
Hari berganti... Saatnya Yudha kembali ke aktivitas biasanya.. dengan berat hati dia meninggalkan istrinya yang baru satu pekan ia nikahi di rumah kecilnya di luar kota, ia harus kembali ke kota asal untuk mengemban tugasnya sebagai wakil direktur rumah sakit Airlangga.
Begitu juga Ardi dan Najma yang pagi itu sudah sibuk bersiap ke toko dan ke rumah sakit. Keduanya mulai fokus dengan pekerjaan masing-masing, Najma mulai membantu kedua mertuanya mengurus brand baju muslim mereka, juga tokonya yang semakin ramai dan banyak pelanggan juga pesanan partai besar.
"Kamu gak makan Babe?" tanya Ardi yang sedari tadi belum melihat Najma menyendok makanan yang disiapkan Bu Ani.
Najma hanya menggeleng, ia hanya minum susu di gelasnya.
"Kenapa?" tanya Ardi lagi.
"Gigiku sakit Mas," sahut Najma sambil meringis, pertanda dia merasakan sakit dan tidak nyaman.
"Yang mana? Coba aku lihat.. aaa," Ardi meminta Najma membuka mulutnya.
Najma membuka mulutnya dan menunjukkan giginya yang sakit.
"Oh gigi bungsu Babe, itu harus dicopot, tapi kalau sakit biasanya dokternya menolak, jadi minum anti nyeri dulu ya, aku ambilkan obatnya," ucap Ardi kemudian mengambil analgesik dari laci lemari dekat ruang tengah, dan memberikannya pada Najma. Najma segera meminum obat anti nyeri itu.
"Kamu di rumah aja ya, ga usah ke toko, nanti lihat kerjaan, stres, malah tambah sakit," pinta Ardi. Najma hanya mengangguk.
"Minum jus ya biar ga lemes.." Ardi begitu khawatir dengan keadaan Najma. Lagi-lagi Najma hanya mengangguk, nurut saja lah sama Mas dokter pujaan hatinya.
"Bu Ani .." panggil Ardi pada Bu Ani yang tengah menjemur pakaian di belakang bersama Dinda.
"Iya Mas Ardi, ada yang bisa ibu bantu?"
"Ada buah apa di rumah?" tanya Ardi.
"Banyak Mas, ada apel, mangga, alpukat, tomat, jeruk, kemarin Mba Najma baru belanja," sahut Bu Ani.
"Itu aja, jus alpukat, gulanya dikit aja Bu, tolong bikin buat Najma ya," pinta Ardi.
"Baik Mas," sahut Bu Ani kemudian segera melaksanakan perintah majikan mudanya itu.
"Babe aku berangkat dulu ya, kamu istirahat di kamar aja," pesan Ardi setelah mengecup kening Najma.
"Mas, kalau udah ga sakit, aku ke rumah sakit ya.." ucap Najma.
Ardi berpikir sejenak, kemudian menjawab.
__ADS_1
"Tapi hari ini aku ga bisa nemenin kamu Babe, ini Ilham asisten aku di poli klinik bilang kalau janji temu pasien hari ini banyak,"
"Ga papa aku bisa sendiri in syaa Allah," ucap Najma.
"Beneran?" tanya Ardi.
"He em beneran Mas,"
"Okelah, nanti ke poli bedah mulut ya, kalau masalah sama gigi bungsu biasanya langsung ke poli bedah mulut," ucap Ardi.
"Baik Mas,"
"Nanti pakai BPJS saja, kamu nyimpan kartunya kan?"
"Ada Mas, tapi kenapa gak bayar mandiri aja, kita kan masih mampu.."
"Iya, tapi mas kan abdi negara, dapat fasilitas ya dipakai aja," sahut Ardi, sementara Najma hanya mengangguk.
Ardi kemudian meninggalkan rumah dan melaju menuju rumah sakit umum untuk menemui pasien yang telah membuat janji temu dengannya.
.
.
Sampai di rumah sakit, ia mendaftar di loket pendaftaran dan menunggu di ruang tunggu di depan poli bedah mulut sesuai pesan Ardi tadi. Setelah beberapa saat ia dipanggil masuk ke dalam, bertemu dengan perawat gigi, asisten dokter gigi spesialis bedah mulut.
Menurut perawat itu, sang dokter masih ada operasi di kamar operasi, pagi itu ada tiga jadwal operasi kata mbak perawat.
"Terus saya harus gimana Mba?" tanya Najma.
"Kalau mau nunggu ya silakan nunggu Mba, tapi kalau mbaknya sibuk ya besok datang ke sini kembali saja," jawab perawat dengan papan nama bertuliskan Rinjani itu, perawat itu terlihat baik dan sopan bicaranya.
"Saya tunggu aja deh Mba.." ucap Najma, pikirnya, agar sakit giginya cepat diatasi.
"Ehm..kalau gitu Mba Najma sekalian foto panoramic aja di radiologi ya, saya kasih pengantarnya," ucap Rinjani.
"Baik Mba,"
Najma ke bagian radiologi untuk foto panoramic giginya, dan kembali ke poli bedah mulut sambil membawa hasil fotonya.
__ADS_1
"Ini Mba," Najma menyerahkan lembaran foto x Ray itu pada Rinjani. Perawat itu melihat sejenak.
"Ah ... ini ternyata Mba, gigi bawah kanan kan yang sakit?" Najma mengangguk.
"Jadi gigi kanan bawah itu gigi bungsu yang tumbuh, namun tumbuhnya ga ke atas, tapi miring ke depan, jadi sakit pas kena gigi sebelahnya,"
Najma hanya mengangguk-angguk.
"Mba tunggu dulu ya, dokternya masih ada operasi," ucap Rinjani.
"Iya Mba, bolehkah saya nunggu di sini saja? Di luar yang nunggu laki-laki semua, saya kurang nyaman, dan kalau nanti dokternya datang dan belum waktunya saya periksa, saya akan keluar dulu," pinta Najma. Rinjani mengiyakan, karena ia sejatinya juga sendirian di ruangan itu. Di luar ruangan masih ada tiga pasien yang menunggu untuk bertemu dokter gigi spesialis bedah mulut itu juga.
"Dokter bedah mulutnya cuma satu kah Mba?" tanya Najma.
"Ada dua, tapi yang jadwal jaga poli klinik ya dokter gigi Cindy, ada lagi dokter Arman, tapi jadwalnya besok," sahut Rinjani.
Selama hampir dua jam mereka mengobrol, Najma juga merasa jenuh menunggu, capek, dan memikirkan bagaimana tokonya, dan jam segini ia belum bisa ke kantor mertuanya. Namun ia bersabar dan tetap menunggu agar bisa bertemu dokter gigi itu, demi gigi bungsu yang menyiksanya...
Pukul dua belas kurang lima menit drg. Cindy memasuki ruang poliklinik itu.
"Assalamualaikum, Mba Rinjani, segera panggil pasien Pak Andi yang sudah janjian kemarin," ucap dokter itu tanpa melihat Najma ada di sana.
"Waalaikumussalam, iya Dok, tapi maaf apa bisa dokter lihat dulu pasien ini agar bisa diagendakan untuk tindakan?" tanya Rinjani, batinnya ia merasa kasihan dengan Najma yang sedari tadi menunggu, dan harus menunggu lagi dokter itu melakukan tindakan ke pasien lain yang pastinya prosedur bedah mulut tidak sebentar.
"Kenapa Mbaknya?" tanya drg Cindy tanpa melihat Rinjani ataupun Najma, dia sibuk memeriksa map rekam medis pasien lain.
"Gigi bungsu belakang tumbuh miring Dok," sahut Rinjani.
"Alatnya itu rusak, gak bisa di sini," ucap dokter gigi itu, baru melihat Najma.
Duaarrrr.... bagai disambar petir, Najma sungguh kecewa, sudah menunggu begitu lama, ternyata alatnya rusak.
"Terus gimana Dok?" tanya Najma.
"Ya di sini ga bisa, bisanya di tempat praktek saya, mbak nya pakai asuransi kan?"
"Iya Dok," Najma teringat kata Ardi kalau dia pakai asuransi.
"Lha itu.. kalau di tempat praktek ga bisa pakai asuransi, bayar mandiri," ucap drg.Cindy yang kembali memeriksa rekam medis pasiennya.
__ADS_1
"Sekitar berapa Dok biayanya?" tanya Najma.
"Tiga juta operasinya saja, belum obat bius dan obat lainnya,"