
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu membangunkan Rangga dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya dan melirik Cinta yang masih tertidur lelap dalam pelukannya padahal di luar sepertinya sudah terang. Terlihat dari cahaya matahari yang menyusup melalui celah-celah dinding kamar yang terbuat dari papan.
Kemarin, setelah puas menjelajahi Pulau Nusa Penida bagian barat, Rangga dan Cinta memutuskan untuk menjelajahi Pulau Nusa Penida bagian timur. Mereka menginap di rumah pohon yang dinamakan Rumah Pohon Molenteng. Rumah panggung yang terletak dikawasan wisata Raja Lima. Mereka beruntung karena Davin sudah lebih dulu memesankan rumah pohon itu untuk mereka. Jika tidak, mereka tidak kebagian untuk menginap di sana. Bahkan Pak Made sempat bercerita pada mereka kemarin, kalau biasanya butuh waktu sebulan untuk mendapat giliran menginap di rumah pohon itu, mengingat Rumah Pohon Molenteng hanya terdapat tiga unit dan sangat banyak peminatnya.
Udara yang dingin di malam hari membuat mereka tertidur lelap sepanjang malam. Bahkan Cinta belum juga terbangun, padahal pintu kamar mereka terdengar diketuk lagi dari luar. Dengan perlahan Rangga melepaskan tangannya yang menjadi bantalan kepala Cinta. Dia mengecup kening Cinta sesaat sebelum bangkit untuk membukakan pintu.
"Maaf Tuan, sudah mengganggu waktu istirahat Anda." Seorang gadis tengah berdiri di anak tangga sembari membawa nampan.
"Ah, tidak apa-apa, Gek(panggilan untuk gadis Bali) . Ada apa ya?" Rangga melempar senyum ramah ke arah gadis itu.
"Ini Tuan, saya mengantar sarapan untuk, Tuan. Pak Made yang memesankan kemarin pada saya," jelas gadis itu.
"Terima kasih ya, Gek."
"Sama-sama, Tuan. Selamat menikmati sarapan Tuan, saya ijin permisi." Rangga hanya menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Setelah gadis itu pergi, Rangga mengalihkan pandangannya ke arah laut. Memang benar kata Pak Made, melihat sunrise dari rumah pohon ini memang lebih menakjubkan.
"Siapa, Kak?" Cinta menyembulkan kepalanya di jendela.
"Owh itu, gadis penjual makanan di bawah tebing. Dia membawa sarapan untuk kita." Rangga masuk kembali dan menaruh makanan mereka. Kemudian, menyusul Cinta menuju jendela.
"Kamu baru bangun? Tidurmu sangat nyenyak rupanya, hm?" goda Rangga. Tangannya sudah melingkar di pinggang Cinta, memeluk Cinta dari belakang dan menyusupkan wajahnya ke leher istrinya itu.
"Hahaha, di sini sangat damai, tenang, pokoknya jauh dari kebisingan. Aku merasa sangat nyaman."
"Benarkah karena itu, bukan karena tidur dalam pelukanku?" Kembali menggoda Cinta sembari mendaratkan kecupan di leher.
Mau tidak mau Rangga melepaskan pelukannya karena dirinya juga sangat lapar. Namun, bukanya duduk memulai sarapan, Cinta malah menuju pintu.
"Katanya lapar, kenapa malah keluar?"
"Aku mau lihat sunrise sebentar." Dia berdiri di atas tangga dan mengedarkan pandangannya menuju laut. Tujuan awal mereka menginap di rumah pohon itu memang untuk menikmati pemandangan matahari terbit. Namun, karena semalam dia kelelahan akhirnya melewatkan momen itu.
"Wah memang benar-benar indah kalau dilihat dari atas sini," gumam Cinta yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagum melihat pemandangan di depan matanya kini. Melihat matahari terbit dengan dihiasi tebing-tebing batu yang menjulang tinggi dari permukaan air laut yang berlatarkan laut berwarna biru dan pantai dengan hamparan pasir putih. Di bagian belakang rumah pohon itu terdapat pemandangan tebing indah yang dinamakan Raja Lima yang menyerupai pemandangan Raja Ampat.
__ADS_1
"Sweetheart, ayo makan! Katanya lapar," seru Rangga dari dalam.
"Bee, Pak Made benar, pemandangan sunrise di sini sangat indah. Berasa sedang berada di Raja Ampat, hehehe." Cinta terkekeh pelan sembari menyendok makanan ke mulutnya.
"Tempatnya memang mirip Raja Ampat makanya dinamakan Raja Lima."
"Raja Lima? Mungkin namanya terinspirasi dari nama Raja Ampat kali ya, Kak. Ampat, Lima, Enam, ehh," celoteh Cinta yang hanya dijawab senyum oleh Rangga.
"Oh ya, habis ini kita ke mana?" tanya Cinta dengan mulut penuh berisi makanan.
"Kemarin kata Pak Made, hari ini kita ke Pantai Berlian sama Bukit Teletubbies."
"Bukit Teletubbies? Jangan bilang di sana nanti ada Tinky Winky, Dipsy, Lala, Po, hahaaa." Lagi-lagi Cinta tertawa dengan ucapannya sendiri.
Rangga mengusap rambut Cinta, "Terima kasih sudah mau tertawa saat bersamaku. Aku bahagia melihatmu tertawa seperti ini, Sweetheart." Mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap pipi Cinta. Sepasang manik miliknya memandang istrinya itu dengan penuh Cinta.
"Aku tertawa karena bahagia. Aku bahagia karena bersamamu, Kak. You're the source of my joy, the center of my world, and the whole of my heart. ( Kamulah sumber kebahagiaanku, pusat duniaku, dan seluruh hatiku)," sahut Cinta yang membalas tatapan penuh cinta dari suaminya.
Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan di dunia ini daripada saat melihat orang yang kita cintai tertawa bahagia. Terlebih dia tertawa karena kita, dan itulah yang dirasakan Rangga dan Cinta saat ini.
...****************...
Detik-detik menuju End🥺
__ADS_1