
Hari Ahad siang, setelah Yudha selesai kuliah dan Ardi selesai mengajar, mereka kembali pulang ke kotanya.
Ardi menyetir, Najma di sampingnya, dan Yudha sendirian di bangku tengah.
"Udah ada kabar dari Qumil belum?" tanya Yudha.
"Belum Yud, kamu kok lesu gitu, ada apa?"
"Aku pusing banget," sahut Yudha.
"Sakit banget kah? Bisa ditahan atau perlu analgesik Yud?" tanya Ardi sambil menyetir.
"Di tas aku ada ketorolac injeksi (sejenis anti nyeri), bisa kamu suntikkan," ucap Yudha yang mulai pucat.
Ardi segera menepikan mobilnya, sebenarnya perjalanan mereka hampir sampai namun sepertinya sakit kepala itu sangat menyiksa Yudha.
"Babe, kamu nanti yang nyetir ya, aku mau lihat Yudha dulu," pinta Ardi.
"Baik Mas," sahut Najma.
Ardi kemudian pindah ke bangku tengah bersama Yudha, dan Najma pindah ke belakang kemudi.
Ardi membuka tas Yudha dan segera menyuntikkan obat yang diminta. Setelah itu ia periksa tekanan darah, nafas, dan denyut jantung Yudha.
"Kamu udah lama kaya gini?" tanya Ardi.
"Pekan lalu aku juga kaya gini," sahut Yudha.
"Ga bisa gini Yud, kita langsung ke rumah sakit, kita periksa semuanya," ucap Ardi, Yudha hanya diam dan memejamkan matanya, mencoba tidur sambil menunggu reaksi obat bekerja.
"Babe, kita ke rumah sakit Airlangga Medika ya," ucap Ardi.
"Baik Mas," Najma mengemudikan mobil Ardi, membawa mereka menuju Rumah Sakit yang jaraknya sekitar tiga puluh menit perjalanan lagi.
Sementara itu, Ardi terus memantau keadaan Yudha, memeriksa nadi dan pernafasannya.
Akhirnya mereka sampai juga di instalasi gawat darurat rumah sakit itu. Ardi segera minta petugas untuk melakukan CT scan. Ardi langsung membawa Yudha bersama salah seorang perawat. Najma duduk di ruang tunggu dan segera menelpon Helena untuk mengabarkan keadaan Yudha. Tidak lupa ia memberi kabar pada Qumil.
Tidak lama hasil pindai CT keluar.
"Ada peradangan Dok, di sini," ucap dokter Nindy, dokter spesialis Radiologi yang berjaga. Ia menunjukkan foto pindai CT Yudha tadi.
"Iya, pekan lalu juga sakit kepala seperti ini, meningitis, ini harus segera diobati," Ardi kembali ke IGD meminta perawat memberikan infus dan obat yang dia resep kan. Kemudian meminta kamar rawat VVIP.
"Apa Ar?" tanya Yudha.
"Meningitis bro, Alhamdulillah segera ketahuan, aku limpahkan ke dokter spesialis saraf ya," tutur Ardi.
__ADS_1
"Ga mau, kamu aja yang rawat aku, kalau bukan kamu dokter penanggung jawabku, aku ga mau dirawat," ucap Yudha.
"Iya iya.. baiklah," tidak ada pilihan untuk Ardi kecuali mengalah pada Yudha.
"Sudah berkurang sakitnya?" tanya Ardi.
"Alhamdulillah sudah berkurang," sahut Yudha.
"Obat hari ini sudah masuk semua, tinggal untuk nanti malam, akan diberikan perawat, aku tinggal dulu ya, mama papamu ada di luar, aku temui mereka dulu ya, eh iya, nanti ada dokter jaga, tapi aku akan meminta menelpon ku bila ada apa-apa, aku pulang dulu, kamu istirahat," tutur Ardi, Yudha mengangguk dam tersenyum.
Setelah berbicara dengan orang tua Yudha, Ardi dan Najma kemudian berpamitan.
"Makasih ya Ardi, Najma, kalau tidak segera ketahuan bahaya kan, Om minta kamu yang jadi dokter utamanya," tutur Rendra.
"Baik Om, in syaa Allah saya upayakan yang terbaik, dan saya minta bantuan doa dari Om dan Tante " ucap Ardi.
.
.
Sesampainya di rumah, Ardi dan Najma mandi untuk membersihkan diri mereka, kemudian sholat Maghrib. Dan setelahnya, Najma langsung membongkar koper dan mencuci baju yang kotor. Sedangkan Ardi di dapur menyiapkan makan malam.
"Ting tong..." bel pintu berbunyi, Ardi segera mematikan kompor dan melihat di layar monitor siapa yang datang.
"Hah Mama Papa, Iya Ma, Pa tunggu sebentar ya," ucap Ardi melalui monitor itu.
"Iya Mas," Najma segera datang ketika dipanggil.
"Ada Mama Papa, kamu pakai jilbab kamu,"
"Oh, baik Mas, eh bentar-bentar," Najma mendekati Ardi dan mencium kedua pipi suaminya itu.
"Babe, apa ini," Ardi terkejut.
"Ya ga papa Mas, cuma pengen cium pipi suami sendiri," ucap Najma sambil berlari ke atas menuju kamarnya.
Ardi tersenyum melihat tingkah istrinya, kemudian memencet tombol buka di monitor itu. Tiit .. kunci pintu terbuka.
"Assalamualaikum," ucap Hamida dan Rahman ketika memasuki rumah putranya.
"Waalaikumusalam," sahut Ardi, kemudian ia mencium tangan dan memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Apa kabar Ma, Pa? Kok tumben ke sini ga ngabarin dulu,"
"Iya, tadi mau ke rumah Arya dulu, baru ke sini, eh mereka lagi pergi, jadi kami langsung ke sini, maaf ya, kami ganggu ya, kalian lagi apa?" tanya Hamida balik.
"Gak, gak ganggu, malah senang ditengokin Mama Papa, aku masak makan malam, makan di sini sekalian ya Ma, Pa," sahut Ardi.
__ADS_1
"Kamu masak apa? Ini Mama bawa capcay dari rumah, eh kok kamu yang masak? Najma mana?" tanya Hamida.
"Tadi dia beresin koper, sekarang lagi di atas, ganti baju, ga enak ada tamu masa pake daster, ga papa juga lah Ma, aku bantuin istri masak, sekali-kali," ucap Ardi.
"Assalamualaikum Ma, Pa," ucap Najma yang baru turun dari kamar kemudian mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim.
"Waalaikumusalam," sahut mereka semua.
"Yuk ke belakang, aku lanjutin masaknya," ajak Ardi.
"Kamu masak apa sih Ar?" tanya Rahman.
"Yang gampang aja Pa, nasi goreng," sahut Ardi. Malam itu Ardi membuat nasi goreng boga bahari, seadanya di dalam kulkas ia masak, ada udang, cumi, salmon, ia masukkan semua ke dalam nasi goreng itu.
"Silakan duduk, Ma, Pa, saya buatkan minuman," ucap Najma, kemudian ia di samping Ardi membuat minuman.
Karena adzan Isya sudah berkumandang, Ardi segera mengganti pakaian dan pergi ke masjid bersama Rahman. Najma dan Hamida sholat berjamaah di rumah. Setelahnya mereka makan malam bersama, tidak lupa Ardi juga menceritakan kejadian tentang Yudha tadi sore.
"Ya Allah, Yudha... semoga Allah segera angkat penyakitnya," ucap Rahman.
"Aamiin," sahut semuanya.
.
.
Malam harinya, Najma dan Ardi sudah siap di pembaringan.
"Mas,"
"Hmm, apa Babe?"
"Meningitis itu bisa sembuh kan?"
"Tergantung dari tingkat beratnya Babe, kalau infeksinya sudah parah ya sulit, tapi kalau segera ditangani seperti Yudha tadi, in syaa Allah bisa disembuhkan," sahut Ardi, kemudian ia memiringkan badannya dan memeluk istrinya itu.
"Kenapa tanya itu?" lanjut Ardi.
"Ya pengen tahu aja Mas, kasian Qumil kalau sampai mas Yudha kenapa-kenapa, dia senang banget dengan lamaran itu,"
"Kita doakan yang terbaik untuk mereka, dan semoga Allah mengangkat penyakit Yudha,"
"Aamiin," ucap Najma.
"Kamu miring kanan Babe, biar dapat pahala sunnah sebelum tidur, aku peluk dari belakang,"
Najma miring kanan membelakangi Ardi, dan Ardi memeluk nya dari belakang.
__ADS_1
"Good night my baby, I love you," ucap Ardi seraya mencium rambut Najma.