
Episode sebelumnya...
"Shantiii.. " Panggil Bumi yang ternyata sudah berada di depan pintu yang terbuka lebar, Shanti sedang menyalakan lilin di kuenya karena sebentar lagi acaranya akan segera di mulai. Di sekeliling Shanti juga ada beberapa orang yang membantu gadis itu memotong kuenya dan sudah pasti orang-orang itu adalah keluarga Shanti.
Bumi merasa suaranya tadi kurang keras, kerena Shanti sama sekali tidak bergeming saat dirinya memanggil nama gadis itu. Bumi sekali lagi akan memanggil Shanty, namun kali ini, Bumi akan sedikit berteriak.
###
Happy Reading and Enjoy guys.
###
"SHANTI." Teriak Bumi.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah Bumi dan terlihat heran mungkin di dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan laki-laki ini?
Shanti terlihat kaget melihat kedatangan Bumi gadis itu langsung berlari ke arahnya terlihat panik dan mengajaknya segera keluar dari rumahnya untuk berbicara di luar. Namun baru saja mereka akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah, suara berat seorang laki-laki tiba-tiba saja menghentikan mereka.
"Shanti, kalian mau kemana?. "
Shanti dan Bumi yang mendengar suara itu langsung berhenti dan menoleh.
"Eh Ayah. "
Laki-laki paruh baya itu menghampiri mereka. Bumi tampak terpaku melihat laki-laki itu, Bumi merasa sangat familiar terhadapnya seperti pernah melihatnya di suatu tempat? Atau perasaan seperti laki-laki paruh baya itu pernah sangat dekat dengan dirinya. Bumi memperhatikan laki-laki itu secara lebih seksama, luka-luka dari masa lalunya tiba-tiba saja melayang-layang dalam pikirannya, seperti video yang terputar secara otomatis di dalam otaknya. Bumi kemudian menyadari sesuatu, ia menyertakan giginya. Lak-laki paruh baya itu berjalan ke arah Bumi dan Shanti.
"Tidak lama lagi acaranya akan di mulai, kalian mau kemana?hmmm kamu siapa? . " Tanya Ayah Shanti.
"Ayah, ini temanku aku lupa bilang kalau aku juga mengundang salah satu temanku yang ku temui saat sedang dalam perjalanan bisnis beberapa tahun yang lalu. " Shanti terlihat sedikit panik saat menjelaskan.
"Ayah?"
"Shanti, acaranya sudah mau di mulai sayang. itu siapa?. " Seorang perempuan paruh baya datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Eh Ibu, Iini teman Shanti. " Ujar Shanti.
Deg. Bumi terbelalak kaget, Ayah? Ibu?.
"Kok Ayah kayak pernah liat yah teman mu ini, tapi dimana yah ? Nama kamu siapa ?. " Tanya Ayah Shanti kepada Bumi.
Bumi yang mendengar pertanyaan itu, seperti merasakan ada sesuatu yang menusuk dadanya. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, laki-laki paruh baya itu sama sekali tidak mengingatnya. Bumi bagaikan tersambar petir di malam hari yang cerah, Ayah dan ibu Shanti ternyata adalah orang yang paling tidak Ingin Bumi temui. Bumi merasa sangat prustasi dalam hatinya ia ingin segeran pergi dari sana.
Melihat Bumi yang hanya diam saja, Shanti menyikut perut Bumi. Bumi kemudian tersadar dari lamunannya dan dengan percaya diri mengulurkan tangannya kepada ayah Shanti.
"Perkenalkan nama saya Bumi Sakti, saya bekerja di bidang fornitur dan menjalankan perusahaan saya sendiri dan tentunya dengan usaha yang sangat keras, ini adalah kartu nama saya, tolong hubungi saya jika anda sedang membutuhkan uang. " Bumi menyodorkan kartu namanya lalu menggenggam tangan ayah Shanti dengan sangat erat. Bumi menatap matanya lekat-lekat sebelum berlalu pergi.
"Saya menyesal bertemu dengan anda di tempat ini, harusnya saya melihat anda di pemakaman mama saya. " Ujar Bumi.
Keluarga Shanti yang sedang melihat kejadian itu langsung berdiri karena terkejut mendengar ucapan tidak sopan Bumi barusan dan beberapa di antara mereka berjalan ke arah pintu.
Ayah Shanti, nampak diam membisu, seperti menyadari sesuatu.
Shanti dan ibunya yang mendengar hal itu sangat terkejut, utamanya Shanti yang tidak mengerti apa-apa, gadis itu nampak sangat syok melihat perlakuan Bumi kepada ayahnya.
"Bumiii, Bumiii.. " Teriak Shanti,
Teriakan itu berhasil menghentikan Bumi.
"Kamu kenapa sih, kamu gak sopan tau gak sama keluargaku, kamu sengaja mau hancurin acara aku malam ini? kamu marah sama aku karna gak langsung temuin kamu?. " Cecar Shanti.
Bumi hanya diam membisu, lalu berjalan kembali menuju keluar gerbang, Shanti tetap berjalan menyusulnya.
"BUMIIIIII." Teriak Shanti.
Bumi menghentikan langkahnya lagi. Shanti langsung memegang kerah baju Bumi sampai robek.
"Kurang aja yah kamu. "
__ADS_1
..."plak, plak. "...
Dua kali tamparan mengenai pipi Bumi.
"Kenapa kamu ngelaukim itu sama aku? Kamu tau gak di dalam sana banyak keluargaku yang ngeliat? kalau kamu marah sama aku gak gitu caranya? kamu ngehancurin acara ulang tahun aku dan kamu udah nyakitin hati keluarga aku dengan kata-kata kamu itu, kami jauh lebih kaya dan lebih punya segalanya dari pada kamu Bumiiiiiii. " Shanti nampak sangat menggebu-gebu, emosinya tidak terkontrol memukuli Bumi, hingga kancing pakaian Bumi lepas karena Shanti menariknya dengan kasar.
Bumi kemudian menahan Shanti, memegang kedua pundaknya dan menatap matanya.
"Kamu, keluarga kamu. " Bumi menunjuk-nunjuk wajah Shanti.
"Kalian semua yang jahat. "
"Kalian yang udah bunuh mama gue. "
"Bukan gue yang jahat, kalian yang jahat sama gue. " Shanti diam mematung melihat Bumi yang baru pertama kali ini terlihat sangat marah kepadanya. Shanti benar-benar tidak mengerti apa maksud Bumi, belum sempat bertanya letusan kembang api mengalihkan perhatian mereka.
Supir food truck menyalakan kembang api sesuai intruksi Bumi, tepat pukul dua belas malam. Bintang keluar dari dalam food truck sambil membawa kue yang lilinnya sudah di nyalakan.
Melihat itu Shanti semakin menangis histeris, tidak mengerti apa yang harus dia lakukan dan apa yang sedang terjadi.
"KITA PUTUS. " Teriak Bumi, lalu berjalan ke arah Bintang dan menariknya masuk ke mobil.
"Mas? kuenya? " Tanya Bintang yang sebenarnya sedari tadi melihat pertengkaran Bumi dan Shanti namun tidak dapat melakukan apa-apa.
Bumi mengambil kue tersebut lalu membuangnya ke gerbang rumah Shanti, mengambil cincin berlian yang ada di sakunya dan membuangnya ke arah Shanti. Bumi berlalu pergi mengendarai mobilnya bersama Bintang yang tidak tahu harus melakukan apa.
Ibu Shanti dan keluarga besarnya yang sedari tadi melihat kejadian itu tampak syok. Ibu Shanti menatap suaminya dengan tatapan tajam, seolah meminta penjelasan atas semua yang telah terjadi barusan.
Shanti menangis sejadi-jadinya, kakak-kakak Shanti kemudian berlari keluar gerbang membawakan selimut untuk menutupi tubuh adiknya itu, lalu membawanya kembali ke dalam rumah.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca, klik like dan tinggalkan komentar kalian. saran dan masukan yang membangun akan lebih berbuga untuk penulis menjadi lebih baik lagi ke depannya.
__ADS_1
Author
#kimel#