Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Maafkan Aku


__ADS_3

"Tok...tok...tok..." ada yang mengetuk pintu, Najma hanya melihat ke arah pintu untuk melihat siapakah yang datang selarut ini. Agak takut juga dia, karena Ardi belum kembali juga.


"Assalamualaikum, Mba Najma, boleh saya masuk?" tanya perempuan berambut ikal itu.


"Waalaikumussalam, silakan masuk dokter," sahut Najma, dengan ragu-ragu ia membolehkan Sabrina masuk, iya wanita itu adalah dokter Sabrina.


"Aku dengar Mba Najma sudah siuman, jadi aku segera ke sini setelah ada operasi di rumah sakit ini tadi, kak Ardi mana?" tanya dokter Sabrina.


"Mas Ardi keluar sebentar, terima kasih atas perhatiannya Dok," ucap Najma, ada rasa takut juga di hati Najma mengingat kejadian ketika ia jatuh dari tangga, Sabrina membiarkan ia jatuh.


"Oh begitu, sekarang bagaimana keadaannya Mba Najma?" tanya Dokter Sabrina.


"Alhamdulillah, seperti yang anda lihat saya baik-baik saja, saya dengar dari suami saya bahwa dokter Sabrina yang menyelamatkan saya," ucap Najma, ia ingin tahu bagaimana reaksi dokter Sabrina jika ia mengungkit kejadian itu.


"Ah, kamu sudah dengar, ia saya yang menghubungi perawat IGD waktu itu," ucap dokter Sabrina.


"Terima kasih Dokter atas bantuannya," ucap Najma.


"Tidak perlu sungkan," sahut dokter Sabrina.


"Tapi saya ingat betul kejadian itu, sebelum saya jatuh, saya lihat dokter Sabrina ada di sana, saya ingin meraih tangan dokter namun anda diam saja, hanya melihat saya jatuh," ucap Najma.


"Jadi kamu melihat bagaimana Najma jatuh, namun kamu tidak mencegahnya jatuh dengan mengabaikannya?" tanya Ardi yang baru saja masuk ruangan itu, dan dia telah mendengar pembicaraan Najma dengan dokter Sabrina.


"Ah... kamu mengingatnya?" tanya Sabrina yang merasa ketakutan.


"Jadi kejadian itu benar? Saat Najma hendak meraih tanganmu meminta bantuan, kamu mengabaikan dia?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Ah... i itu..." ucap dokter Sabrina tergagap.


"Kenapa kamu tega sekali Brin.." ucap Ardi yang terlihat marah.


"Aku...aku...." dokter Sabrina tidak bisa berkata lagi.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Najma dan juga bayinya..." lanjut Ardi.


"Ma maaf .. maafkan aku kak..." ucap dokter Sabrina.


"Waktu itu memang terbesit bayangan jika terjadi sesuatu pada Mba Najma, maka aku dengan mudah bisa mendekatimu kak," lanjut dokter Sabrina.


"Gila kamu ya," ucap Ardi. Najma hanya terdiam, tak menyangka demi mendapatkan suaminya, dokter Sabrina bakal setega itu padanya.


"Tapi setelah Mba Najma jatuh, aku langsung tersadar bahwa itu adalah hal yang jahat dan buruk, aku sangat menyesal mengapa tidak meraih tangan Mba Najma juga, setelah itu aku panik dan langsung menghubungi perawat IGD, aku minta maaf pada kalian, maaf..." ucap dokter Sabrina yang mulai terisak.


"Sudah Mas, jangan marah," bisik Najma pada Ardi, Ardi mengangguk mengiyakan.


"Baiklah kami maafkan, tapi jangan berani-berani lagi kamu mendekati istriku," ucap Ardi.


"Baik kak, terima kasih sudah menerima maafku, aku janji tidak akan menggangu kalian," ucap dokter Sabrina.


"Lihat saja sebentar lagi akan ada orang yang lebih baik untukmu," tutur Ardi.


"Aamiin, tapi bolehkah aku meminta satu hal lagi kak?" tanya dokter Sabrina.


"Apa itu?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Mungkin keterlaluan permintaan aku ini, tapi bisakah kalian merahasiakan masalah ini? Aku baru saja bekerja di sini, kalau aku sudah ketahuan melakukan hal buruk pasti dipecat, dan di tempat lain juga tidak ada yang mau menerimaku, bisa hancur karir aku, aku minta maaf, dan aku mohon pada kalian," pinta dokter Sabrina.


"Harusnya kamu pikirkan itu dulu sebelum kamu mengabaikan istriku," ucap Ardi.


"Iya maaf kak,"


"Baiklah kamu tenang saja, kami akan merahasiakannya, lagian kalau kamu ga kerja di sini, bagaimana aku bisa libur... kamu satu-satunya teman seprofesiku sebagai dokter spesialis bedah syaraf," ucap Ardi yang akhirnya bisa tersenyum pada dokter Sabrina.


"Baik, makasih, makasiih banget kak, Mba Najma, kalau butuh apapun bisa hubungin aku, aku dengan senang hati akan membantu," ucap dokter Sabrina.


"Baik Brin, gimana pekerjaan pertama kamu di sini?" tanya Ardi.


"Ya begitulah, ini tadi ada operasi juga, besok di rumah sakit umum, sekarang aku tahu kak, betapa beratnya pekerjaan kak Ardi selama ini, hufh..." ucap dokter Sabrina menghela nafas.


"Hahaha baru tahu ya," Ardi malah tertawa.


"Ya udah aku pamit dulu kak, mau belajar buat kasus besok, semoga Mba Najma cepat pulih ya, debaynya juga cepat sehat, bye... assalamualaikum," ucap dokter Sabrina.


"Waalaikumussalam," sahut Najma dan Ardi.


"Mas, bantu aku belajar miring dan duduk, aku pengen cepat jalan biar bisa lihat baby Icha, emang baby Icha kenapa Mas? Kok dokter Sabrina bilang semoga cepat sehat?" tanya Najma sambil meringis menahan sakit jahitan operasinya karena belajar miring.


"Pada dasarnya bayi prematur itu organ tubuhnya masih belum sempurna babe, termasuk baby Icha, dia masih memakai alat bantu nafas, dan belum bisa menelan dengan benar, tapi kamu jangan khawatir, dokter anaknya dokter Aldo akan mengawasi terus, juga dokter terapinya Yudha akan berikan latihan biar baby icha bisa menelan dengan baik," tutur Ardi.


"Lalu bagaimana dia minum Asiku jika menelan saja masih susah?" tanya Najma.


"Masih pakai selang yang dihubungkan langsung dengan lambungnya, ga pa pa babe, kita bantu kerja dokter dan perawatnya dengan doa, selebihnya kita pasrahkan pada Sang Pencipta, ya Babe, dan jangan khawatir ya aku akan tetap bersamamu dan baby Icha," Ardi mengecup pucuk kepala Najma.

__ADS_1


__ADS_2