Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Qumil Sahabatku


__ADS_3

"Iya aku terkejut banget, namun bukan karena ketemu sahabat aku, tapi karena kalian sudah janjian duluan, kalian saling chat tanpa sepengetahuan aku,"


"Aish aish, my baby sweety honey, kita turun dulu gak enak sudah ditungguin Qumil tuh,"


"Mas cemasin Qumil?"


Ardi memejamkan mata sejenak, ia mengambil napas dalam-dalam sambil beristighfar.


"Bentar aku telepon dulu," ucap Ardi mengambil ponsel dan menyambungkan panggilan, seraya membawa mobil yang belum sempat terbuka itu keluar halaman kost.


"Tuut Tuut.." panggilan masih mencoba tersambung.


"Halo, maaf Mil, kami ada sesuatu yang harus diurus dulu, kamu pulang aja ke kosan kamu dulu," ucap Ardi kemudian langsung menutup panggilan tanpa mendengar jawaban dari Qumil.


Qumil yang tidak mengerti hanya menurut, ia kemudian mengambil motornya dan mengendarainya menuju tempat kost dia.


Sekitar lima belas menit kemudian Ardi sampai di parkiran kampusnya. Dia memarkir mobil dan melepas sabuk pengaman.


"Sebenarnya apa yang ada di pikiran kamu mengenai aku suamimu dan Qumil sahabatmu dari kecil?" tanya Ardi pada Najma, dari nadanya Najma tahu bahwa Ardi terdengar sedang berusaha menahan amarah, di situ muncullah ketakutan dan kekhawatiran di hati Najma.


"Tapi Mas, aku cuma.."


"Aku sungguh kecewa sama kamu, baru saja kita bicara tentang bagaimana usaha kita masing-masing agar bisa menjadi sebaik-baiknya suami atau istri, tapi nyatanya kamu sudah berpikiran negatif tentang aku,"


"Maaf aku cuma ga nyangka sama sekali Mas bisa sedekat itu sama Qumil,"


"Dekat bagaimana? Kami ga dekat, aku kenal dia juga karena dia teman sekaligus tetanggamu, yang keluarganya selalu membantumu sampai kita menikah,"


"Iya, maaf Mas, jangan marah aku takut," ucap Najma sambil meraih tangan Ardi dan menggenggamnya.


Ardi masih terdiam, memandang keluar jendela.


"Maafin aku Mas, iya aku percaya sama kalian, maafin aku yang terbakar api cemburu," ucap Najma. Ardi menahan senyum mendengar kata-kata istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Jadi, Mas bisa jelasin kenapa Qumil bisa ada di sana?" tanya Najma.


"Iya Babe," ucap Ardi setelah agak mereda amarahnya, dia juga tidak tega istri kecilnya itu sampai ketakutan melihat ia marah.


Kemudian Ardi menceritakan bagaimana Qumil bisa ada di sana. Dulu itu Najma pernah cerita ke Ardi dimana kampus tempat Qumil berkuliah. Dan beberapa waktu yang lalu Ardi mendapat tawaran mengajar sebagai dosen tamu di kampus yang sama, dari situ juga Ardi tahu bahwa Yudha juga mengambil S2 di kampus itu juga. Lalu Ardi meminta tolong kepada Qumil untuk mencarikan tempat tinggal untuknya dan Najma, dan dicarikanlah oleh Qumil. Karena Ardi tahu bahwa Qumil sudah seperti saudara bagi Najma, maka ia percaya bahwa Qumil mencarikan tempat yang bagus untuknya dan Najma tinggal setiap akhir pekan selama satu semester. Dan Qumil meminta bertemu Najma siang itu karena dia sangat rindu pada Najma, sekalian membantu Najma merapikan koper.


Setelah mendengar penuturan suaminya, Najma membuka sabuk pengaman yang sedari tadi mengikatnya. Kemudian menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Ardi.


"Mas, aku minta maaf,aku...aku sangat takut kehilangan Mas," lirihnya.


"Hmm, Mas juga minta maaf, tidak bisa menjadi suami yang romantis, yang gagal memberikan kejutan untukmu,"


"Ga gagal Mas, aku sangat, sangat terkejut," Kemudian dengan nakal, Najma menciumi ceruk leher Ardi yang tentu saja membuat Ardi mere mang.


"Babe, stop, aku mau ngajar," perintah Ardi. Najma dengan terpaksa menghentikan kejahilannya.


"Dengarkan Mas," ucap Ardi. Najma lalu menegakkan duduknya dan memperhatikan apa yang akan dikatakan suaminya.


"Iya Mas, aku paham," sahut Najma.


Beberapa saat setelah Najma menelpon Qumil, datanglah sahabatnya itu dengan mengendarai motor maticnya. Najma dan Ardi turun.


"Assalamualaikum," Najma dan Qumil saling menyapa dan berpelukan, sedangkan Ardi menurunkan koper dari bagasi.


"Kopernya dibawa?" tanya Najma.


"Iyalah, koper kecil gini, bisa bawa kan?" Ardi mengangkatnya ke jok belakang motor Qumil.


"Iya, bisa bisa," sahut Qumil.


Najma mencium tangan Ardi, dan Ardi membalasnya dengan bisikan yang membuat Najma malu dan memerah pipinya.


"Aku ke dalam dulu, kalian hati-hati di jalan," ucap Ardi kemudian meninggalkan mereka berdua karena sebentar lagi waktu Ashar tiba.

__ADS_1


"Siap Bos," sahut Qumil.


"Yuk, Ama, naik aku boncengin ke rumah baru kamu," ajak Qumil yang ceria seperti biasanya.


"Ah iya," sahut Najma. Dalam perjalanan Najma hanya terdiam, ada perasaan bersalah dan juga malu pada sahabatnya itu, karena sempat cemburu dan curiga pada sahabat dan suaminya, dia cemburu buta karena cintanya kepada Ardi.


Akhirnya mereka sampai juga di tempat kost Ardi.


"Rumah kamu ada di lantai tiga gedung ini," ucap Qumil sesampainya di tempat yang tadi Najma sempat datangi itu.


"Rumah? Kok rumah Mil? Bukannya cuman kamar kost??" Najma terheran.


"Iya, lihat aja nanti, itu kamar apa rumah," sahut Qumil. Dia lalu membantu Najma mendorong kopernya dan menaiki lift ke lantai tiga.


Bangunan itu berlantai empat, di lantai satu ada ruang administrasi, mini market, dan kantor satpam, sedangkan lantai dua, tiga dan empat ada kamar kost atau lebih mirip apartemen studio berukuran 4x7 meter tiap kamarnya, dan di tiap lantai ada empat kamar.


Qumil memberikan kartu kunci masuk kamar Najma. Dan Najma membuka pintunya, dan terkejut dengan isinya.


Setelah ia membuka pintu, ia dapati sebuah lemari konsole, mungkin rak sepatu, di atasnya ada bunga artificial. Setelahnya ia melihat dapur kecil lengkap dengan kulkas dan microwave, juga mesin cuci bukaan depan, kemudian ada meja dan kursi makan untuk dua orang di dekatnya, di sebelah kanan atau sudut ruangan terdapat pintu, iya itu sebuah kamar mandi, di depannya ada lemari pakaian, di sebelahnya ada meja belajar, dan di sebelahnya lagi ada tempat tidur king size lengkap dengan dua nakas di kanan kirinya, di dinding depan tempat tidur ada smart tv yang tergantung, kemudian ada pintu kaca besar menuju balkon, di sana ada jemuran kecil dan sepasang kursi untuk bersantai.


"Ma syaa Allah Mil, kok bisa kamu nemu yang sebagus ini,"


"Kamu suka?" tanya Qumil.


"Ya suka lah, kaya di tipi-tipi,"


"Suami kamu tuh yang sweet banget, minta aku nyariin pokoknya tempat tinggal terbaik untuk kamu, buat harga berapapun ga masalah buat dia, ah punya suami kaya gitu, simpan di lemari aja Ama," ujar Qumil menggebu-gebu.


"Iya, ini bagus sih, tapi sebulan berapa sewanya Mil?"


"Empat juta," sahut Qumil.


"Apa? Kamu gila apa gimana Mil, uang sebanyak itu cuma buat tempat kost!!"

__ADS_1


__ADS_2