
Anin berjalan memasuki cafe, kemudian duduk disalah satu meja kosong disana. Anin melambaikan tangan nya pada seorang waiters disana.
"Mau pesen apa Kak?" Anin tersenyum kearah gadis yang mungkin umurnya lebih muda dari nya.
"Em saya mau pesen..." nampak Anin tengah memperhatikan daftar menu di meja, "ayam bakar aja deh satu sama minumnya lemon tea ya..." Menatap ke arah waiters yang tengah mencatat pesanan nya.
"Udah Kak?" Tanya waiters dengan tersenyum ramah.
"Bentar!" Mengangkat sebelah tangan nya, "Ocha mau pesen apa ya?" Gumam Anin.
"Ee... Nanti aja deh, nunggu temen saya aja. Itu aja dulu" sambung Anin mengulurkan daftar menu pada waiters.
"Baik. Tunggu sebentar ya Kak!" Ucap nya dan diangguki Anin.
Setelah pelayan itu pergi, Anin mengeluarkan memainkan ponselnya. Niat hati ingin melihat Ocha, namun tatapan Anin terarah pada salah satu pelanggan yang duduk di meja pojok luar cafe.
"Bastian?" Ucap Anin pelan.
Bastian terlihat tengah berbicara dengan seseorang dihadapan nya, namun Anin tidak bisa melihat siapa orang yang bersama Bastian karna terhalang oleh pelanggan lain.
Anin terus memperhatikan Bastian dengan posisi dari samping, Anin beranjak ia melangkah hendak menemui kekasihnya itu. Namun, tanpa disangka Ocha memanggilnya.
"Anin!" Anin berbalik kebelakang.
"Mau kemana?" Kini Ocha sudah berada didepan Anin.
"Gue--" melihat ke arah tempat Bastian berada, seketika mata Anin membulat saat melihat tempat itu kosong, "Bastian kemana kok gak ada?" batin Anin.
"Cha Lo tunggu sini bentar ya..." pinta Anin hendak melangkah.
"Loh mau kemana emang?" Tanya Ocha bingung.
"Gue keluar dulu, bentar doang kok" meyakinkan Ocha.
"Yaudah jangan lama-lama..."
Anin berlari pelan kearah pintu kaca itu, sedang Ocha kembali duduk di meja yang tadi Anin duduki.
Anin mengedarkan pandangannya ke setiap arah, akhirnya tatapan nya tertuju pada mobil yang sangat ia kenali. Terlihat Bastian tengah menutupkan pintu untuk seseorang yang Anin tidak tau siapa, karna ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang didalam mobil Bastian itu.
Bastian tampak memutari mobil kemudian masuk dan duduk dikursi kemudi. Sepertinya Bastian memang tidak menyadari adanya Anin padahal Anin berdiri tepat didepan cafe.
Saat mobil Bastian melewati nya, seketika tubuh Anin menegang saat melihat orang disamping Bastian itu seorang wanita. Walau tidak jelas, tapi Anin yakin itu seorang wanita dan sepertinya wanita itu tidak asing menurut Anin.
__ADS_1
Segera Anin menekan nomor seseorang di ponselnya, dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya. Tanpa menunggu lama, panggilan nya terhubung.
Di mobil, ponsel Bastian bergetar menandakan panggilan masuk. Nama Anin tertera dilayar ponselnya, awalnya Bastian panik dan melirik wanita disampingnya sekilas. Namun, segera ia mengangkat telpon nya.
"Ha-- hallo sayang?" Sapa Bastian.
"Bas kamu dimana?" Jawab Anin to the point, namun Anin berusaha tetap tenang.
"A-aku lagi dijalan sayang" jawab nya gugup.
"Di jalan? Emang kamu abis dari mana?" Tanya Anin lagi.
"Aku habis meting sama klien, sayang..." Jawab Bastian bohong.
Anin menutup matanya sejenak berusaha menenangkan perasaan nya, "jadi tadi Bastian cuma meting disini? Apa perempuan tadi itu klien nya?" batin Anin.
"Sekarang, aku sama Rizal lagi di jalan mau balik ke kantor" lanjut Bastian.
'Deg' Anin terkejut saat mendengar nama Rizal, Anin jelas tau siapa Rizal dia adalah orang kepercayaan Mami Sarah yang kini menjadi Asisten pribadi Bastian. Rizal itu laki-laki, bahkan tadi Anin tidak melihat Rizal bersama Bastian.
"Rizal?" Batin Anin.
Jelas yang Anin lihat itu seorang perempuan, dan Anin yakin mereka hanya berdua saja tadi. Bahkan di mobil pun, hanya wanita itu yang duduk di samping Bastian. Bagaimana itu Rizal? Apa Bastian tengah berbohong padanya?
"Em, kalo boleh tau tadi kalian meting dimana?" Tanya Anin tenang, namun tidak dengan hatinya.
Anin menutup mulutnya, terlihat mata Anin berembun kian terasa panas, bahkan jantung nya berdetak lebih cepat, "Enggak papa, tadinya aku mau ngajak kamu makan siang di cafe x. Kamu tau gak cafe itu?" Tanya Anin kembali memancing Bastian.
"Ah.. enggak sayang aku belum pernah kesana, nanti kapan-kapan kita kesana ya" lagi, Bastian menjawab dengan kebohongan. Padahal jelas ia tau cafe itu adalah cafe yang ia datangi tadi.
Luruh sudah air mata yang sedari tadi ia tahan, namun segera Anin menghapusnya kasar, "Kenapa gak sekarang aja, kan ini udah jam makan siang juga?" Ajak Anin menahan tangisnya.
"Sekarang? Maaf sayang, sekarang aku gak bisa. Lain kali aja ya..." Tolak Bastian halus.
"Hm iya gak papa!" jawab Anin cepat, rasanya dadanya semakin sesak mendengar bastian terus berbohong padanya.
"Udah dulu ya sayang, nanti aku telpon kamu lagi. Dah!" Ucap Bastian selembut mungkin.
'Tut' tanpa menjawab Anin segera memutus panggilan nya lebih dulu.
"Bohong... Hiks, kamu bohongin aku! Hiks.." Entah kenapa rasanya sangat menyesakan, hingga ia tidak dapat menahan air matanya lagi.
Cukup, dengan cepat Anin menghapus sisa air matanya. Melihat wajah nya di layar handphone nya, setelah dirasa cukup Anin kembali masuk ke dalam cafe.
__ADS_1
"Ya ampun Nin... Gue kira Lo balik duluan, abis ngapain sih lama banget?" Gerutu Ocha, tepat setelah Anin mendaratkan bokong nya di kursi.
Anin bergeming, ia hanya menatap makanan yang sudah tersaji di meja.
"Siapa perempuan itu? Kenapa Bastian sampai bohong? Apa yang sebenarnya terjadi?" Banyak pertanyaan yang terus bermunculan dipikiran Anin.
"Anin. Aniinn!!" Ocha mengguncang sebelah tangan Anin.
"Iya, kenapa?" Jawab Anin sedikit terkejut.
"Elo yang kenapa? Dateng-dateng langsung bengong..." Anin menjawab dengan gelengan kepalanya, menatap Ocha yang terlihat kesal.
"Kok Lo bete gitu?" Tanya Anin mengalihkan pembicaraan.
"Ya Elo, masa pesen makanan cuma punya Lo doang. Gue gak di pesenin?" Mengerucutkan bibirnya kesal.
Anin terkekeh,"ya ampun Cha, gak gitu. Tadi mau gue pesenin tapi gue gak tau Lo mau makan apa. Lagian itu udah ada makan didepan Lo" tunjuk Anin pada pasta keju yang tersaji di depan Ocha.
"Ini baru gue pesen tadi, mana udah laper banget!" jawab Ocha cepat masih dengan nada kesal.
"Yaudah sih kalo laper ya tinggal makan, ngapain ngomel segala?" Mulai menyantap makanan nya.
Ocha berdecak sebal dengan ucapan Anin, "Udah laper, gak di pesenin makan, di suruh nunggu yang katanya bentar malah lama..." Gerutu Ocha pelan seraya menyuapkan pasta kedalam mulutnya.
"Gak usah ngoceh nanti keselek!" Memperingati Ocha.
"Uhuk.."
"Kan gue bilang juga apa" tersenyum tipis.
Ocha menyeruput minuman nya, "Perasaan gue ngomong pelan, kok Lo denger?" Tanya Ocha heran.
Anin menyeringai, "ya karna gue sahabat Lo" Anin menatap Ocha, "Jadi, sekuat apapun Lo nyembunyiin rahasia dari gue. Lo gak akan pernah bisa!" Melanjutkan ucapan nya serius.
"Ekhem!" Ocha segera memutus tatapan di antara mereka, kembali melanjutkan makanannya walau kini terasa hambar di mulut.
Anin menyelidik Ocha yang kini terlihat gelisah. Namun, pikiran nya kembali teringat dengan kejadian tadi saat ia melihat seorang wanita di mobil bersama Bastian.
Kenapa saat mendekati hari pernikahan nya, Anin merasa hubungan nya dan Bastian tidak seindah dulu. Bahkan setiap hati Anin selalu ragu dengan kepercayaan pada Bastian, dan sekarang apakah kebohongan Bastian ini yang pertama atau sudah yang kesekian kalinya dan apa alasan nya.
Anin benar-benar merasa semua ini bagaikan puzzle untuk nya yang harus ia rangkai dengan benar, jika ingin mendapatkan jawaban nya. Karna bertanya pun Anin rasa percuma karna ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
...****************...
__ADS_1
Next episode ini akan mulai terbuka ya.. Jadi pantengin terus dan jangan lupa like and komentarnya biar Author makin semangat nulis nyaš¤
BSCā¤ļø