Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Aku Ingin Bertemu Bayiku


__ADS_3

Keesokan harinya Najma sudah bisa duduk, dan belajar berdiri.


"Kamu ga pusing?" tanya Ardi yang ada di samping Najma.


"Nggak Mas, aku pengen segera lihat baby Icha," jawab Najma.


"Sekarang mandi dulu ya, aku bantuin yuk," ucap Ardi yang membantu Najma ke kamar mandi.


"Mas keluar sana gih, tunggu aku di luar saja," pinta Najma setelah Ardi mendudukkan tubuhnya di atas kloset yang ditutup.


"Gak ah, aku bantuin kamu mandi ya, takutnya kalau kamu tiba-tiba pingsan," ucap Ardi yang keukeuh mau di dalam kamar mandi.


"Tapi aku malu Mas," rengek Najma.


"Kan uda biasa aku lihatnya," Ardi tidak mau kalah, bukan apa-apa tapi dia memang mencemaskan Najma, takut bila sewaktu-waktu Najma pingsan atau tak sadarkan diri.


"Tapi aku nifas Mas, pasti ada bau ga enak di sini, Mas tunggu di luar ya hmm,"


"Kamu nifas juga karena melahirkan anakku babe, sudahlah jangan mendebat suami, nurut aja,"


Mau tidak mau Najma hanya bisa pasrah ketika Ardi membantunya mandi juga mencuci rambutnya.


"Mas," panggil Najma ketika Ardi memijat kepalanya setelah bershampo.


"Hmm," sahut Ardi.


"Mas juga pernah melihat punya pasien gitu?" tanya Najma.


"Hmm apanya babe?" tanya Ardi balik.


"Itunya lah, pasti pernah kan?"


"Kalau pas sudah kerja ini ga pernah, kan yang aku buka kepalanya babe, tapi waktu kuliah kedokteran dulu pernah, waktu jadi dokter muda pernah, jadi dokter internship pernah, kebagian juga dinas di ruang bersalin, bantuin bidan nolong lahiran," jawab Ardi.


"Kaya gitu mas Ardi ngerasa kaya gimana gitu?"


"Kerasa giman sih Babe?"


"Ya ada rasa erotisme gitu..."


"Hmm, kayanya ngga ada,"


"Lalu kenapa kalau lihat aku langsung ngabruk?"

__ADS_1


"Kamu itu... emang aku dokter mesum," ucap Ardi yang mengetok dahi Najma pelan, namun cukup membuat Najma kesakitan.


"Aww... sakit Mas," ucap Najma yang menggosok-gosok dahinya.


"Habisnya ada-ada aja yang ditanyain,"


"Ya kan pengen tahu aku Mas,"


"Ya beda lah Babe, kalau sama pasien, perasaannya beda, fokusku cuma mau nolong mereka, membantu mereka biar ga sakit, kalau sama kamu mah beda, beda banget rasanya,"


Dan mereka ngobrol panjang lebar sampai Najma selesai mandi dan berpakaian. Kemudian mereka keluar kamar mandi.


"Assalamualaikum," ucap Sarah yang rupanya telah menunggu mereka keluar dari kamar mandi.


"Waalaikumussalam," jawab Ardi dan Najma hampir berbarengan.


"Wah udah bisa jalan kamu, yuk aku lihat lagi jahitannya, harusnya kamu aja Ar," ucap Sarah yang menyodorkan peralatan untuk rawat luka.


"Ah Mba, Mba Sarah aja deh, aku ngilu liatnya," Ardi tentu saja menolak nya lantaran merasa ngeri melihat luka di perut Najma.


"Ayolah Ar... ga kasian apa aku lagi hamil besar ini, susah tahu, gerak ke sana kemari," ucap Sarah membujuk Najma.


"Kenapa ga cuti aja sih Mba?" tanya Ardi yang terpaksa menerima peralatan rawat luka yang disodorkan Sarah, ia merasa iba juga melihat kakak iparnya dengan perut sebesar itu masih bekerja.


"Masih bulan depan Ar, harusnya kan kita barengan ya Najma, eh ga taunya kamu launching duluan," ucap Sarah.


"Eh maaf, maaf, bentar aku bilas pakai larutan saline," Ardi dengan sigap dan lincah tangannya merawat bekas luka Najma.


"Hmm, enakkan punya suami dokter bedah, habis lahiran dirawat sendiri sama suami," ucap Sarah.


"Iya, Alhamdulillah Mba, aku pengen lihat baby Icha habis ini, udah boleh keluar kamar kan Mba?" tanya Najma pada Sarah selaku dokter kandungannya.


"Iya boleh, pakai kursi roda, tapi sebelum itu makan dulu dan minum obat, lalu pompa asi kamu," tutur Sarah.


"Baik Mba," sahut Najma.


"Dah selesai," ucap Ardi yang membereskan peralatan rawat lukanya.


"Jahitannya bagus Mba, dua hari sekali ga pa pa ya bukanya?" tanya Ardi.


"Iya ga papa, kalau udah kering dibuka aja perbannya, ah kamu kan lebih tahu Ar, secara dokter bedah, udah ah, aku mau jaga poli klinik, kamu masih cuti kan?" tanya Sarah yang akan berpamitan.


"Iya, masih, Mba jangan capek-capek, kasian bayinya," pesan Ardi.

__ADS_1


"Iya, aku udah ga ada operasi, kalau ada aku operkan aja, udah susah bawa perut segede ini di ruang operasi, yang terakhir kemarin ya Najma itu, udah ah, ini asisten aku udah kirim pesan, bye.. assalamualaikum," ucap Sarah.


"Waalaikumussalam," sahut Najma dan Ardi.


Keduanya bertemu pandangan.


"Makan yuk," ucap Ardi. Najma mengangguk dengan semangat ia makan agar cepat pulih dan bisa menjaga anaknya.


Setelah makan, minum obat, dan memompa asi seperti pesan dokter Sarah tadi, Ardi mendorong kursi roda Najma menuju kamar bayi. Najma berdebar-debar, ini pertama kalinya ia akan melihat putrinya.


"Mas," panggil Najma sambil memegang tangan Ardi yang sedang mendorong kursi roda.


"Apa Babe?" Ardi menghentikan kursi roda sejenak.


"Aku deg-degan," sahut Najma.


"Kenapa deg-degan?" tanya Ardi.


"Gugup mau ketemu baby Icha," jawab Najma.


"Tenangin dulu diri kamu, kalau sudah siap kita masuk," ucap Ardi.


"Ar," panggil seseorang yang dari kejauhan melambaikan tangannya.


"Yudha.." ucap Ardi, dia melihat pria yang memakai jas putih itu berjalan ke arah mereka.


"Mau lihat bayi kalian?" tanya Yudha ketika sampai.


"Iya Yud, kamu kok tumben pakai jas putih, bukannya sekarang kamu fokus sama manajemen rumah sakit?" tanya Ardi.


"Iya, ini pasien khusus, spesial, jadi aku ingin turun tangan sendiri, bayi kalian, iya bayi kalian masih butuh terapi biar bisa menelan dengan benar," tutur dokter Yudha.


"Apa keadaannya mengkhawatirkan?" tanya Najma.


"Saat ini masih kami pantau terus, kita lihat saja, eh iya maaf ya Qumil belum bisa jenguk kamu dan bayimu, dia masih ujian semester sekarang, aduh aku juga kangen, tapi sama Qumil aku ga dibolehin ke sana dulu, ganggu katanya," ucap Yudha.


"Iya, ga pa pa kak," ucap Najma.


"Yuk kita masuk sama-sama," ajak Ardi, kemudian mereka bertiga masuk ke dalam ruang bayi.


"Itu dokter Aldo ada di dalam," ucap Yudha. Ardi melihat dokter Aldo tengah memeriksa bayinya dan monitor tanda-tanda vital menandakan bayinya sedang tidak baik-baik saja, sedapat mungkin Ardi ingin Najma tidak diberi tahu dahulu keadaan bayinya yang sesungguhnya. Ardi dan Yudha saling memandang.


"Babe, tunggu di sini ya, aku masuk dulu, bismillah dzikir aja biar tenang, nanti aku susul lagi buat masuk bareng," ucap Ardi.

__ADS_1


"Iya Mas," ucap Najma hanya menurut saja dengan perintah suaminya.


Ardi dan Yudha masuk ke dalam ruang bayi itu. Rupanya dokter Aldo sedang berjuang menyelamatkan baby Icha.


__ADS_2