
Najma terbangun mendengar adzan subuh berkumandang, namun Ardi sudah tidak ada di sampingnya.
"Mas Ardi kemana?" gumamnya, kemudian kesana kemari mencari Ardi.
"Mas, Mas Ardi.." Najma membuka pintu kamar mandi namun kosong.
"Mungkin sudah ke masjid," ucapnya lagi.
Kemudian ia membersihkan diri dan segera sholat subuh. Setelahnya ia rapikan sajadah dan mukena yang ia pakai lalu turun ke bawah menyiapkan sarapan. Pikirannya masih kepada Ardi, dia belum tenang karena belum menyelesaikan masalah mereka kemarin. Jadi dia sedikit tidak fokus dengan memasaknya, niatnya membuat sayur sop dan telor dadar, eh malah kocokan telornya dimasukkan ke dalam panci sop. Kemudian ia membuat jus tomat wortel.
"Mas Ardi kok lama banget sih," gumamnya sendiri.
"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumusalam," sahut Najma.
"Mas.."
Ardi sebenarnya pura-pura ingin naik ke atas, padahal dalam hati ia ingin banget menubruk Najma namun Najma memanggilnya sehingga ia berbelok ke dapur.
"Apa," sahut Ardi.
"Minum jus dulu, ini aku dah buatin," ucap Najma sambil memindah jus dari teko ke dua gelas tinggi.
Ardi kemudian duduk di meja makan dan Najma meletakkan gelas jus di depan Ardi.
'Ma syaa Allah, kenapa Najma belum ganti baju, pagi-pagi ini, jadi gerah aku,' batin Ardi yang melihat Najma masih memakai baju tidur tipis yang ia pakaikan semalam. Kemudian ia tenggak jus itu hingga tandas.
Najma duduk di depan Ardi, Ardi hanya menunduk menahan diri.
"Mas kok baru pulang..."
"Iya nunggu matahari terbit, sholat syuruq sekalian," sahut Ardi.
"Mas, aku minta maaf ya aku salah kemarin," ucap Najma.
"Iya, Mas juga minta maaf karena terlalu sensitif, sebenarnya kemarin mas asal bicara, tapi kamu ternyata benar-benar memikirkan hal itu, itu yang membuat Mas agak kecewa," tutur Ardi.
__ADS_1
"Iya Mas, maaf, gak seharusnya aku begitu, harusnya aku bersyukur sudah diberi suami sebaik Mas, Mas juga selalu memenuhi kebutuhan aku, dan selalu ada untukku," ucap Najma kemudian menangis lagi, dia merasa sangat menyesal.
"Iya, sudah sayang, jangan nangis," ucap Ardi sambil mengelus tangan Najma di atas meja makan.
"Tapi Mas, aku takut banget kemarin, Mas pergi begitu aja, telpon dan pesan dariku diabaikan, aku takuuut... ayah ibu sudah ga ada, kalau Mas ninggalin aku begitu saja kaya kemarin, aku sama siapa?" lanjut Najma yang semakin terisak.
"Udah-udah sini," Ardi menarik tangan Najma untuk berdiri dan mendekat padanya. Ardi menghapus air mata di pipi Najma.
"Iya, Mas juga minta maaf Babe, kemarin dari pagi, pasien poliklinik banyak banget, siangnya ada operasi darurat, kemudian aku visit pasien ruangan baru sore setelah ashar, jadi memang aku sibuk banget, niatnya pulang ngajak kamu makan, eh malah lihat rumah gelap dan kamu demam, kamu kenapa kemarin ga makan? Sampai sakit. Jangan mendzolimi diri sendiri Babe," tutur Ardi.
"Aku sangat sedih Mas, mau cerita Qumil kok ini masalah rumah tangga kita, bingung, blank, sedih, takut Mas tinggal,"
Ardi berdiri dan memeluk Najma, membelai rambut panjangnya.
"By the way, kamu pagi-pagi mancing Mas apa gimana? Kenapa kamu pakai baju begini Babe, Hmm?" bisik Ardi.
"Ah.. aku ga mikirin itu Mas tadi, aku nge blank dari kemarin, aku mandi dulu ya," ucap Najma sambil berlari begitu saja menuju kamar atas.
Ardi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dan ikut ke atas menyusul Najma.
.
"Mas," panggil Najma. Keduanya masih meringkuk dalam selimut setelah Ardi mengajak Najma bermain-main.
"Hmm, mau lagi Babe?" tanya Ardi yang masih terpejam.
"Nggak ah, laper nih, Mas ga laper?"
"Kirain, mau nambah, iya makan yuk, kamu jangan sakit lagi ya, tadi kamu masak kan? Siapin aja dulu, aku turun lima belas menit lagi," ucap Ardi.
"Baik Mas, tapi lepasin dulu ini," tangan Ardi masih melingkar di pinggang Najma. Kemudian Ardi melepaskannya.
Najma segera berpakaian dan turun ke dapur. Sedangkan Ardi membereskan tempat tidur mereka yang sudah porak poranda, kemudian mandi.
Di dapur, Najma memanaskan sayur yang ia buat tadi, menyajikan nya dalam dua mangkok, juga menyiapkan dua mangkok nasi putih, dan membawanya ke atas meja makan. Tak lama kemudian Ardi sudah turun dengan rambut setengah basah sehabis mandi.
Ia menarik kursi dan duduk, Najma mengikuti duduk di hadapan Ardi.
__ADS_1
"Kamu masak sup telur Babe?" tanya Ardi melihat gumpalan telur di mangkok sup nya.
"Hehehe, maaf Mas, tadi niatnya masak sayur sop sama bikin telur dadar, eh tanpa sadar kocokan telurnya aku masukin panci sop, ah sungguh nge blank didiemin suami," sahut Najma sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.
"Iya, maaf babe, maaf ya," ucap Ardi kemudian menyeruput sop itu.
"Hmm, not bad, enak kok, ma syaa Allah, anggap aja sup telur," kata Ardi.
"Iya kah? Habisin kalau gitu Mas,"
"He em, kamu juga makan yang banyak, biar ga sakit lagi, ini hari Jumat kan, kita ke luar kota habis jumatan, bareng sama Qumil dan Yudha, mereka juga ada kuliah," tutur Najma.
"Iya Mas, habis ini aku siapkan keperluan kita, mas kok bisa libur hari ini,"
"Habisnya kamu mancing Mas tadi pagi, Mas ambil cuti deh, punya istri cantik masa iya dianggurin," canda Ardi.
"Iih Mas, beneran aku tanyanya,"
"Iya, aku ambil cuti, aku bilang mau jagain kamu, semalam sakit,"
"Ohh.. tapikan aku sudah sembuh,"
"Ya udah aku pergi kalau gitu, beneran ga mau ditemenin?"
"Eh jangan Mas, aku masih kangen, tapi hari ini PR aku banyak banget, yang ada malah Mas yang aku anggurin,"
"Kamu mau ngapain?" tanya Ardi sambil menyendok makanan terakhir di mangkoknya.
"Nyuci, nyetrika, siram tanaman, karena mau ditinggal ke luar kota,"
"Kita pakai ART gimana Babe? Aku ga mau kamu capek-capek, dan biar ada teman kalau aku tinggal kerja, kamu juga bisa fokus sama toko,"
"Iya boleh Mas, tapi nanti kalau godain Mas Ardi gimana mbaknya itu?"
"Resiko Babe, punya suami ganteng,"
"Iih Mas narsis deh,"
__ADS_1
"Habisnya, kamu itu posesif banget, gemes deh aku, ya nyari yang ibu-ibu jangan yang mbak-mbak, yang pulang, jangan yang nginep, nanti deh aku tanya mama, kira-kira bu Marni ada kenalan ART ga,"
"Oh iya deh Mas,"