Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Sepuluh


__ADS_3

Di dalam sebuah pesta yg sangat meriah ditempatkan disebuah rumah yg sangat megah nan inda. Yg dihadiri berbagai pengusaha dinegeri ini. Seseorang sedang menggerutu kesal.


"Suwek tuh bocah. Kenapa malah jadi liburan sih. Pantas saja diajak kesini nolak. Dasar kampret" gerutu Mediz kesal.


Ya Mediz datang ke pesta pertunangan Sarah dan Zafir. Karna memang dia diundang Sarah saat dia mengantarkan pesanan undangannya tersebut.


"Ydah hampir sejam gue disini acaranya kok ga mulai mulai sih. Mau pulang nih gue. Mana disini ga ada yg gue kenal lagi." Mediz mulai jenuh dengan acara yg sebenarnya ga ada faedahnya buat dia. Dia datang hanya untuk menghormati dosen sekaligus pemesan undangan.


Drrtt drrtt drrrtt


Telepon Mediz bergetar pertanda ada panggilan masuk.


"Apa? " saut Mediz setelah menggeser tombol hijau pada teleponnya.


"Loe masih di pesta Diz?" Tanya orang sebrang telpon yg tak lain adalah Andin yg sedang berlibur bersama tunangannya Andi.


Ya setelah kejadian di kafe waktu itu kedua sejoli itu memutuskan untuk bertunangan sebelum pernikahan yg akan terjadi dua bulan lagi.


"Iyalah. Acaranya belum dimulai. Sampek bosen gue nungguin dimulainya" keluh Mediz.


"Iyalah belum dimulai orang mempelai wanitanya disini"


"Maksud loe apaan ?"


"Sarah disini"


"Disini dimana dodol? Ga usah tele tele deh"


"Pertunangannya ga bakalan kelar. Mending loe pulang aja Diz. Percuma. "


"Sumpah ya Din loe bikin gue tambah sumpek sama kata kata tekai teki loe. Main tts nya nanti pas loe pulang aja deh"

__ADS_1


"Ck. Sarah ada disini Diz. Sama cowok. Tapi gue ga tau itu siapa. Tapi yg pebih jelas lagi pertunangannya disana ga bakalan kelar. Mending loe pulang"


"Sarah disana??" Mediz kaget bukan main.


"Iya"


"Ngapain? Terus nih acara gimana?"


"Yah. Mana gue tahu. Yg berada disana kan loe. Berarti loe yg tahu kondisi disana".


"Pantesan Pak Zafir kaya bingung gitu. Terus gue harus gimana sekarang?"


"Kasih tahu aja sama dosen loe itu. Biar dia tahu dia musti gimana"


"Haduh masa iya gue yg ngasih tau. Ga mau gue ikut campur."


"Ga kasian loe sama tuh dosen ?"


"Iya. Ya udah. Dah dulu ya. Gue mau dinner romantis dulu. Byeeee"


"Suwek loe " sarkas Mediz.


Mediz menarik nafas lelah. Ok dia cuma kasih tahu info saja. Tidak lebih. Setelah itu dia pulang.


Mediz berjalan menghampiri dosen tampannya tersebut dengan gugup. Dia komat kamit memantrai dirinya agar bisa memberikan info kepada dosennya tersebut dengan lancar.


Pasalnya disaat seperti ini dia harus memberitahu si punya acara bahwa mempelai wanitanya tidak akan pernah hadir. Bukankah itu akan membuat tuan rumah malu. Dikediamannya dia membuat acara tapi di situbjuga dia akan dipermalukan.


Mediz menghela nafas dalam.


"Pa Zafir" oh lihatlah dosennya terlihat sangat frustasi. Tambah gugup sudah Mediz. Tega kah dia mengatakannya. Tapi jika tidak dikatakan sampai kapan dia membiarkan dosennya itu menunggu. Dan juga para tamu.

__ADS_1


"Ada apa Mediza?"


"Emmm.... saya ... saya... " ucap Mediz gugup.


"Saya apa Mediza? Jangan bertele tele saya sedang pusing sekarang" geram Zafir melihat tingkah Mediz.


Mediza menghela nafas lagi. Ok kali ini harus bisa.


Mereka sedang berada dipojok taman belakang rumah Zafir. Karna memang acaranya beasa di out door taman rumah itu yg beeada dibelakang rumah dan indoor yg tersambung dengan dinding kaca tembus pandang. Jadi tidak akan ada yg mendengar atau terlalu memperhatikan keduanya.


"Sarah sekarang berada diluar kota pak" akhirnya kata itu muncul dari bibir ranum Mediz.


Deg


Zafir memandang serius ke arah Mediz yg sekarang berada tepat didepannya itu.


"Dia berada jauh dari sini. Jadi meskipun anda menunggu dia tidak akan datang malam ini. Meskipun dia hendak kesinipun mungkin baru besok pagi sarah sampai kesini. " lanjut Mediz karna melihat Zafir hanya diam mematung.


"Baiklah saya permisi mau pulang. Karna saya sudah memberi tahukan apa yg saya tahu. Semoga bapak bisa keluar dari masalah ini. " Mediz berjalan meninggalkan Zafir yg masih diam mematung. Entah apa yg dipikirkan pria itu.


"Tunggu" cegah Zafir pada Mediz.


Zafir berjalan menuju tempat Mediz berdiri menunggu apa yg mau dikatan dosennya itu.


Grep


Tangan Mediz dicekal oleh tangan kokoh Zafir. Pria itu membawa Mediz menuju salah satu tamu disana. Dia membisikkan sesuatu kepada pria yg usianya seperti sama dengan Zafir. Dengan Zafir yg masih menggenggam tangan Mediz.


Pria berjas biru donker itu berjalan menuju panggung yg tingginya hanya sejengkal tangan. Lalu dia mengambil microphone yg ada disana dan memposisikan seolah dia adalah mc.


"Baiklah puncak acara yg kita tunggu akhirnya datang. Dan kami mohon maaf karna membuat para tamu menunggu teralu lama. Mari kita sambut kedua mempelai kita. Mari Zafir"

__ADS_1


__ADS_2