
Najma meminta Bu Tami dan Bu Ani ke pasar untuk belanja sayur pekanan, tentu saja si kecil Dinda juga ikut.
Melihat rumah yang lumayan sepi, Ardi mengajak Najma dan Akbar berenang.
"Ayo babe nyemplung sini," ajak Ardi yang sudah masuk ke kolam renang duluan bersama Akbar.
"Malu ah Mas, perut aku buncit," ucap Najma yang masih memakai handuk kimono.
"Ih makin sexy loh babe, hayuk ah rugi ga nyemplung, airnya seger, ga dingin," bujuk Ardi.
Karena ingin sekali berenang dan gemas melihat Akbar yang ke sana kemari memakai pelampung di lehernya, Najma turun ke kolam juga.
"Nah gitu donk," ucap Ardi yang membantu Najma turun dengan memegangi tangannya.
"Ih segernya ma syaa Allah," ucap Najma.
"Iya kaan, kamu pegangin Akbar bentar ya, aku mau renang dulu," ucap Ardi.
"Baik Mas," ucap Najma.
Ardi menurunkan kaca mata renang yang semula menempel di dahinya, kemudian mulai meluncur dan berenang ke sana kemari.
Najma ternganga melihat suaminya berenang, bahu yang lebar, badan yang kekar, lengan yang kuat, dada yang bidang, selalu membuat Najma terpesona sampai sekarang. Matanya mengikuti Ardi ke sana kemari, namun sesekali juga mengawasi Akbar yang juga suka bermain dalam air. Ma syaa Allah... Ma syaa Allah... ucapnya dalam hati.
"Kamu lihat apa Babe?" tanya Ardi yang berhenti dan melepas kaca mata renangnya. Najma jadi tersipu, karena ketahuan. Najma menangkup pipi Ardi dengan kedua tangannya.
"Apa?" tanya Ardi.
"Ya ga pa pa lah liatin suami sendiri juga, dari pada liat cowok lain," ucap Najma gemas.
"Kamu itu, mulai nakal ya," ucap Ardi kemudian memeluk dan menciumi wajah Najma.
"Mas, udah Mas, geli...aku pengen berenang," rengeknya.
"Iya iya, kamu berenang, biar baba yang jagain Akbar ya," ucap Ardi kemudian membawa Akbar ke tepi kolam. Najma ganti berenang ke sana kemari, dia tidak jago, namun cukup dikatakan bisa berenang bagi orang awam.
"Maaaa...." Akbar menangis, Najma segera menyusul ke tepi kolam. Akbar dipangku oleh Ardi yang melepas pelampung di lehernya.
__ADS_1
"Apa sayang," ucap Najma.
"Udah kedinginan kali, ah itu Bu Tami dan Bu Ani sudah datang, kamu panggil babe," ucap Ardi yang menyadari jika kedua asisten rumah tangga mereka sudah pulang dari pasar.
"Oh iya... Bu Tami!!" panggil Najma.
"Iya Mba Najma," sahut Bu Tami yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka karena mendengar Akbar menangis.
"Ini sepertinya Akbar udah kedinginan, minta tolong bilas air hangat ya Bu," ucap Najma.
"Baik Mba, ngantuk juga kali, biasanya jam segini jam nya dia tidur,"
"Oh iya Bu," sahut Najma, Bu Tami kemudian membawa Akbar masuk ke dalam rumah.
Ardi dan Najma masih duduk di tepi kolam. Najma bersandar di dada bidang Ardi, dan Ardi memeluk dari belakang. Sembari meraba perut buncit Najma. Dan yang di dalam perut sepertinya merasa bahagia sang ayah membelainya, dan membuat tendangan kecil di dalam.
"Mas sebelah sini Mas," ucap Najma yang membawa tangan Ardi menuju sisi perutnya yang bergerak.
"Ah ma syaa Allah, senang ya nak dibelai sama Baba," ucap Ardi yang juga sangat bahagia, untuk pertama kalinya menemani Najma yang hamil anak mereka.
"Hmm," sahut Ardi yang menyandarkan dagunya pada pundak Najma.
"Aku nanti ikut ya,"
"Ikut kemana?"
"Ke rumah sakit,"
"Ngapain?"
"Ya pengen aja keluar rumah, bosen di rumah terus, mau keluar sendiri paling juga ga diizinin sama Mas Ardi," cicit Najma.
"Iya sayang, maafin Mas ya, akhir-akhir ini sibuk sendiri, ga pernah ajak kamu sama Akbar jalan-jalan, nanti setelah temani aku ke rumah sakit kita ke mall ya, kita beli baju bayi buat baby Icha," ucap Ardi. Tentu saja Najma sangat senang mendengarnya.
"Iya kah Mas?"
"Iya sayangku cintaku Najma Burhanudin binti Burhanuddin Hidayat," ucap Ardi.
__ADS_1
"Kalau gitu kita bilasan yuk, nanti pasti lama keringin rambut, jadi pengen potong rambut aku Mas, bolehkah?" tanya Najma seraya mulai berdiri bersama Ardi dan memakai bath robe mereka.
"Iya, senyaman kamu, tapi kalau boleh jujur, aku suka rambut panjangmu," sahut Ardi.
"Kalau pendek kenapa emang?"
"Kalau panjang itu belainya bisa lama, sreet..." ucap Ardi sambil membelai rambut panjang Najma sungguhan.
"Tapi kalau rambutnya pendek, segini selesai belainya, hehehe,"
"Bisa aja Mas Ardi ih, iya deh ga jadi potong rambut, takut Mas melirik cewek rambut panjang lain,"
Kemudian mereka ke kamar mereka untuk bilasan dan berganti baju.
Selesai bilasan, Ardi membantu Najma yang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Rambut Najma yang panjang dan tebal memang butuh waktu yang lumayan lama sampai benar-benar kering. Sampai akhirnya mereka berangkat menuju ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, Ardi membelokkan mobilnya menuju tempat parkir mall kota.
"Mas, kok kesini," ucap Najma yang terheran karena tidak sesuai dengan rencana mereka tadi.
"Iya, kalau ke rumah sakit dulu, ntar kamu kecapean duluan, ga bisa full pilih-pilih perlengkapan baby," jawab Ardi. Iya juga sih batin Najma.
Di dalam mall mereka langsung menuju toko perlengkapan bayi, Najma dengan semangat memilih perlengkapan bayinya.
Setelah mendapatkan semua yang Najma inginkan, mereka pergi dari mall itu untuk menuju rumah sakit Airlangga.
"Kamu tunggu di sini ya, aku usahakan cepat kembali," ucap Ardi ketika mereka sampai di ruang istirahat Ardi.
"Iya Mas, peluk dulu," sahut Najma. Ardi dengan senang hati memeluk erat istrinya tercinta, mengecup keningnya kemudian pamit keluar untuk visit pasien.
Satu jam berlalu, Najma merasa bosan di ruang istirahat itu sendirian, juga merasa haus dan ingin makan sesuatu. Dia ingin menelepon Ardi, namun takut mengganggu, mungkin ada hal serius dengan pasien Ardi.
Maka Najma memutuskan keluar dari ruangan itu, namun sebelumnya mengirim pesan dahulu kepada Ardi untuk berpamitan.
"Belum dibaca, pasti sibuk," gumamnya, kemudian ia keluar dari ruangan itu. Ia ingin menuju food court di lantai dasar. Najma memutuskan turun menggunakan tangga, di sana ia bertemu dua anak sekitar sepuluh tahunan sedang main kejar-kejaran. Dan tiba di tepi tangga, mereka menabrak Najma.
"Bruukk..." Najma hilang keseimbangan dan jatuh terguling di tangga yang lumayan curam itu.
__ADS_1