
Sesuai yang direncanakan, sore itu Najma berjalan-jalan bersama Qumil. Mereka pergi ke mall kota itu, membeli eskrim, bermain di arena bermain gim, dan berkeliling melihat-lihat isi mall itu.
"Udah lama juga ya Mil kita ga jalan-jalan," ucap Najma sambil mengenang masa lalu, dulu ketika ia libur dari pesantren, ayah ibunya selalu mengajaknya dan Qumil ke mall untuk sekedar jalan-jalan atau makan ayam goreng. Kenapa Qumil diajak? Karena masing-masing adalah anak tunggal, dan sebaya, jadi mereka seperti saudara, bukan hanya ayah ibu Najma yang sering mengajak mereka jalan-jalan, ayah ibu Qumil pun begitu.
"Iya Ama, semenjak kamu nikah deh kayanya, nempel terus sama suami, ini tumben banget bisa ada waktu sama aku, emang pak dokter masih ngajar?"
"Udah pulang sih, tapi aku bilang pengen main sama kamu, ya diizinin, biar doi istirahat juga Mil, nanti malam giliran sama dia,"
"Haduh, uda-udah jangan ngomongin malam panas kalian, jiwa jomblowati ku terluka mendengarnya," Qumil menutup kedua telinganya, takut mendengar cerita vulgar suami istri.
"Apaan sih Mil, emang malam cuma buat begituan, jalan-jalan tau, ngeres aja,"
.
.
Ardi sedang rebahan sendirian di atas kasur, mencoba memejamkan mata, namun tidak bisa tidur juga, sepertinya Najma juga telah menjadi candu baginya. Semenjak menikah mereka tidak pernah terpisah, kecuali ketika Ardi bekerja. Ardi melihat ke arah dapur, ia seakan melihat Najma tengah memasak untuknya, melihat arah pintu kamar mandi, seakan ia melihat Najma yang baru mandi dengan rambut terbungkus handuk seperti biasa, ia melihat keluar balkon seakan ada Najma sedang menjemur cucian.
"Ah, mengapa jadi seperti ini, aku sudah bucin rupanya," gumam Ardi sendiri, kemudian ia melihat gawai nya, membuka chat nya pada Najma siang tadi, dan Najma terakhir dilihat pukul setengah empat tadi.
"Sekarang udah jam lima, begitulah Najma, ketika bersama seseorang ia lebih suka berinteraksi dengan orang itu, dan lebih sering menyimpan ponselnya, pun ketika bersamaku, dia selalu fokus denganku, oh.. aku sangat tersiksa merindukannya, ternyata seperti ini rasanya ditinggal sendiri di rumah, aaarrghhh..," gumam Ardi sambil melempar ponselnya ke kasur. Dan memilih ke kamar mandi untuk bersiap sholat maghrib berjamaah di masjid.
Ardi mengguyur tubuhnya dengan pancuran air dingin untuk meredam hasrat kerinduannya pada Najma. Setelah itu dia berpakaian rapi siap ke masjid, dia sengaja berangkat lebih awal, takut gila sendirian lama-lama di kamar itu.
Dan ketika tiba di teras gedung lantai dasar ia bertemu Najma dan Qumil yang baru pulang dari mall.
"Mas, kok udah mau berangkat," ucap Najma.
"Iya, suntuk sendirian di kamar," sahut Ardi.
"Ini Qumil mau numpang mandi Mas,"
"Iya, silakan Mil, santai aja,"
"Ah iya," sahut Qumil.
Kemudian mereka berpisah di sana, Najma dan Qumil naik ke kamar dan Ardi berjalan menuju masjid karena Adzan telah berkumandang.
__ADS_1
Dan Yudha juga ada di masjid itu, ia baru saja mengambil wudhu.
"Assalamualaikum bro," sapa Ardi.
"Waalaikumusalam, yuk masuk," ajak Yudha.
Mereka berdua masuk dan sholat tahiyatul masjid sebelum duduk di masjid, untuk menghormati masjid. Tak lama setelah mereka sholat, sudah iqamah, mereka pindah merapatkan shaf, kemudian mengikuti imam sholat maghrib. Setelahnya, mereka berdua sholat bakdiyah maghrib, kemudian pulang bersama.
"Ar, aku tadi lihat istrimu dibonceng motor temannya, yang dulu sering sama dia, siapa namanya? Aku lupa," ucap Yudha ketika mereka berjalan pulang.
"Iya, Qumil itu, kuliah di kampusmu juga, ambil farmasi, jadi pumpung mereka ketemu, biarin dah mereka main bareng, ini mereka masih di kamar kami,"
"Iya kah, wah pas nih buat temani aku makan pizza, aku dapat voucher pizza limo, masa iya pizza semeter aku habisin sendiri, yuk ajak mereka juga makan di rumahku," ajak Yudha.
"Oke, aku panggil mereka dulu," ucap Ardi, kemudian mereka berpisah di depan gedung tempat kost Ardi.
"Ting tong.." bel pintu berbunyi.
"Mas," ucap Najma setelah membuka pintu, Ardi memang sengaja tidak langsung masuk karena ada Qumil di dalam.
"Babe, makan pizza yuk, ajak Qumil sekalian," tutur Ardi.
"Aku tunggu di bawah aja, tolong bawakan dompet dan ponsel aku aja," pinta Ardi.
"Baiklah, kami siap-siap sebentar," ucap Najma kemudian menutup pintu kembali.
Ardi duduk di depan minimarket lantai bawah sambil menunggu Najma dan Qumil.
"Yuk Mas," ucap Najma yang barusan sampai bersama Qumil.
"Yuk," Ardi berdiri.
"Nih kunci mobilnya," Najma memberikan kunci mobil pada Ardi.
"Kita jalan kaki Babe,"
"Hah? Dimana ada kedai pizza dekat sini?" tanya Qumil.
__ADS_1
"Udahlah nanti juga tahu," sahut Ardi dan terus menggiring mereka hingga sampai ke depan rumah kontrakan lantai dua di depan gedung kost mereka.
"Di sini Mas? Ini rumah siapa?"
"Iya, di sini, rumah teman aku," sahut Ardi sambil memencet kode pintu masuk.
Dan pintu terbuka, rumah itu kosong, karena Yudha masih menjemput pizza limo nya. Najma dan Qumil masih belum tahu itu rumah siapa.
"Yuk, masuk," ajak Ardi. Najma dan Qumil ikut masuk. Ardi mencari saklar lampu, dan menyalakannya setelah ketemu.
"Ini teman kamu cewek ya Mas? Rapi banget rumahnya," tukas Najma.
"Iya rapi banget, kalau cowok aku pasti jatuh cinta sama dia, hmm," Qumil tersenyum sendiri.
"Boleh banget jatuh cinta Mil, dia masih jomblo kok,"
"Ah nggak-nggak cuma bercanda kok," Qumil jadi malu karena tadi Ardi mendengarnya.
Najma dan Qumil duduk di sofa depan tv, Ardi duduk di karpet di dekat istrinya.
"Tit..Tit.. tit.." terdengar suara orang memencet kode pintu. Dan pintu terbuka, semua mata mengarah padanya.
"Assalamualaikum," sapa Yudha.
"Wa.. Waalaikumusalam," Najma dan Qumil terkejut, ternyata ini rumah Yudha.
Ardi segera berdiri membantu Yudha yang menenteng box pizza sepanjang satu meter itu, juga beberapa botol soft drink.
Ardi segera membuka box pizza itu, dan isinya banyak sekali. Yudha pergi ke dapur dan kembali membawa beberapa gelas.
"Kenapa? Kaget ya tau aku di sini juga?" tanya Yudha.
"Iya, ini Mas Ardi ga ngasih tahu kalau ini rumah dokter Yudha," jawab Najma.
Kemudian mereka makan bersama, bercanda bersama hingga mudah akrab satu sama lain, karena Yudha memang humoris dan pandai bergaul.
"Kita foto yuk, buat dipasang di ig aku," ajak Yudha.
__ADS_1
Mereka kemudian duduk berbaris berturut-turut Yudha, Ardi, Najma, dan Qumil di ujung. Yudha mengambil gambar dari ponsel pintarnya.
Sungguh kegembiraan antar teman yang tidak pernah mereka kira terjadi malam itu.