
Sore hari sepulang bekerja, Ardi mampir ke restoran Arya.
"Hai Ar..tumben ga langsung pulang," sapa Arya.
"Iya Mas, mau pesan menu makanan buat nanti kita makan malam di rumahku," sahut Ardi.
"Ada acara apa?" tanya Arya.
"Ga ada, pengen aja ngajak keluarga makan bersama, Mas Arya sama Mba Sarah juga datang ya," pinta Ardi.
"Oke, kamu mau pesan apa? Korean food ya?" tanya Arya.
"Itu Mas tahu sendiri adik iparnya suka apa, japchaee, dakgalbi, sundubujiggae, tambahin apalagi gitu Mas," jawab Ardi.
"Oke...oke jangan khawatir Ar, aku masakin sendiri nanti," tukas Arya.
"Oke, nti jam berapa mau dibawain?"
"Habis Maghrib ya Mas, biar bisa disiapin sama Mama,"
"Siaap," tukas Arya.
Di rumah Ardi... mama papa juga Najma sedang berkumpul bersama baby Icha dan Akbar di ruang tengah, mereka baru mandi, bau harum bayi semerbak memenuhi ruangan itu.
"Assalamualaikum," sapa Ardi.
"Waalaikumussalam," sahut papa mama dan Najma.
"Kok baru pulang Ar," ucap mama Hamida.
"Iya, mampir beli bunga," Ardi mengeluarkan dua buket bunga dari balik badannya.
"Mas...kok tumben bawa bunga..buat siapa nih?" tanya Najma seraya berdiri mendekati suaminya.
"Yang ini buat istri tercinta, Umma dari Akbar dan Icha," ucap Ardi sembari menyerahkan buket bunga mawar merah pada Najma.
"Hmm... Makasih...kayanya ini pertama kalinya aku dikasih bunga sama cowok...hihihi," ucap Najma seraya menghirup wangi bunga itu dan ia terlihat bahagia.
"Yang ini buat Mamaku, makasih Ma, sudah menemani kami selama ini," ucap Ardi yang juga menyerahkan buket bunga mawar putih untuk mama Hamida.
"Ma syaa Allah... Alhamdulillah...makasih sayang anak Sholih ku," ucap mama Hamida yang sangat terharu menerima buket bunga dari putra bungsunya itu.
"Sama-sama Ma, baiklah, pa ma aku mandi dulu ya, eh iya minta tolong Bu Tami siapkan piring, nanti habis Maghrib mas Arya bawain makanan, kita makan sama-sama, aku undang mas Arya dan Mba Sarah juga," ucap Ardi.
__ADS_1
"Oh iya, nanti mama bilang Bu Tami, udah kamu mandi sana biar seger," sahut mama Hamida.
"Bababa...baba..!!" panggil Akbar yang berdiri mengulur tangan pada Ardi minta digendong.
"Oh sayang, bentar Baba mandi dulu nak, masih banyak kuman, Akbar tunggu dulu ya," ucap Ardi.
"Amau...babaaa!!!" Akbar merengek dan menangis.
"Baiklah, yuk sama Umma, kita temani baba mandi ya," ucap Najma meraih Akbar dan menggendongnya.
"Nitip Icha ya Ma Pa, saya temani mereka dulu, sama siapin bajunya Mas Ardi," ucap Najma.
"Kamu bisa gendong Akbar? Ga sakit bekas jahitannya?" tanya Mama Hamida.
"Ga pa pa Ma, kami ke atas dulu," sahut Najma dan segera mengikuti Ardi yang sudah sampai di pertengahan tangga.
"Ardi kenapa ya Pa? Kok tumben bawa bunga, ngajak makan bersama pula," tanya mama Hamida pada papa Rahman.
"Ya mana ku tahu Ma, nanti pasti dia akan kasih tahu kita," sahut papa Rahman.
"Udah ah aku mau taruh bunga-bunga ini dulu di vas, Najma simpan dimana ya vas bunganya...Bu Tami...Bu Tami...!!!" mama Hamida pergi ke dapur membawa dua buket bunga itu.
Di kamar atas, Ardi tengah mandi, Najma dan Akbar bermain di karpet dekat tempat tidur.
"Mandi, baba lagi mandi," jawab Najma dengan sabar karena tak sekali dua kali bocah gembul itu bertanya, mungkin akan berhenti bertanya setelah melihat Ardi.
"Baba kok lama yaa, kita lihat yuk," Najma membuka handle pintu yang tidak dikunci itu, nampak Ardi berbalut handuk di bagian bawah tubuhnya sedang mencukur kumis dan merapikan jenggot.
"Baba!" panggil Akbar seraya berlari masuk ke kamar mandi menghampiri Ardi.
"Hmmm!!!" Ardi yang mulutnya tertutup karena pipinya penuh krim cukur cuma bisa menyahut sambil terus menutup mulutnya.
"Baba apain (Baba ngapain)?" tanya Akbar, bocah itu sedang fase ingin tahu segala hal.
Ardi segera membasuh krim di wajahnya dengan air. Dan tersenyum pada Akbar dan Najma.
"Baba cukur kumis Nak," sahutnya.
"Yuk keluar, Baba sudah selesai, Ardi menggendong Akbar ke kamar dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Kemudian ia berganti pakaian dan bermain sebentar dengan putra angkatnya itu.
"Mas, aku ke bawah dulu ya, waktunya Icha menyusu," pamit Najma.
"Iya Babe," sahut Ardi.
__ADS_1
"Lhoh Ardi sama Akbar ga ikut turun?" tanya mama Hamida.
"Cowok-cowoknya masih asyik main Ma, mana Icha Ma, sudah waktunya menyusu," Najma mengambil Icha dari gendongan mama Hamida, dan membawanya ke kamar bayi untuk disusui.
Ardi menggendong Akbar turun dari tangga, mereka sudah siap untuk sholat Maghrib di masjid.
"Najma mana Ma?" tanya Ardi sambil menengok ke sana kemari mencari istrinya.
"Lagi nyusuin Icha di kamar," sahut mama yang tengah sibuk menyiapkan peralatan untuk makan malam.
"Oh, gitu, aku ke masjid dulu ya, bentar lagi masakannya datang," pamit Ardi.
"Eh, Ar bentar," panggil mama Hamida.
Ardi terhenti dan mama Hamida mendekatinya.
"Kamu pesan masakan apa? Kesukaan Ama atau bukan?" tanya mama Hamida dengan agak berbisik.
"Masakan Korea dari restoran mas Arya, itu kesukaan Najma, memang kenapa Ma?" Ardi balik bertanya.
"Dia masih belum stabil, tadi masih melamun, tapi sudah ga sesedih kemarin, dia butuh perhatian kita, ya baguslah kalau kamu pesan makanan kesukaannya, gimana juga baru jadi ibu, masih sensitif dia, kamu tadi juga kemajuan deh bawain bunga, ya harus gitu, jadi suami yang romantis, perhatian sama istri,"
"Hehehe iya Ma, aku juga lagi berusaha ini biar Najma bahagia, ga stres lagi," ucap Ardi, kemudian ia berangkat ke masjid bersama papa Rahman dan Akbar dalam gendongan dia.
Bada isya semua keluarga berkumpul di meja makan. Baby Icha dan Akbar sudah terlelap ditemani Bu Tami di kamar anak-anak.
"Ada acara apa sih Ardi? Ngajak makan malam bareng," tanya Arya.
"Ga ada Mas, pengen aja makan sama-sama, tapi aku juga ada sesuatu," sahut Ardi.
"Apa itu Mas?" Najma juga bertanya-tanya.
"Aku sudah tidak menjabat sebagai kepala instalasi bedah sentral, udah ada yang gantiin," jawab Ardi.
"Dokter Sabrina?" tanya Najma.
"Emm...bukan, dokter Akbar, baru datang hari ini, aku senang ada dokter spesialis bedah syaraf baru lagi," sahut Ardi.
"Jadi berkurang tugas kamu Ar, bisa fokus melayani pasien aja," tukas mama Hamida.
"Yang ada tambah sibuk dia Ma," celetuk Sarah.
"Kok bisa? Bukannya tanggung jawabnya sekarang cuma ke pasien yang dia tangani aja," papa Rahman terheran juga.
__ADS_1
"Kamu punya jabatan baru Ar?" tanya mama Hamida.