Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Mana Bayiku


__ADS_3

Lamat-lamat terlihat Ardi, dan terdengar lantunan ayat Alquran yang dibacanya, juga suara monitor jantung, saturasi oksigen, tekanan darah juga pernafasan yang ada di meja di samping ranjang Najma.


"Mas," ucap Najma tidak begitu jelas karena hidung dan mulutnya masih tertutup masker oksigen.


Ardi langsung melihat ke arah Najma, rupanya Najma telah sadar setelah dua hari tertidur setelah operasi. Iya, akibat jatuh dari tangga, janin yang belum waktunya lahir itu terpaksa harus dikeluarkan karena ketuban pecah dan Najma mengalami perdarahan hebat.


"Kamu udah bangun Babe, Alhamdulillah," ucap Ardi yang membuka masker oksigen di wajah Najma. Tentu saja ia sebelumnya melihat monitor dan memastikan saturasi oksigen Najma masih di angka normal.


"Mas Ardi," ucap Najma yang masih lemah. Najma meraba perutnya dan terkejut karena perutnya kini sudah rata.


"Icha...mana Icha...Mas, mana bayi kita, mana bayiku..." ucap Najma sambil menangis, ia kira terjadi hal buruk dengan bayinya.


"Eh ssttt... baby Icha di ruang bayi sayang," ucap Ardi mencoba menenangkan Najma.


"Baby Icha sudah lahir?" Najma masih bingung.


"Iya Babe," sahut Ardi.


"Tapi kan masih tujuh bulan Mas," ucap Najma yang masih belum bisa percaya.


"Karena itu baby Icha perlu observasi lagi, memang masih belum cukup bulan untuk lahir, Mba Sarah terpaksa mengeluarkan Icha lebih cepat, karena kamu mengalami perdarahan hebat," tutur Ardi.


"Oh begitu," ucap Najma akhirnya paham.


"Iya, kamu mau minum sayang?" tanya Ardi.


"Boleh?" tanya Najma.


"Boleh, sedikit ya tapi, besok kita tanya Mba Sarah, sudah boleh minum dan makan apa belum,, tadi Mama, papa, mas Arya, dan Mba Sarah baru pulang," ucap Ardi yang segera mengambilkan minum untuk Najma.


"Baby Icha ga pa pa kan Mas?" tanya Najma, tentu saja dia sangat mengkhawatirkan bayinya.


Ardi tersenyum, ia menghela nafas, bingung juga cara menceritakan keadaan putri kecil mereka yang tengah berjuang untuk hidup di bumi ini, karena masih belum cukup bulan untuk lahir, organ tubuhnya masih belum begitu sempurna, dan beratnya sangat kecil dibandingkan dengan bayi yang lahir normal.


"Ga pa pa Babe, besok kita lihat sama-sama di ruang bayi, kamu istirahat dulu aja," ucap Ardi.


"Baby Icha cantik Mas?" tanya Najma walau masih lemah, namun dia merasa penasaran dengan rupa putri pertamanya itu.

__ADS_1


"Iya, cantik kaya kamu, tapi ada wajahku juga sih di sana, perpaduan kita, ma syaa Allah," sahut Ardi.


"Ah...ssttt...." Najma mendesis seperti menahan rasa sakit, juga menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa sayang? Ada yang sakit," tanya Ardi.


"Hmmm ... ini Mas, sakit banget," ucap Najma ingin menjawab bagian mana yang sakit namun enggan dan merasa malu pada Ardi.


"Jahitan di perut kamu?" tanya Ardi.


"Bu ..Bu kan," sahut Najma yang masih meringis.


Ardi berpikir sejenak, dan ia baru ingat kalau ini sudah waktunya.


"Sebentar babe," ucap Ardi lalu pergi ke meja mengambil sesuatu, dan kembali ke sisi Najma.


"Apa itu Mas?" tanya Najma.


"Pompa Asi, payudara kamu sakit kan? Memang sudah jamnya kamu pumping," ucap Ardi sambil membantu memasangkan pompa asi elektrik pada Najma.


"Sama suami sendiri kenapa malu? Dan lagi menurut kamu siapa yang pompain asi kamu selama dua hari ini? Siapa yang menyeka tubuh kamu, ganti baju kamu, dan sebagainya," tanya Ardi.


"Mas lakuin itu? Aku nifas Mas," tanya Najma yang mengerutkan dahinya, menahan rasa malu.


"Iya, ga pa pa, kan baby Icha butuh asi kamu, setiap tiga jam sekali aku pompa asi kamu supaya bisa keluar lancar terus," ucap Ardi. Najma hanya terdiam, ia terharu dengan apa yang dilakukan Ardi, begitu menyayanginya juga putri mereka.


"Asiku banyak Mas, ma syaa Allah," ucap Najma setelah mendapatkan sebotol asi dari salah satu ***********, kemudian berganti memompa payudara yang lain.


"Alhamdulillah," ucap Ardi yang menutup botol asi setelah diisi oleh Najma.


"Mas telaten sekali, sampai tiga jam sekali pumping," ucap Najma.


"Bagaimana lagi, kamu belum bisa menyusui, namun anakku butuh asi untuk bertahan hidup Babe," ucap Ardi.


"Mas, apa aku ga disuntik obat? Kok boleh ASI-nya diberikan ke bayi kita? Aku baca katanya kalau ibu minum obat atau disuntik asi ga bisa diberikan ke bayi" tanya Najma.


"Kamu tenang aja sweetie honey, Mba Sarah telah memilihkan obat yang boleh untuk menyusui sayangku, Alhamdulillah, bersyukur kita punya keluarga dokter obgyn," jawab Ardi.

__ADS_1


"Iya, Alhamdulillah, Mas selama ini temani aku terus?" tanya Najma, ia sangat penasaran apa yang telah, rasanya seperti sudah berpisah lama dengan Ardi.


"Iya aku temani kamu terus, kecuali kalau Allah sudah panggil untuk sholat, aku titipkan kamu sama perawat sebentar, aku sholat ke masjid, kenapa?" Ardi balik bertanya.


"Pengen tahu aja, apa aku sempat tidak baik-baik saja? Maksudku kritis gitu?" tanya Najma.


Ardi mengangguk...


"Iya, kamu harusnya bangun beberapa jam setelah operasi, tidurmu lama sekali, sempat aku curiga ada trauma di kepala kamu, tapi Alhamdulillah CT scan nya hasilnya bagus, ga ada kelainan, jadi aku sabar aja nunggu kamu bangun, dan itu berat sekali babe," Ardi menitikkan air mata mengingat semua yang telah dilaluinya.


"Mas pasti takut," ucap Najma yang menggenggam tangan Ardi.


"Iya, pasti, aku takut sekali kalau kamu ga akan bangun lagi babe, tapi Alhamdulillah, Allah beri kesempatan kita bertemu lagi," tutur Ardi


"Iya, Alhamdulillah, eh Mas, ga kerja?" tanya Najma yang tangannya membelai wajah Ardi yang kumisnya mulai tumbuh lantaran tidak sempat bercukur.


"Aku minta direktur buat memajukan jadwal kerja Sabrina, dia udah mulai kerja sekarang, biar aku fokus sama kamu," jawab Ardi.


"Pantesan ga cukur kumis," Najma tetap membelai wajah tampan suaminya itu.


"Iya, takut ninggalin kamu lama-lama, aku mandinya juga kalau mama pas datang, biar kamu ada temannya," sahut Ardi.


"Eh iya, dokter Sabrina yang selamatkan kamu waktu itu, dengan izin Allah, dia yang pertama temukan kamu dan langsung panggil petugas emergency," imbuh Ardi.


"Dokter Sabrina yang selamatkan aku?" Najma bertanya lagi memastikan.


"Iya," ucap Ardi yang menutup botol asi ke dua, dan membantu Najma membereskan pompa asi yang telah selesai dipakai.


Najma terdiam mengingat sesuatu...


#Flash back on ....


"Bruukk!!"


"Aaaaa...." teriak Najma, sebelum terjatuh ia melihat Sabrina di sampingnya, tangannya menjulur hendak meraih tangan Sabrina, namun Sabrina hanya diam dan melihat saja tidak merespon. Dan Najma akhirnya terjatuh dari tangga yang curam itu. Lalu Najma tidak ingat apapun lagi.


#Flash back off...

__ADS_1


__ADS_2