
Episode sebelumnya...
"Gimana saya mau ganti baju, kalau masnya ada disini, udah sana gih keluar tunggu diluar aja. " Usir Bintang.
"Oh iyaya hehe. Gue tunggu lo di mobil. jangan lama-lama, kalau lama gue balik lagi. " Bumi beranjak pergi dan berjalan menuju pintu
"Iya iya, massssss. " Bintang sambil mengambil ancang-ancang seperti akan memukul Bumi dari belakang.
###
Happy Reading & Enjoy guys.
###
Dapur mini Bumi sudah sangat berantakan sisa-sisa terigu dan coklat yang tumpah berhamburan disana sini, penampakannya sudah seperti kapal pecah, belum lagi dengan sampah plastik dari bahan-bahan kue yang saat ini sedang Bumi buat.
"Sepertinya dirinya memang tidak berbakat untuk membuat Dessert, seperti yang Bintang katakan" Batin Bumi hampir putus asa.
"Aahhhh kenapa ini malah menyatu oreonya sama coklatnya, Bintaaaangggg kok punya gue gak kayak punya elo. " Bintang teriak prustasi sambil menunjuk contoh Dessert yang sudah di buat Bintang sebelumnya sebagai acuan Bumi untuk membuat Dessert. Kali ini lagi-lagi Dessert buatannya tak memenuhi ekspektasinya.
"Kan udah dibilangin tunggu coklatnya dingin dulu baru masukkin toping oreonya biar topingnya ini gak tenggelam mas Bumiiiiiiiiii. " Balas Bintang.
Bintang kembali menjelaskan.
"Mas Bumi kan maunya diatas cakenya ini ada coklatnya yang lumer-lumer gitukan, tapi oreonya gak boleh tenggelam, karena coklatnya tadi mas cairin dan coklat cairnya itu harus Gak dingin biar nanti oreonya nggak tenggelam. " Bintang sudah sangat lelah memberikan penjelasan berkali-kali, di atas meja makan sana sudah ada 7 cake yang gagal, beberapa di antaranya kurang manis, bahkan ada yang rasanya pahit.
Bintang berpikir apakah dirinya yang kurang dalam memberikan penjelasan atau memang Bumi yang lemot menerima penejelasannya.
"Yaudah sekali lagi deh, elo disini aja biar gue bisa nanya-nanya gak usah jauh-jauh. " Bumi pantang menyerah meskipun lelah tapi dirinya tak boleh pasrah.
Bintang mencicipi Dessert yang baru saja di buat Bumi untuk kesekian kalinya di malam itu.
"Hmmm yang ini cakenya udah lumayan enak nih mas. Udah pas manisnya, tapi krimnya terlalu dikit. " Bintang menyemangati Bumi. Kali ini gadis itu memang tidak berbohong.
"Ya udah kita pake cake sisa potongannya aja kali yah. " Ucap Bumi.
"Iya mas, biar gak ngulang dari awal lagi kan sayang juga, itu yang lainnya aja udah mubazir, kasian makanan di buang-buang. " Bintang merasa iba kepada desert-desert uji coba Bumi yang tidak layak untuk di konsumsi itu. Dari pada mubazir, lebih baik ketika ia pulang nanti semua Dessert itu akan di bungkus dan di bawa pulang ke kosannya lalu akan ia olah menjadi makanan yang lebih layak untuk di konsumsi.
"Tang, ini lapisan kedua yang tadi kamu bilang, krimnya mesti di banyakin kan? . " Tanya Bumi yang sangat serius menyusun lapisan-lapisan cake kedalam wadah.
__ADS_1
"Iya, yaa pas segitu, gitu aja mas, kalau kebanyakan juga gak terlalu bagus. "
"Bantuin panasin coklatnya dong, tolong. " Pinta Bumi kepada Bintang yang kali ini nada bicaranya agar berbeda.
15 menit berlalu, akhirnya Desserr buatan Bumi pun jadi.
"Bintang ini udah boleh di taroin oreanya gak. " Tanya Bumi yang terlihat seperti anak kecil yang kebingungan, sedari tadi memutar-mutar wadah cakenya untuk mengecek apakah coklat yang tadi ia siramkan ke cakenya itu sudah agak dingin apa belum.
Bumi sudah sangat tidak sabar ingin mengatur toping oreonya ke atas cake-cake yang nantinya akan menjadi Dessert itu.
"Coba, saya liat dulu mas. " Bintang meraih wadah tersebut dari tangan Bumi.
"Udah bisa ini mas. " lanjut Bintang setelah memastikan coklatnya sudah tidak terlalu cair.
Bumi meletakkan satu persatu oreo ke atas cake yang sudah di buatnya dengan sangat hati-hati. Bintang masih berdiri di sampingnya sambil memperhatikan Bumi.
"Yeaaaayyy." Teriak Bintang
"Akhirnyaaaaaaaa berhasil." Bumi loncat kegirangan tanpa sadar memegang tangan Bintang.
Mereka saling berpegangan tangan hingga saat mereka tersadar, mereka saling melepaskan genggaman tangan masing-masing.
"Eh masa sih, ambilin tissu dong. "
"Nih." Bintang menyerahkan tissu.
"Dibagian mana?. " Bumi mencoba membersihkan coklat yang ada di hidungnya, namun dia tidak mendapatkan ada apa-apa di tissu nya.
"Sini mas saya bantuin. " Bintang berinisiatif untuk membantu Bumi membersihkan coklat yang ada di hidungnya.
Bintang menyentuh wajah Bumi untuk pertama kalinya, namun untuk berada dalam jarak sedekat ini adalah yang kedua kalinya. dari jarak sedekat ini, Bintang lagi-lagi dapat merasakan aroma nafas Bumi yang wangi, tanpa sadar bukannya membantu membersihkan wajah Bumi, Bintang malah salfok pada bibir Bumi yang berwarna merah muda, agak sedikit tebal dan terlihat penuh sangat serasi dengan hidungnya yang mancung.
...Deg... Deg... Deg......
Jantung Bintang rasanya akan meledak.
"Ekhemmmm." Bumi yang merasakan kecanggungan di antara mereka berdua mencoba menetraliair keadaan.
"Eh maaf mas, ini disini nihhh. " Bintang selesai membersihkan wajah Bumi.
__ADS_1
Bintang dan Bumi kembali terdiam. Hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kitaaaa... "
"Kitaaa... " Ucap Bintang da Bumi bersamaan.
Perhatian Bintang kemudian beralih ke cake yang tadi akan ia bawa pulang.
"Eh mas boleh nggak aku bawa ini pulang aja, sayang kalau dibuang gitu aja. "
"Ah, Oh ya udah lo bawa aja. " Ujar Bumi.
"Itu Dessertnya tinggal di masukin kulkas mas, kalau mau di taroin coklat cair lagi nanti aja pas mau di makan biar gak beku kalau di taroh di freezer. " Bintang mencoba mencari pembahasan yang lain, agar suasana di antara mereka tidak terlalu canggung.
"Oh iya, gue taruh dulu. " Bintang berjalan menuju ke kulkas untuk menyimpan Dessertnya yang sudah berhasil ia buat dengan tangannya sendiri. Ada rasa bangga tersendiri yang Bumi rasakan.
###
"Makasih yah Bintang untuk hari ini. " Ujar Bumi kepada Bintang.
Saat ini mereka sudah sampi di depan kosaan Bintang.
"Iya mas sama-sama, ya udah mas hati-hati di jalan. " Balas Bintang.
"Enggak kamu aja yang masuk duluan. "
"Mas aja, ini udah tengah malam loh saya mah gampang tinggal masuk aja. " Bintang tidak mau kalah.
"Ya udah deh mas balik dulu yah Bintang?. " Akhirnya Bumi mengalah dan berpamitan kepada Bintang. Entah mengapa hatinya merasa sangat riang dan harinya terasa berwarna ketika bersama Bintang.
Bintang yang menyadari perubahan cara bicara Bumi padanyapun merasa bahwa Bumi sudah bisa jauh lebih baik kepadanya.
###
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Klik like dan tinggalkan komentar dan masukan yang membangun agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi kedepannnya.
Author
__ADS_1
#kimel#