
Didalam ruangan, suhu tubuh Anin semakin menurun. Tamara cemas karna Anin terus menggigil, wajahnya mulai membiru.
"Cepat pindahkan Anin ke ruang VVIP yang Derald minta, apakah kamarnya sudah siap?" Tanya Tamara lugas.
"Sudah Dokter!" Jawab salah satu perawat.
Tamara keluar, "Mom, gimana keadaan Anin? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Derald beruntun.
Tamara melihat Derald yang sudah berganti pakaian, tersenyum puas. Ia khawatir Derald belum mengganti bajunya, namun Tamara bernafas lega sekarang.
"Anin mengalami Hipotermia, dan keadaan nya kritis. Sejak tadi suhu tubuh nya tidak meningkat malah semakin menurun" jelas Tamara sedih.
"Terus, apa yang akan Mommy lakukan?" Balas Derald cemas.
"Mommy akan memindahkan Anin ke ruang VVIP dulu. Disana juga suhu nya lebih hangat, lagi pula disini terlalu banyak orang mungkin kurang nyaman buat Anin," Derald mengangguk cepat.
Pintu UGD dibuka lebar, sebuah blangkar dengan Anin di atas nya. Beberapa perawat mendorong perlahan, hingga tepat di depan Derald tiba-tiba tangan Anin menjuntai keluar membuat tangan Anin bergesekan dengan tangan Derald.
Derald yang merasakan sentuhan dingin pada punggung tangan nya melihat kebawah, "Tunggu!"
Mereka semua berhenti, Derald mendekat menatap wajah pucat Anin dengan sendu. Derald menggenggam tangan Anin penuh kehangatan, "Kamu kuat, kamu pasti sembuh!" Ucap Derald dalam hati. Derald meletakkan tangan Anin dan menutupnya dengan selimut.
Hari semakin gelap, hujan juga sudah mulai reda. Mama Alin melihat jam dinding sudah menunjuk ke angka 7 lebih.
"Udah jam segini, kenapa mereka belum pulang?"
Mama Alin tampak gelisah, perasaan nya tidak enak sejak tadi. Beberapa kali Mama Alin menelpon Anin, namun tak ada jawaban. Begitupun dengan suaminya yang sama-sama tidak bisa dihubungi.
"Mah!"
"Papa? Papa udah pulang, kenapa Mama telponin Papa gak angkat?" Terlihat raut wajah khawatir bercampur kesal saat menghapiri suaminya.
"Tadi Papa sibuk di kantor, jadi Papa silent HP nya. Kamu kenapa sih kok khawatir gitu?"
"Gak tau Pah, dari tadi perasaan Mama tuh gak enak. Makanya Mama telpon Papa juga Anin, tapi kalian gak ada yang jawab telpon Mama, makanya Mama khawatir kaya gini" ucap Mama Alin gelisah.
"Tapi Dira udah pulang kan?" Tanya Papa Adrian menatap kamar Anin.
"Itu dia, Anin juga tumben jam segini belum pulang. Biasanya kalau Anin pulang telat, Anin selalu telpon Mama. Tapi sekarang dihubungin aja gak bisa!" Jawab nya cemas.
Papa Adrian merogoh jas nya, "Anin telpon Papa, Mah. Tapi jam tiga sore, sebentar Papa coba telpon..." Papa Adrian mencoba menelpon Anin.
"Gak diangkat Mah!" Ujar Adrian.
"Tuhkan Pah... Anin sayang kamu dimana sih?"
Tak lama ponsel Mama Alin berdering menandakan panggilan masuk. Segera Mama Alin menggeser tombol hijau.
"Selamat malam, Apa benar ini dengan Ibu Alin?" Ucap seseorang disebrang sana.
__ADS_1
"Ya, saya sendiri " Perasaan Alin semakin tak tenang.
"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan jika putri Ibu yang bernama Anindira Levronka, kini tengah menjalani perawatan dirimah sakit Citra Medika. Mohon Keluarga pasien untuk segera datang," sambungnya, menjelaskan.
Tubuh Alin lemas seketika, air matanya luruh begitu saja. Hampir saja tubuh nya ambruk ke belakang, jika Adrian tidak menangkapnya.
"Mah, ada apa?" Tanya Adrian panik.
"A--Anin..." Ucapnya lirih tatapan nya kosong.
Adrian menepuk pipi Alin pelan, "Katakan apa yang terjadi sama Dira, Mah? Siapa yang menelpon?" Ucap Adrian semakin cemas.
Alin sadar, ia menegakkan tubuhnya. Menatap mata suaminya, "Pah, Anin ada dirumah sakit! Hiks hiks.." pecah sudah tangis Alin.
"APA?!"
Adrian memeluk istrinya menenangkan, "Ayo Pah, kita harus kesana sekarang!" Adrian mengangguk setuju.
Dirumah sakit, "Bagaimana kamu sudah menghubungi nomor yang tadi saya kasih ke kamu?" Ujar Tamara.
"Sudah Dok! Mungkin sebentar lagi mereka sampai," jawab perawat yang menelpon Alin.
Tamara mengangguk, ia hendak pergi. Namun, terdengar suara panik seseorang yang ia kenali.
"Dimana putri ku?" Ucap Alin panik ditempat pendaftaran.
"Alin!" Panggil Tamara .
"Kamu--"
"Ya aku yang merawat Anin, dan aku juga yang meminta mereka untuk menghubungi mu.."
Mata Alin membulat, "Lalu dimana Anin? Bagaimana keadaan nya? Kenapa Anin bisa masuk rumah sakit, apa yang sebenarnya terjadi pada putri ku?" Ucap Alin beruntun, Ia benar-benar khawatir pada Anin.
"Kamu tenang, Anin udah ditangani dan kini Anin ada di atas ayo ikut aku!" Ujar Tamara tenang.
Alin dan Adrian mengangguk cepat, kini mereka beriringan masuk kedalam lift menuju rangan Anin.
Sesampainya dilantai sepuluh tepatnya di ruangan VVIP, ada beberapa kamar disana. Tamara, Alin dan Adrian berjalan tergesa, kini mereka menuju ruangan yang ditunggu kedua pria tampan, Derald dan Nichol.
"Ini ruangan Anin. Tapi saat ini keadaan Anin belum stabil suhunya masih di bawah suhu normal, ia juga masih belum sadarkan diri. Tapi aku sudah memberinya obat, kita tunggu saja biarkan Anin istirahat dulu," Tamara menjelaskan dengan lugas.
Air mata Alin kembali luruh, " Sebenarnya apa yang terjadi pada Anin, Ra? Sebelum nya Anin baik-baik aja..." Ucap Alin.
"Ya, bahkan sebelum nya aku bertemu Anin disini dan dia baik-baik aja" balas Tamara, mengingat pertemuan nya dengan Anin tadi siang.
"Apa, mau apa Anin kesini?" Tanya Anin menyerngit.
"Iya, Anin bilang dia kesini menjenguk teman nya..." Jawab Tamara.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana Anin bisa seperti ini?" Kali ini Adrian yang bicara.
"Untuk itu kalian bisa tanyakan pada putraku" melihat ke arah Derald yang sedari berdiri disamping Tamara.
"Ini--"
"Ya, ini anak pertama ku" merangkul dan mengusap tangan Derald lembut.
Derald menyalami tangan kedua orang tua Anin, "Derald... Salam kenal Om, Tante" ucap Derald sopan.
Adrian dan Alin mengangguk seraya tersenyum tulus, mata mereka tertuju pada pria tampan dibelakang Derald.
"Oh ini Nichol. Sahabat sekaligus Asisten nya Derald" ucap Tamara memperkenalkan Nichol.
Nichol mendekat ia ikut menyalami keduanya, "Hallo Om, Tante!" Keduanya tersenyum.
"Jadi, apa kalian bisa menceritakan apa yang terjadi pada putri ku?" Tanya Adrian tegas.
Dengan pembawaan nya yang tenang Derald menceritakan kejadian yang menimpa Anin. Alin yang mendengar penjelasan Derald tak mampu berdiri lagi, ia duduk di kursi dengan air mata yang tak henti membasahi pipinya, isak tangis terdengar bengitu menyayat. Hati ibu mana yang tak terluka mendengar putrinya hampir menjadi korban kejahatan? Tamara merangkul Alin, menenangkan teman nya itu.
Tatapan Adrian menajam, matanya memerah bahkan tangan nya mengepal kuat menahan amarah. Ia tak terima dengan apa yang terjadi pada putri kesayangan nya, dadanya bergemuruh rasanya ia ingin membunuh orang-orang yang hampir mencelakai putri kesayangan nya.
"Sekarang dimana mereka?" Ujar Adrian dingin, sorot matanya menyiratkan kemarahan.
"Om, tenang aja mereka sudah ditangani oleh pihak berwajib kini mereka sudah ada didalam penjara" ucap Derald.
Derald juga geram, bahkan jika tadi Nichol tidak menghalanginya maka ia sudah menghabisi pria sialan itu yang sudah memaksa Anin dengan kasar.
"Jadi, apa yang membuat Anin sampai seperti ini Ra?" Ucap Alin dengan suara serak karna tangis.
"Anin mengalami Hipotermia. Suhu tubuhnya menurun drastis dan jika saja Derald tidak memberi penanganan pertama dan segera membawa nya ke rumah sakit. Aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi pada Anin" jelas Tamara, menunduk sedih.
Nichol memberitahu Tamara, saat menuju rumah sakit Derald terus menggosok kedua tangan Anin berusaha memberi kehangatan untuk Anin.
"Terimakasih..." Ucap Alin tersenyum ke arah Derald.
Derald membalas senyuman Alin, "Om, gak tau harus berterimakasih dengan cara apa lagi sama kamu. Terimakasih sudah menyelamatkan Anin, Anin adalah putri kami satu-satunya. Jika terjadi sesuatu pada nya..." Adrian menghentikan ucapan nya, menyusut buliran bening di ujung matanya.
"Tidak apa Om. Melihat Anin baik-baik saja itu sudah cukup bagi saya..." Ucap Derald tulus.
Adrian terharu mendengar jawaban Derald, Derald pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Bukan hanya menyelamatkan Anin dari para penjahat itu, Derald juga sudah menyelamatkan nyawa Anin.
Tamara tersenyum bangga melihat sikap putranya yang berbeda hari ini. Apalagi Tamara melihat Derald yang terlihat panik dan begitu mencemaskan Anin tadi. Ia tidak pernah melihat Derald sepeduli ini terhadap perempuan lain selain dirinya dan Citra.
"Apakah Derald menyukai Anin?" Pikir Tamara, Ia tersenyum kearah putranya.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan Like Vote dan Komen... Terimakasih😊
__ADS_1
BSC❤️