
Najma mencoba menelpon Ardi, namun ponsel Ardi tidak aktif.
"Ponsel mas Ardi ga aktif, bentar Mba, aku yang pesan tiket pesawat via online, aku lihat dulu nomor penerbangannya, pesawat yang jatuh itu berapa nomor penerbangannya?"
"Ini Ama," Sarah menunjukkan ponselnya yang sedang membuka berita online.
"Sama Mba... mas Ardi...." dan pecah tangisan Najma....
Sarah memeluk Najma.
"Sabar dulu Ama, kita berdoa saja, semoga Ardi selamat, kamu tenang dulu, aku telpon mas Arya dulu, siapa tahu bisa cari informasi penumpang pesawatnya," ucap Sarah, ia segera menghubungi suaminya.
Setelah Arya mendapat kabar dari Sarah, ia segera menelpon orang tuanya. Dan tentu saja Rahman dan Hamida terkejut dengan berita itu, bahkan Hamida langsung pingsan mendengar nomor penerbangannya sama dengan tiket Ardi.
Setelah Hamida sadar, mereka segera ke rumah Ardi. Begitu juga Arya yang meninggalkan restoran dan menyerahkan kepada anak buahnya, kemudian menuju rumah Ardi.
"Mama..." ucap Najma begitu melihat Hamida, wanita paruh baya itu langsung memeluk menantu bungsunya.
"Mama Mas Ardi Ma..." kata Najma sambil terisak.
"Tenang sayang, kita ikuti beritanya sambil terus mencari informasi, semoga saja Ardi tidak ada dalam pesawat itu," tutur Hamida mencoba menenangkan Najma, walaupun dia sendiri sebenarnya juga sedih dan takut akan terjadi hal buruk pada putra bungsunya itu.
Arya dan Rahman terus menelpon maskapai penerbangan Viva air, namun selalu sibuk, mungkin banyak juga orang yang mencari informasi keluarganya seperti mereka.
Najma memutuskan untuk pergi ke kamarnya, mencoba menenangkan diri. Baby A berada di kamarnya bersama Salma dan Dinda diasuh oleh Bu Ani dan mba Fitri pengasuh Salma.
Najma duduk di sofa memeluk majalah dengan cover foto Ardi yang pagi tadi dia lihat. Dia jadi teringat semalam pesan Ardi untuk menamai buah cinta mereka...
"Masih empat bulan janin ini tapi mas Ardi sudah kasih nama, dan pagi tadi aku ingin terus melihat foto mas Ardi... apa ini semua pertanda bahwa mas Ardi harus pergi Ya Allah..." lirih Najma dengan derai air mata membasahi kedua pipinya.
Najma teringat kembali masa-masa indah bersama Ardi, seperti film yang ingin ia putar kembali. Ketika mereka bertemu untuk pertama kali di pondok pesantren, kemudian kedua kalinya ketika Ardi mengantar puding buatan mamanya, ketika Ardi ketiduran di sofa rumahnya lantaran kecapaian sehabis memimpin operasi, ketika Ardi tidak sengaja melihat wajah Najma untuk pertama kalinya di vila keluarganya. Juga waktu lamaran dan selanjutnya akad nikah dimana pertama kali mereka bersentuhan berjabat tangan.
Di lantai bawah, semua berkumpul di ruang tengah, hening dalam doa dan juga terus berharap semoga Ardi tidak kenapa-kenapa.
Hamida teringat pesan yang dikirimkan Ardi sebelum berangkat tadi pagi, ia minta Hamida bersaksi bahwa Ardi anak yang baik. Sebagai ibu Hamida juga merasa resah belum ada kabar apapun dari Ardi. Rahman memeluk Hamida mencoba menenangkan istrinya. Baik Rahman maupun Hamida sangat menyayangi putra-putra mereka, baik Arya maupun Ardi keduanya anak penurut, sejak lulus SD masuk pesantren sambil sekolah, hingga kuliah, bahkan keduanya juga hafidz Al Qur'an.
__ADS_1
Dan sekarang Arya membaca beberapa surat Al Qur'an untuk membuat tenang dirinya dan keluarganya juga agar hafalannya tidak hilang, karena tugas seorang penghafal Al-Qur'an adalah murojaah/ mengulang kembali hafalan agar tidak lupa. Dia sendiri juga masih terus berharap adik satu-satunya masih sehat dan selamat tidak kurang satu apapun.
Hingga adzan dhuhur berkumandang, semuanya khusyu mendengar dan menjawab bacaan adzan, setelah itu mereka berdoa setelah adzan, juga banyak-banyak berdoa untuk keselamatan Ardi, karena diantara waktu terkabulnya doa adalah waktu antara adzan dan iqamah. Arya dan papanya pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Sedangkan para wanita sholat berjamaah di rumah.
Najma kembali ke kamarnya setelah sholat. Ia duduk di sofa lagi sambil kembali memeluk majalah bercover foto Ardi tadi.
"Tok...tok...tok...." ada yang mengetuk pintu kamar Najma. Terdengar suara pintu dibuka dan muncul Sarah membawa nampan berisi makan siang untuk Najma.
"Ama makan dulu yuk," ucap Sarah sambil meletakkan nampan di atas meja.
"Aku ga mau makan Mba, ga laper," Najma menolak untuk makan.
"Najma, makan, biar kamu tetap kuat, ada Akbar yang harus kamu rawat, juga janin kamu butuh makan juga, yuk makan, denger ya...aku dokter kamu lho, nurut,"
Najma tak bisa menolak lagi karena memang Sarah ada benarnya, dia harus bertahan untuk Akbar dan janin dalam kandungannya.
"Aku bawa dua piring, aku temani kamu makan," ucap Sarah yang duduk di samping Najma.
Najma mulai menyendok makanannya, dan merasa familiar dengan masakan itu.
"Iya, tadi Arif yang antar dari rumah,"
"Mas Arif di sini?" tanya Najma.
"Iya, tadi, sekarang sudah pulang,"
"Yah padahal aku mau tanya tadi gimana ngantar mas Ardi, apa terjadi sesuatu,"
"Udah, papa udah tanyain tadi Ama,"
"Gimana katanya Mba?"
"Arif cuma ngantar sampai depan bandara, sama Ardi Arif disuruh langsung pulang, jadi dia ga tau bagaimana Ardi di dalam bandara," sahut Sarah.
"Oh ..." Najma membuang nafas berat.
__ADS_1
"Tapi sebelum aku ke sini tadi, mas Arya berhasil menghubungi maskapai Viva air, katanya Ardi ga naik pesawat itu,"
"Alhamdulillah, tapi mas Ardi dimana coba, apa ikut penerbangan lain?"
"Aku ga tau, semoga aja gitu, tadi petugas Viva air buru-buru nutup telponnya karena masih banyak juga yang nelpon,"
"Berarti masih ada harapan ya Mba, Ya Allah semoga mas Ardi baik-baik aja,"
"Aamiin, itu apa di pangkuan kamu?"
"Ini aku ga punya foto mas Ardi yang besar, jadi majalah ini aja aku peluk," sahut Najma.
Setelah makan, Sarah memberikan obat pada Najma, agar Najma bisa beristirahat, tentu saja dengan dosis dan pengawasannya.
"Mba ini apa kok kaya bukan vitamin aku biasanya?" tanya Najma.
"Anggap saja vitamin juga, nurut sama dokter,"
Najma pun menurut meminumnya. Hingga akhirnya dia mengantuk dan bisa tidur. Ia hanya bangun untuk sholat, kemudian tidur lagi.
.
Hingga malam tiba, tidak ada satupun dari mereka meninggalkan rumah itu, dan tiba-tiba ponsel Hamida ada panggilan masuk dari nomor baru yang belum ia kenal.
"Drrrt...drrrtt..."
"Siapa Ma?" tanya Rahman.
"Ga tau nomor baru," sahut Hamida.
"Angkat aja Ma, mungkin penting," ucap Arya.
Hamida kemudian menarik tombol hijau di layar ponselnya kemudian menyalakan loud speaker agar semua bisa mendengar.
"Halo Assalamualaikum," sapa Hamida.
__ADS_1
"Waalaikumussalam..." jawab yang di seberang.