
Ardi masih tidak percaya dan masih terdiam, kemudian tangannya perlahan membalas pelukan Najma.
"Kenapa kamu bepergian tanpa mahram?" tanya Ardi dengan datar.
Najma melepaskan pelukannya, dia sadar Ardi marah.
"A..aku..." Najma menjawab dengan terbata.
"Kamu juga keluar rumah tanpa izinku," Ardi menatap Najma dengan tatapan tajam.
Najma tercekat, ia tidak menyangka Ardi akan bertanya seperti itu, ia sangka Ardi akan senang dengan kejutan yang dia berikan, tapi memang benar yang dipikirkan Ardi, seorang wanita tidak boleh bepergian tanpa didampingi mahrom, apalagi tanpa izin dari suaminya. Mata Najma berkaca-kaca, sesungguhnya matanya telah lelah dan pedih kebanyakan menangis.
"Tok ...tok...tok..." ada yang mengetuk pintu. Ardi beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ceklek ..." Betapa terkejutnya Ardi melihat pria di hadapannya.
"Papa..." ucap Ardi.
"Assalamualaikum Ar," sapa Rahman. Kemudian memeluk putra bungsunya itu.
"Waalaikumussalam, papa kok bisa di sini?" tanya Ardi masih belum paham.
"Masuk yuk Pa,"
Rahman merenggangkan pelukannya dan mengelus kedua lengan Ardi.
"Di sini aja, kamu pasti butuh privasi dengan istrimu, papa bersyukur, Alhamdulillah kamu sehat dan selamat Nak,"
"Jadi papa yang antar Najma ke sini?" tanya Ardi.
"Iya sebagai mahromnya," sahut Rahman. Deg... Ardi baru sadar dia telah salah sangka pada Najma, karena ia kira Najma bepergian tanpa mahrom.
"Mama juga ikut?" tanya Ardi lagi.
Rahman menggeleng, "Nggak, mamamu menjaga Akbar di rumah, udah kamu masuk lagi, kasian Ama, nangis terus dari kemarin, papa mau istirahat, besok pagi papa pulang," ucap Rahman.
Ardi bertambah rasa bersalahnya, mendengar dari papanya kalau dari semalam Najma menangis. Ardi masuk kembali ke dalam kamar.
"Huft..." ia membuang nafas panjang bersiap membujuk Najma yang terlihat menunduk.
"Babe, maafin Mas ya, tadi udah marah-marah sama kamu, tanpa dengar penjelasan kamu dulu," ucap Ardi sambil merengkuh pinggang Najma.
"Hmm, aku juga minta maaf, ga izin Mas buat ke sini, aku pengen kasih kejutan," lirih Najma namun masih terdengar jelas bagi Ardi.
"Iya, aku terkejut kok, maaf aku tadi emosi, habisnya seharian hubungi kamu ga bisa," dalih Ardi.
"Iya maaf, semua ide Mba Sarah, tapi jangan marah sama mba Sarah ya, Mba Sarah udah baik banget ngrawat aku,"
"Iya Babe, kamu mau makan apa? Aku pesenin ya," ucap Ardi akhirnya, dia juga merasa bersalah memarahi Najma, sudah jauh-jauh kemari naik pesawat, dalam keadaan hamil pula.
__ADS_1
"Aku ga enak makan Mas, Icha lagi kangen susu buatan Baba,"
"Iyakah... okelah baba buatin, kamu bawa susunya?"
"Iya itu di tas merah,"
"Oke Baba buatin susu buat umma dan baby Icha,"
"Aku bersih-bersih dulu Mas," Najma segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Setelah selesai, Najma keluar dan susu coklat hangat sudah siap di atas meja.
"Babe, susunya diminum, pumpung masih hangat,"
"Iya Mas, Mas mau mandi?"
"He em..."
"Ya udah sana, aku siapin bajunya,"
Ardi mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower air hangat. Setelah selesai ia keluar kamar dan berganti baju dengan pakaian yang telah disiapkan Najma.
Ardi kemudian memesan makanan dari hotel melalui telpon kamar.
"Beneran ga laper Babe?" tanya Ardi.
"Laper sih, tapi ga terlalu, minta suapin dikit boleh?"
Mereka berdua duduk di atas tempat tidur, diam, hanya berpelukan melepas rindu.
"Eh iya, kamu tadi kok tidur pakai selimut, pakai jilbab juga, aku jadi bingung, ini siapa... apa salah masuk kamar..."
"Heheheh iyakah? Aku kedinginan tadi, nyari remote AC ga ketemu,"
"Sekarang masih dingin?" tanya Ardi.
"Agak berkurang sih, kan dipeluk,"
"Kamu tuh," Ardi mencubit pipi Najma yang mulai gembul.
"Aww..sakit Mas," Najma menggosok-gosok pipinya bekas dicubit Ardi.
"Bentar, aku tunjukkin caranya," Ardi berdiri menuju dinding samping kamar mandi.
"Ini diputar, ke kanan kalau mau naikin suhunya, ke kiri kalau mau turunin suhunya, yang ini juga, untuk lampu... putar kanan kalau mau terang...putar kiri kalau remang-remang kaya gini," ucap Ardi menjelaskan.
"Ah jadi malu .." ucap Najma.
"Malu kenapa?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Aku katrok banget," Najma menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Udah, sini rebahan yuk, mas pegel punggungnya, pengen rebahan," Ardi menarik lembut tangan Najma untuk berbaring di sampingnya, Najma hanya menurut dan ikut berbaring.
"Oh, Alhamdulillah,"
"Nanti habis makan aku pijit,"
"Maunya pijit plus-plus," goda Ardi, pipi Najma langsung memerah dibuatnya.
"Katanya capek,"
"Gak ada capek kalau tentang begituan, eh kamu bisa masuk ke sini, jangan bilang kamu kerja sama sama Gading ya..."
"Hehehe ketahuan," cicit Najma menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh sekarang berani nge chat lelaki ajnabi ya," Ardi memelototi Najma.
"Jangan salah paham mulu ah Mas, gak enak tau dituduh gitu, iya sih emang kita kerjasama sama dokter Gading, tapi yang nge chat papa bukan aku,"
"Oh...maaf," ucap Ardi.
"Iya dimaafkan," sahut Najma yang tak ingin lagi memperpanjang masalah, lalu memeluk tubuh Ardi, menghirup dalam-dalam aroma maskulin kesukaannya.
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang, Ardi dan Najma duduk di sofa dekat jendela.
"Katanya ga nafsu makan, ini lahap banget, mau habis," ucap Ardi yang hanya makan sedikit dari piring di tangannya, karena sibuk menyuapi Najma.
"Hehehe...beda, kalau disuapin sama Mas,"
"Ya bedalah, disuapin orang ganteng kok," kata Ardi.
"Narsis ih..."
"Biarin lah, emang bagi kamu mas mu ini ga ganteng? Hm?"
"Iya, terganteng di duniaku, ma syaa Allah.."
"Udah kenyang Mas," Najma berhenti makan dan nemplok begitu saja di dada bidang Ardi.
"Kamu kangen banget ya Babe?"
"Hmm iyalah, mas Ardi suamiku, ayah dari anakku, sehari ga bertemu rasanya aneh, walau kadang tidak bisa saling bertemu karena pekerjaan masing-masing, tapi setidaknya malam masih bisa bersama, rasanya tuh aneh tau ga bisa tidur, bangun juga bingung ga ada Mas," tutur Najma yang bucin.
"Kamu bucin ya..." goda Ardi.
"Maas...kok gitu sih, aku ngomong serius malah dibilang bucin, romantis dikit Napa, bilang apa kek, aku udah beraniin ngomong gitu nahan malu, au ah," Najma meninggalkan Ardi dan beranjak menuju kasur.
Mau tak mau Ardi menyusulnya, walau perut masih keroncongan, sangat susah menjaga mood orang hamil, dia merutuki diri sendiri kenapa bilang bucin ...
__ADS_1
"My baby sweetie honey... jangan ngambek lah, kamu tau sendirilah bagaimana cinta dan sayang aku buat kamu, aku minta maaf kalau aku salah bicara, tapi ingatlah bagaimana perasaan kamu waktu dengar pesawat yang harusnya aku tumpangi itu kecelakaan,"
"Maasss ..." ucap Najma lalu memeluk Ardi, dia tahu sendiri rasanya kehilangan orang yang dia cintai.