Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Sekarang Waktunya Kita


__ADS_3

"My baby.. kenapa? Aku bau keringat ini, kok dipelukin,"


"Biarin Mas, aku suka baumu ini, bau lelah mu yang mencari nafkah buat aku,"


"Aisssh... ada apa ini Babe..hmm," Ardi mengelus rambut panjang Najma.


"Mas suka banget sama anak kecil ya? Mas pasti kecewa kan karena kita belum juga punya anak.."


"Iya, aku suka banget sama anak kecil, tapi aku gak kecewa kok kalau kita belum punya anak, kita sudah pernah bahas kan,"


"Tapi Mas kelihatan bahagia banget waktu main sama Dinda, pasti juga pengen kan main sama anak sendiri.."


"Iya aku senang main sama Dinda, aku juga pengen main sama anak kita nanti,"


"Dan pasti kecewa kan aku belum kunjung hamil,"


"Isshh.. kamu itu gemesin Babe, sini lihat aku," Ardi kemudian menangkup kedua pipi Najma dan Najma mendongak agat bisa melihat suaminya.


"Aku memang pengen punya anak, tapi kalaupun sama Allah kita ga dikasih, aku gapapa, aku bahagia walau sampai tua kita hanya berdua, semua yang terjadi pada kita kemarin, hari ini dan yang akan datang, sudah Allah tuliskan di lauhil mahfudz jutaan tahun yang lalu.. tinggal kita menerima dan menjalaninya, kamu pasti sudah tahu itu kan Babe.. "


"Jadi kita ga usah program hamil aja.."


"Ya bukan gitu Najma Burhanuddin istri shalihahnya Ardi Abdurrahman Sholih, kita tetap berusaha, berikhtiar sayang, semampu kita, nanti hasilnya bagaimana, itu urusan Allah, dan aku janji, apapun keadaan kamu, aku akan selalu mendampingi kamu Babe,"


Setelah mendengar penuturan Ardi, Najma kembali menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Ardi, semakin erat dan enggan melepasnya.


"Babe.."


"Hmm.."


"Mau ikut mandi?"


Najma segera melepaskan pelukannya dan beralih menuju lemari pakaian.


"Aku siapin bajunya aja Mas," ucap Najma. Ardi hanya tersenyum mendengarnya lalu meninggalkan Najma untuk segera mandi.


Najma meletakkan pakaian ganti untuk Ardi di atas tempat tidur seperti biasa, kemudian dia duduk di sofa dan melihat gawainya, melihat laporan toko hari ini, dan performa toko onlinenya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ardi yang tanpa disadari Najma telah selesai mandi dan berganti baju di depannya.


"Ini, alhamdulillah, toko online aku dapat tanda star plus, semoga istiqomah," sahut Najma kemudian menaruh gawainya kembali ke atas meja, dan berfokus lagi pada Ardi.


"Alhamdulillah, Mas ikut bahagia Babe," ucap Ardi, kemudian ikut duduk di sebelah Najma.


Rambut Ardi yang berantakan dan setengah basah membuat dokter itu terlihat semakin seksih...


"Mas Dokter.."

__ADS_1


"Hmm.."


"Nanti malam ada operasi?"


"Ehm.. enaknya gimana ya.. kamu maunya gimana? Emang mau ngajakin kemana Babe?"


"Ada nggak? Kok ditanya balik nanya sih.."


"Nggak ada.. kenapa?"


"Ehm itu.." Najma ragu mengatakannya.


"Kenapa? Mau diajak kemana nih? Belanja?"


"Bukan itu.."


"Terus apa?"


"Hari ini masa subur aku.. Mba Sarah bilang, waktunya kita.." ucap Najma malu-malu.


Ardi tertawa mendengarnya..


"Oh mau itu.. kenapa sih susah banget bilangnya, iya nanti ya, habis makan malam, Mas itu kalau kamu duluan yang minta atau nawarin diri, Mas tambah senang,"


"Ya kan aku malu Mas,"


"Tapi mau kaan.." goda Ardi.


"Sekarang yuk.."


Bersamaan dengan adzan berkumandang..


"Allah panggil duluan Mas, sholat-sholat.." ucap Najma.


"Okelah, Mas ke masjid dulu ya, I love you.."


"Nado saranghae.." sahut Najma sambil memberi tanda love kecil dengan tangannya.


.


.


Sementara itu di kediaman Rahman..


"Kamu libur praktik Sar?" tanya Hamida selepas mereka sholat maghrib berjamaah di musholla rumah.


"Iya Ma, capek, pengen istirahat, makanya aku tutup klinik dua kali satu pekan," sahut Sarah sambil melipat mukena yang baru ia pakai.

__ADS_1


"Oh gitu.. kita panggil Ardi sama Najma sekalian yuk, malam ini kan yang masak Arya, Najma itu paling suka makanan dari restoran Arya, mama ambil ponsel dulu ya di kamar," ucap Hamida.


"Ah Ma, jangan deh sebaiknya," sergah Sarah.


"Lho kenapa?"


"Hari ini masa subur Najma, mereka waktunya itu.. nanti takutnya kita malah ganggu mereka.." jawab Sarah.


"Kamu kok tahu?"


"Yah Mama, aku kan dokter mereka, mereka lagi jalani program hamil, jadi aku ikut pantau mereka, sampai hitungkan masa subur Najma juga,"


"Kamu segitu perhatiannya sama pasien kamu Sarah.." ucap Hamida.


"Kalau pasien lain ya aku ga hitungin Ma, pusing, ada ratusan, cuma aku ajarin cara ngitungnya, aku juga ga ngingetin mereka harus hari ini ya pak bu, ga gitu.. cuma karena Ardi dan Najma adik-adikku jadi aku lebih perhatikan lagi.."


"Ah.. makasih ya sayang, kalau mereka sampai berhasil dengan izin Allah, kita juga yang senang kan.." ucap Hamida sambil menggenggam tangan Sarah.


.


.


"Mas Ardi kok ga pulang-pulang ya.." gumam Najma sambil menggoreng ayam lengkuas dan tempe yang sudah dibumbui bu Ani tadi sore di dapur.


"Apa nunggu sholat isya sekalian ya.. tuh udah adzan aja," ucapnya sambil segera menyelesaikan kesibukannya di dapur, kemudian ia kembali ke kamarnya dan berganti baju dan berwudhu kemudian mendirikan sholat isya. Ia tak ingin Ardi nanti terlalu lama menunggunya di meja makan.


Ardi yang baru pulang dari masjid kemudian langsung duduk di meja makan, ia membuka tudung saji di atas meja makan. Terlihat ayam lengkuas, tempe goreng, dan sambel beserta lalapannya.


"Ah.. ayam goreng lengkuas, pasti enak ini.. Najma kenapa lama sekali, aku sudah lapar ini, dia belum bikin minuman sepertinya, aku bikinin ah.." Ardi bermonolog.


Kemudian ia membuka kulkas guna mengambil susu UHT lalu menuang ke dalam panci kecil dan menghangatkannya sebentar, setelah dirasa hangat, ia bagi menjadi dua mug, dan memberi sesendok madu untuk pemanisnya.


"Mas udah pulang," ucap Najma seraya memeluk Ardi dari belakang.


"Hmm iya sayang," ucap Ardi segera berbalik badan dan membawa Najma dalam dekapannya.


"Kamu sudah ganti baju Babe, duh.. jadi ga konsen nih mau makan malam, maunya langsung ke kamar aja,"


"Maas makan dulu pliis, aku lapar banget, tuh sambel bu Ani dah bikin ngiler,"


"Iya iya.. yuk makan, ini minumnya susu madu, biar kuat sampai pagi hehehe,"


'Biyuhh sampai pagi.. bisa aja mas dokter ini.. emang besok gak kerja apa, nantangin sampai pagi..' batin Najma.


"Heh nglamunin apa? Ga sabar ya.." goda Ardi.


"Bukan itu.. aku lapar Mas," sahut Najma.

__ADS_1


"Ya udah, duduk yuk, kita makan," Ardi menggandeng Najma ke kursi makan.


Mereka berdua duduk berhadapan, makan malam sambil ngobrol, membicarakan kesibukan mereka di tempat kerja hari ini, juga persiapan pernikahan Qumil, tentu saja disela dengan bercanda.


__ADS_2