Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Mas Ardi Kemana?


__ADS_3

"Ceklek..." pintu kamar mandi terbuka, dan betapa terkejutnya Najma karena yang keluar dari kamar mandi bukan suaminya.


"Lana...!" ucap Najma.


"Ama...!" pria itupun tak kalah terkejutnya.


"Kamu kok di sini?" Mereka hampir bersamaan saling bertanya.


"Eh bentar-bentar... Kamu Ama kan putrinya Om Burhan?" tanya pria yang berbaju seragam ruang bedah itu.


"Iya, kamu Lana kan putranya om Dimas, pemilik toko perhiasan Mas di depan toko aku," Najma balik bertanya.


"Iya, kamu kok bisa di sini?" tanya dokter itu.


"Aku nyari suami aku, ini kan ruang istirahat suami aku," sahut Najma.


"Eh tunggu, kamu istrinya bang Ardi?" tanya dokter itu.


"Iya, kamu kenapa bisa ada di sini?" dari tadi mereka saling bertanya.


"Aku dokter bedah syaraf yang baru, dan bang Ardi membagi ruang istirahat ini denganku, itu meja aku," ucap dokter itu seraya menunjuk meja di sebelah meja kerja Ardi.


"Ah....Bukannya dokter Akbar ya dokter yang baru itu," Najma mengingat perkataan Ardi dulu.


"Yah Ama, masa nama teman sendiri lupa, namaku kan Akbar Maulana, kalau di rumah dipanggil Lana, kalau di luar dipanggil Akbar," jawab dokter Akbar.


"Oh...gitu? Heheheh maaf ya Lana," Najma hanya ber oh ria, mereka sudah kenal dari kecil, jadi walaupun Najma memakai cadar, dari matanya Akbar masih bisa mengenalinya.


"Terus Mas Ardi kemana ya Lan? Masih visite pasien kah? Katanya habis isya nanti mau ada operasi," tanya Najma yang sedari tadi tidak melihat suaminya.


"Kamu ga telpon dia dulu?" tanya dokter Akbar.

__ADS_1


"Aku sih sebenernya mau bikin kejutan, dengan ngirim makan malam buatnya, tapi sampai di sini kok malah ga ketemu," ucap Najma terlihat sedih.


"Bentar deh, kamu minum dulu biar tenang," Akbar menyodorkan air minum botol dari meja kepada Najma. Najma menerimanya, kemudian berbalik memunggungi dokter Akbar untuk menyingkap sedikit cadarnya agar bisa minum, setelahnya ia meletakkan botol minum itu di atas meja.


Dokter Akbar duduk di kursinya, dan mulai menjelaskan kepada Najma dengan hati-hati.


"Jadi gini Ama, siang tadi selepas sholat dhuhur bang Ardi keluar," ucap dokter Akbar.


"Iya, tadi siang mas Ardi ke kantor aku buat makan siang sekalian nengok anak-anak," ucap Najma.


"Oh jadi bang Ardi tadi ke kantor kamu, terus jam berapa kira-kira bang Ardi kembali?" tanya dokter Akbar.


"Jam satu lebih kayanya, seingat aku tadi dia ketiduran, terus jam satuan gitu aku bangunin, kenapa emang Lan?" Najma jadi takut sesuatu terjadi pada Ardi.


"Bang Ardi belum kembali sampai sekarang, ditelpon juga ponselnya tidak aktif, jadi malam ini aku yang akan menggantikan bang Ardi untuk memimpin operasi," tutur dokter Akbar.


"Terus mas Ardi kemana yaa..." Najma jadi takut dan panik setelah mengetahui bahwa Ardi belum kembali dari siang tadi.


Najma terus menangis, begitu juga mama Hamida yang sangat sedih. Papa Rahman menelpon kantor polisi se kota ini jikalau ada kecelakaan dengan mobil yang dikemudikan oleh Ardi. Arya menelpon kolega-koleganya untuk ikut membantu mencari.


"Polisi bilang akan mulai mencari jika sudah 1x24 jam, kita berdoa saja semoga Ardi dalam keadaan yang aman dan sehat," ucap papa Rahman.


"Aamiin," Najma hanya bisa mengamini. Mereka semua teringat peristiwa kecelakaan pesawat yang dulu, dan berharap hasilnya nanti juga sama, yaitu Ardi tetap sehat dan selamat.


Sampai keesokan harinya, Qumil datang bersama Tante Helena, mamanya dokter Yudha. Dokter Rendra papanya dokter Yudha juga datang dan mengerahkan semua anak buahnya, juga menghubungi koleganya untuk membantu mencari keberadaan Ardi.


"Ama, papa Rendra dan mas Yudha sedang berusaha mencari keberadaan kak Ardi, kamu coba tenangin diri, berpikir positif, kak Ardi sehat dan selamat, kalau kamu sedih terus bisa stres, yang ada asi kamu bisa berkurang bahkan ga keluar, kasian kan Icha masih butuh menyusu kamu," ucap Qumil sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


Najma mengangguk, ia juga menyadari bahwa asinya telah berkurang dan baby Icha dari semalam rewel terus.


"Sekarang, makan ya, jangan sampai kamu sakit, kalau sakit, gimana Icha menyusu, siapa juga yang jaga anak-anak," ucap Qumil lagi.

__ADS_1


"Iya, aku mau makan," ucap Najma.


Tante Helena juga membujuk mama Hamida agar mau makan, mereka membawa beberapa makanan untuk keluarga ini.


Setelah makan dan agak tenang, Najma memutuskan untuk tidur bersama anak-anaknya di kamar Akbar, ia sangat lelah karena semalaman begadang dan menangis.


Mereka juga bekerja sama dengan kepolisian, untuk melacak nomor ponsel Ardi. Juga mencari rekaman cctv di jalanan sekitar kantor konveksi keluarga Rahman.


Mama Hamida akhirnya tumbang, tekanan darahnya naik dan mengalami demam. Sarah segera memasang infus, memberikan obat dan vitamin agar mama Hamida cepat membaik.


"Ya Allah, kenapa ya Mas, bisa kejadian kaya gini, kak Ardi juga pergi kemana sih," ucap Qumil yang duduk di samping dokter Yudha.


"Ya qodarullah sayang, semua yang terjadi sudah ketetapan Allah, berdoa saja semoga Ardi dalam keadaan yang aman, kamu gimana? Ngrasain mual atau ga enak badankah?" tanya Yudha, sebenarnya Qumil sedang hamil, dan ingin segera memberi tahu Najma tentang kehamilannya, namun urung dia lakukan karena keadaan masih seperti ini.


"Aku ga pa pa Mas," sahut Qumil.


Sore harinya mereka pamit pulang...


"Jeng, yang sabar, kami pamit pulang dulu, jika ada kabar, akan segera kami kabari, jangan lupa makan, aku sudah masakin tadi di dapur, dimakan ya," ucap Tante Helena pada mama Hamida.


"Iya jeng, terima kasih banyak," sahut mama Hamida, beliau bersyukur punya teman yang baik dan datang membantu, setidaknya mengurangi kesedihannya.


"Ama aku pulang dulu, aku ga bisa lama-lama, sebenarnya aku sedang hamil, jadi aku juga harus istirahat, kamu ingat ya, tenangin diri, berdoa terus, jangan lupa makan, tadi mama mertua aku sudah masak buat kalian semua," pamit Qumil pada Najma yang masih tiduran di kamar Akbar sambil menyusui baby Icha.


"Iya Mil, terima kasih banyak, selamat juga buat kalian berdua, semoga calon dede bayinya sehat, ibunya juga sehat," sahut Najma.


"Aamiin, makasih, semua masih berusaha mencari, dan butuh proses, kita tunggu aja ya," ucap Qumil yang sebenarnya enggan berpisah dengan sahabatnya, namun mengingat dia sedang mengandung, dokter Yudha memintanya pulang dan beristirahat.


"Baik Mas Rahman, kami pamit pulang dulu, nanti kalau ada kabar, kami segera hubungi kalian," ucap dokter Rendra.


"Iya Mas, terima kasih sudah datang dan membersamai kami," sahut papa Rahman.

__ADS_1


Setelah mereka pulang, papa Rahman mendirikan sholat, dan melantunkan hafalan Al Qur'an, dengan begitu hatinya akan merasa tenang, pun yang mendengarnya juga.


__ADS_2