk kalian, mama papa cuma bisa mendoakan.." tutur Rahman akhirnya.
"Iya Ma, Pa, tentu saja kami selalu mengharapkan doa terbaik dari Mama Papa," ucap Ardi.
"Kamu bahagia sekarang Ar?" tanya Hamida.
"Iya .. tapi lebih ke bingung dan kaget sih, belum kebayang sama sekali, ga ada persiapan apapun, Najma juga gitu.."
"Kalau kalian mau, boleh tinggal di sini dulu sampai Najma terbiasa, mama akan senang mengajari dan mendampinginya, tapi kalau kalian lebih nyaman di rumah kalian sendiri, ya ga papa, semoga cepat terbiasa saja kalian dengan bayinya, siapa namanya?"
"Iya kalian bicarakan dulu.. kalau butuh apa aja bilang Mama, Mama juga pengen beli sesuatu buat cucu baru Mama,"
"Baik Ma, kalau gitu Ardi pamit pulang dulu Ma," sahut Ardi.
.
.
.
Ardi dan Najma dalam perjalanan pulang dari rumah sakit Airlangga, dimana mereka memeriksakan kesehatan baby A pada dokter spesialis anak yang juga teman Ardi.
__ADS_1
Tadi sebelum pulang, Najma dan Ardi juga membeli beberapa perlengkapan bayi juga kereta bayi untuk Baby A, juga car seat untuk baby A duduk di mobil Najma. Mereka belanja di lantai dasar rumah sakit Airlangga. Di lantai dasar rumah sakit itu memang sudah seperti mall, ada beberapa restoran ternama, minimarket, toko perlengkapan bayi, bahkan rencananya Arya akan menyewa tempat di sana untuk membuka cabang restoran Jepangnya.
"Mas, aku tadi belanja buah dan bahan pokok makanan, misal kita mampir ke rumah Tante Samira gimana?" tanya Najma, tentu saja ia ingin meminta izin suaminya ketika hendak menemui keluarganya.
"Iya sayang, kamu sudah siap bertemu mereka?"
"Aku juga takut sih, tapi kan ada Mas Ardi yang menemaniku, aku ingin lupakan semua masa lalu yang bikin sedih itu, aku ingin kembali merajut tali silaturahim dengan keluarga Tante Samira dan Om Indra, keluargaku satu-satunya," tutur Najma.
"Iya, aku bangga sama kamu, kamu orang baik, ma syaa Allah, dan semoga mereka sudah benar-benar berubah, menjadi baik lagi kepadamu, namun kalau mereka sampai menyakiti kamu, ingatlah kalau ada suami tampanmu ini yang selalu ada untukmu," ucap Ardi sengaja ingin membuat Najma tertawa.
"Yah narsis lagi, iya iya ... suami aku dokter Ardi Abdurahman Sholih, yang gantengnya ma syaa Allah..."
"Eh iya Beb..tadi Mama bilang, kalau kita bisa tinggal di rumah Mama sementara, biar mama bisa bantuin kita jaga baby A, tapi ya... kalau kamu mau aja, kalau kamu lebih nyaman tinggal di rumah kita aja ya ga papa," ucap Ardi menyampaikan pesan mamanya tadi pagi.
"Ha..." Najma ternganga, Ardi tidak paham dengan reaksi istrinya.
"Kenapa? Kalau kamu ga nyaman ga papa kok kita di rumah aja," ucap Ardi.
"Bukan gitu Mas, aku senang, sesenang itu, aku ga punya ibu yang ngajarin aku cara ngerawat bayi, tadi pagi waktu Mas tinggal ke rumah Mama, Akbar nangis terus, aku sampai nangis saking bingungnya, terus dia diem sendiri ketiduran, hal yang kaya gitu aku masih belum bisa, belum tahu maunya anak, jadi aku bersyukur kalau Mama minta kita tinggal di sana, tapi Bu Ani gimana?"
"Nanti kita tanya mama baiknya gimana? Makasih ya sayang, kamu udah sayang juga sama keluarga aku, aku dulu takut kalau punya istri yang ga cocok sama Mama, tapi alhamdulilah selama ini kalian malah seperti ibu dan anak," tutur Ardi.
"Alhamdulillah nyampe juga di rumah ini," ucap Najma setelah sampai di halaman rumah tantenya.
Najma mengambil Akbar dari car seat, sedangkan Ardi membawa belanjaan yang mereka beli untuk keluarga Indra dan Samira.
"Assalamualaikum, Tante..." ucap Najma di depan pintu.
"Praaaanggg....!!!" tidak ada sahutan namun ada suara benda terjatuh dan pecah dari dalam rumah.
__ADS_1
"Mas, suara apa itu? Jangan-jangan tante kenapa-napa, masuk yuk,"