Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Selalu Kangen


__ADS_3

"Eh gimana ceritanya kemarin kok bisa kamu langsung tunangan gitu.." tanya Najma penasaran.


"Ya aslinya cuma aku sama ayah ibu diundang makan malam aja, aku pikir yaa masih perkenalan aja, eh ga taunya mereka melamar, kaget Ama,"


"Tapi kamu seneng kan Mil?" goda Najma.


"Iyalah, dilamar sama idola hihihi,"


"Ada sesuatu yang belum tercapai di hidupmu?" tanya Najma kembali.


"Ehmm, untuk saat ini pengen jadi lebih baik aja, juga pengen pakai gamis dan jilbab besar kaya kamu Ama, tapi masih belajar pelan-pelan," sahut Qumil, dia memang sampai sekarang masih suka pakai celana jeans dan kaos, juga masih suka jilbab segi empat yang tidak sampai menutup bagian dadanya.


"Semoga Allah mudahkan ya Mil,"


"Aamiin, eh ini udah mau maghrib, aku pulang dulu ya, persiapan besok ada kuliah," pamit Qumil.


"Mau diantar mas Arif kah?"


"Gak ah, naik taksi aja Ama,"


"Oh ya udah, hati-hati di jalan, fii amanillah," ucap Najma.


"Apa tuh artinya?" tanya Qumil.


"Semoga engkau dalam lindungan Allah," jawab Najma.


"Oh.. terus aku jawab apa?" tanya Qumil lagi.


"Ma assalamah,"


"Artinya?"


"Semoga keselamatan menyertaimu," jawab Najma.


"Oh.. ma as... ma as.. salamah," ucap Qumil.


"Dah ya say, Assalamualaikum,"


"Waalaikumusalam," sahut Najma.


Najma segera mandi karena pangeran cintanya akan segera tiba. Setelah mandi bertepatan dengan adzan maghrib, sehingga ia langsung sholat maghrib. Kemudian ia memakai daster lucu selutut bergambar minnie mouse, memakai parfum, menyisir rambut panjangnya dan memakai lip tint warna nude.


"Tit tit tit tit tit," terdengar seseorang memencet kode sandi pintu, dan pintu terbuka.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Ardi.


"Waalaikumusalam Mas," sahut Najma yang sudah siap tepat di balik pintu dengan senyuman.


"Bentar aku cuci tangan dulu Babe," ucap Ardi sambil membuka sepatu dan kaos kakinya, kemudian ia menuju wastafel untuk mencuci tangan.


Setelah bersih, Najma mencium punggung tangan pangerannya dengan takzim, dan Ardi membalasnya dengan kecupan di dahi, kedua pipi, hidung, dan bibir Najma sekilas.


"Ma syaa Allah, harum dan cantiknya bidadari nya Ardi Abdurrahman Sholih," ucap Ardi sambil meremas pipi Najma gemas.


"Aaww.. sakit sayang, mandi gih, pumpung pemanas airnya masih nyala,"


"Baik bintang kecilku, Mas mandi dulu, ini aku tadi beli nasi goreng sama capcay, kamu siapin ya buat kita makan malam,"


"Iya Mas," sahut Najma, ia segera melaksanakan perintah suaminya, juga membuat teh madu untuk mereka berdua.


Ardi yang telah mandi, memakai kaos polos warna hitam krah bulat, dan celana pendek, kemudian menyemprotkan parfum aroma maskulin di badannya yang menjadi favorit Najma. Kemudian menuju meja makan dimana istri tercinta sudah menunggu untuk makan bersama.


"Babe, kok liatin aku terus, ga pernah liat orang ganteng ya?" Ardi narsis seperti biasa.


Najma masih memandangi suaminya itu dengan tersenyum-senyum, Ardi memang tampan apalagi dengan rambut setengah kering dan berantakan, menambah kesan macho di dirinya.


"Ma syaa Allah, ma syaa Allah... ga papa lah Mas, liatin suami sendiri, daripada liatin cowok lain ya khan," ucap Najma.


"Iya makan dulu, nanti liat lagi sepuasnya deh," ucap Ardi yang menyendok nasi goreng setelah membaca basmallah.


"Habis ashar in syaa Allah, kenapa? Mau ngajak kemana?"


"Nggak, siap-siap aja pas jamnya Mas pulang,"


"Kamu pasti kesepian ya Babe di kamar sendirian, mau keluar ga aku izinin, apa enaknya kamu ga usah ikut ke sini, di rumah mama aja,"


"Ah, ga mau ah, takut kangen aku, terus Mas capek-capek pulang ngajar musti bersih-bersih sendiri, ya jangan ah, biar aku aja, aku senang di dekat Mas, toko juga in syaa Allah aman kok,"


"Ehm, gitu ya, alhamdulillah alhamdulillah punya istri yang sangat pengertian, ma syaa Allah, eh iya pesanan souvenir itu gimana?"


"Udah aku serahin sama perajin aku yang baru, aku sudah nambah pegawai tiga, satu perajin, satu pegang olshop, satunya admin, tapi tetap Risma yang jadi manager toko, dia yang paling lama kan,"


"Alhamdulillah kalau gitu, semoga bisnis kamu lancar terus ya Babe,"


"Aamiin," sahut Najma.


"Alhamdulillah kenyang," ucap Ardi setelah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Punyaku belum habis Mas, bantuin habisin," rengek Najma.


"Eh, dihabisin biar sehat, udah kamu makan semampu kamu, kalau ga habis nanti Mas yang makan,"


Najma hanya mengangguk setuju. Ardi meminum teh madu buatan Najma.


"Hmm, ma syaa Allah, nikmatnya," ucap Ardi.


"Alhamdulillah," ucap Najma setelah akhirnya bisa menghabiskan makan malamnya.


"Tuh kan bisa gitu ngabisin," ujar Ardi.


"Kalau aku gendut gimana Mas? Ah, makan segitu banyaknya,"


"Ga papa tetep cantik di mata aku, makanya nanti malam olah raga, bakar kalori, di kasur," goda Ardi.


"Hmmm maunya," cebik Najma.


"Emang kamu ga mau?" tanya Ardi.


"Mau sih," sahut Najma malu-malu.


.


.


Esok paginya seperti biasa pukul tujuh Ardi sudah berangkat ke kampus bersama Ardi diantar Arif, rencananya mereka juga menjemput Qumil di tempat kost nya juga karena Qumil juga ada kuliah pagi.


Tinggallah Najma sendirian di kamar. Ia mencuci piring bekasnya sarapan bersama Ardi, kemudian memasukkan baju kotor yang tal seberapa jumlahnya ke dalam mesin cuci. Dan sembari menunggu cucian selesai, ia olahraga ringan seperti squat dan blank, Ardi telah mengajarinya beberapa waktu lalu agar tetap bugar dan berat badan terjaga.


Ketika Najma sudah lelah, perutnya merasa lapar lagi, maka dia membuat jus buah naga yang ada di kulkas.


"Drrt..drrt.." ponselnya bergetar, rupanya Ardi yang mengirim pesan. Ia segera membaca pesan itu.


"My baby sweety honey.. lagi ngapain?"


^^^"Habis olahraga, ini minum jus, Mas lagi istirahat?"^^^


"Gak, ini di kelas, mahasiswanya lagi ngerjakan quiz, aku kangen kamu my baby honey,"


^^^"Miss u too Mas, padahal ini baru jam sepuluh, baru tiga jam pisah, waktu lama banget rasanya,"^^^


"Bosen ya? Sabar Babe, eh uda pada ngumpulin jawaban nih, udah dulu sayang, in syaa Allah aku telpon nanti,"

__ADS_1


Najma meletakkan ponselnya di atas meja lagi dan menghabiskan jusnya. Setelah itu ia menjemur pakaian di balkon setelah sebelumnya berganti baju dengan gamis dan memakai jilbab serta cadar, karena balkon itu terlihat dari luar.


Setelah pekerjaannya selesai, ia rebahan di kasur dan tidur siang sejenak mengumpulkan energi untuk menyambut suaminya pulang nanti.


__ADS_2