Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Alhamdulillah


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapa Ardi ketika memasuki toko Najma.


"Waalaikumusalam, tumben banget Dok mampir ke sini," sahut Risma yang ada di depan.


"Iya, kangen sama istri, Najma ada?"


"Ada, di atas, silakan naik Dok," ucap Risma, kemudian. Dan Ardi naik ke lantai dua, di dapur ia bertemu karyawati lain sedang membuat minuman.


"Najma ada?" tanya Ardi.


"Di ruangannya Dok," sahut karyawati itu yang merupakan salah satu penjahit.


"Assalamualaikum Babe," sapa Ardi ketika membuka pintu kamar Najma.


"Waalaikumusalam," sahut Najma kemudian melihat jam di dinding.


"Lha sudah jam setengah lima, maaf Mas, tadi kirim pesan? Maaf aku mode hening, lagi banyak kerjaan, sampai ga kerasa juga waktunya pulang," Najma segera berdiri menyambut suaminya.


Ardi menutup pintu kembali, dan memeluk Najma, kemudian tanpa menjawab pertanyaan Najma tadi, dia menciumi istri tercintanya itu.


"Mas, aku bau belum mandi," ucap Najma yang merasa canggung dipeluk Ardi saat dia merasa badannya lengket dan bau.


"Ga papa, kamu sibuk apa sih Babe, sampai ga tau waktu, hmm?" tanya Ardi.


"Ini ada pesanan di market place, 300pcs gantungan kunci, boleh aku bawa ke rumah Mas?"


"Kok kamu sendiri yang ngerjain, karyawati kamu ada banyak,"


"Mereka lagi ngerjain stok toko, alhamdulillah toko lagi ramai Mas,"


"Ditambah lagi aja pegawainya, yang bisa urus online shop, yang bisa urus manajemen, jadi kamu tinggal cek cek aja, kamu ingat kan mama papa juga minta kamu pegang konveksi," tutur Ardi.


"Iya Mas, nanti aku buka lowongan pekerjaan, tapi yang ini plis, boleh aku bawa pulang ya?" pinta Najma.


"Oke, tapi kamu gak boleh capek-capek ya," ucap Ardi.


"Muach.." Najma mengecup pipi Ardi karena telah mengijinkannya melembur di rumah.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua pulang ke rumah, tidak lagi ke rumah orang tua Ardi, setelah permasalahan di rumah sakit selesai, mereka kembali ke rumah mereka sendiri.


Setelah mandi, Ardi menemani Najma membuat gantungan kunci di ruang tengah. Ardi senang karena dengan bekerja, Najma bisa sejenak melupakan kesedihannya karena belum mengandung juga, karena kalau sudah kepikiran akan hal itu dia suka aneh-aneh seperti minta Ardi menikah lagi misalnya.


"Ini kan seperti gantungan yang kamu kasih waktu itu, masih ada tuh gantung di mobil," ucap Ardi sambil melihat gantungan yang telah Najma buat, gantungan berbentuk bintang, terbuat dari kain katun jepang, dengan isi dakron agar nampak empuk, ring gantungan berwarna chrome, dan ada tali kulit sintetis yang menjuntai membuat kesan klasik dan mewah di sana.


"Iya Mas, memang sama, tapi ini yang pesen mau campur bentuknya, jadi ada macam-macam, ada bintang, bulan, love, yang itu bulat," sahut Najma.


"Kamu ga capek Babe?" tanya Ardi.


"Capek, tapi senang Mas, hasil karya aku diminati orang, dapat duit juga,"


"Emang berapa harganya?" tanya Ardi.


"Dua puluh lima ribu, ini nanti di kemas mika, ada pita juga buat hiasan, ga bakalan ngira kan ini dari kain sisa, jadi berharga," sahut Najma.


"Hmm, ma syaa Allah, tapi jangan capek-capek ya sayang, nanti aku gak kebagian lagi waktu kamu, aku bantu apa ini?"


"Ini aja pasang ring nya Mas, gini caranya," ucap Najma kemudian mengajari Ardi.


"Nyambungin syaraf yang ga kelihatan aja bisa, apa lagi cuma beginian ya Mas, dengan izin Allah pasti bisa," ucap Najma memuji suaminya.


"Kamu bikin kaya gini belajar dimana sayang?" tanya Ardi sembari tangannya menirukan cara Najma memasang ring gantungan kunci.


"Dulu itu mungkin karena terpaksa Mas, umurku sudah mencapai batas maksimal menerima pensiun ayah, untuk hidup sehari-hari jadi mau ga mau aku harus kerja, nah dengan penampilan berjilbab besar dan bercadar siapa sih yang mau mempekerjakan aku, apalagi cuma lulusan pesantren, jadi aku harus usaha sendiri, mau bikin katering ya tau sendiri aku ga pandai masak, mau jahit baju seperti ibu rahimahallaah, aku gak bisa, sama Qumil bongkar-bongkar gudang, banyak sekali perca kain sisa jahitan baju ibu, dari situ aku kepikiran buat sesuatu yang mudah dibuat namun menghasilkan nilai jual yang tinggi, aku lihat yutub tutorial menjahit sprei, sarung bantal dan lain-lain, dari situ lahirlah toko bintang kecil itu," tutur Najma yang tangannya tak berhenti menjahit satu-persatu pesanan pelanggannya itu.


"Dulu itu, kamu pasti ketakutan, ditinggal otangtua bersamaan secara tiba-tiba, kalau kita udah kenal mungkin aku menikahi mu saat itu juga, biar aku bisa meluk kamu," ucap Ardi.


"Ya ga boleh lah Mas, saat itu umur aku belum genap delapan belas tahun, yang ada kena pasal karena menikahi gadis di bawah umur," sahut Najma.


"Benar juga ya, ah sudahlah semua itu sudah berlalu, kamu berhasil melewati ujian itu berkat pertolongan Allah, kamu hebat sayang, ma syaa Allah,"


"Dan sekarang Alhamdulillah Allah kasih aku suami yang baik dan sholih, ma syaa Allah, juga mama papa yang sudah seperti orang tua kandungku sendiri, alhamdulillah,"


"Kamu bahagia Babe?" tanya Ardi.


"Tentu saja, siapa yang ga seneng punya suami yang gantengnya ma syaa Allah," Najma meletakkan jahitannya dan bergelayut manja di lengan Ardi. Ardi yang juga gemas dengan tingkah istrinya, hendak menciumnya namun adzan maghrib berkumandang.

__ADS_1


"Allah sudah panggil untuk sholat Mas," ucap Najma yang tahu Ardi hendak menerkamnya.


"Iya, aku ke masjid dulu sayang,"


"Eh nanti mau makan apa?" tanya Najma sebelum Ardi pergi.


"Apa aja, kita pesen aja, kamu sudah capek lembur," sahut Ardi kemudian pergi ke masjid.


"Okelah,"


Sepulang dari masjid, Ardi terheran, Najma sedang menata meja makan.


"Lhoh, sudah ada makanan Babe?"


"Iya, alhamdulillah dikirimin mamah tadi," ucap Najma sambil menghidangkan asem-asem gurami dan nasi putih.


"Wah ma syaa Allah alhamdulillah," ucap Ardi.


"Yuk makan Mas, paper nih," ajak Najma.


.


.


Malam harinya di tempat yang berbeda, yaitu di restoran hotel mewah..


Yudha yang pagi tadi baru keluar dari rumah sakit, bersama kedua orang tuanya mengundang Qumil bersama ayah ibunya untuk makan malam.


Mereka makan malam sambil mengobrol santai, karena Ridwan ayah Qumil sangat pandai bergaul, sehingga orang sedingin dokter Rendra bisa nyaman dengannya.


"Iya kita dulu pernah bertemu di pernikahan Najma dan dokter Ardi," ucap Ridwan.


"Oh iya, waktu itu Pak Ridwan dan Ibu yang mendampingi nak Najma kan," sahut Rendra.


Qumil dan Yudha saling melirik, keduanya gugup dan juga tegang dengan pertemuan keluarga ini.


"Dan kami mengajak keluarga Pak Ridwan juga untuk berkenalan lebih dekat lagi, sekaligus melamar putri Bapak, ananda Qumil untuk dinikahi putra tunggal kami Yudha," tutur Rendra.

__ADS_1


Qumil menutup mulutnya dengan tangannya, dan terbelalak matanya karena terkejut, kenapa secepat ini....


__ADS_2