
Ocha diam tidak menjawab, jujur Ocha bingung apa yang dilakukannya ini benar atau tidak dengan merahasiakan hal sebesar ini dari Anin.
Entah kenapa hatinya mengatakan jika ini tidak benar, tapi mengingat jika Vina sendiri yang akan mengatakan nya pada Anin membuat Ocha merasa yakin jika semua akan baik-baik saja.
"Vin, kaya nya gue harus balik sekarang. Lo gak papa kan gue tinggal?" Memecah keheningan diantara dirinya dan Vina.
"Gak papa Cha, tadi Nyokap Lo juga udah nelpon kan" Ocha mengangguk kecil.
"Yaudah gue balik ya. Kalo ada apa-apa telpon gue aja" ucap Ocha khawatir.
"Iya Ocha. Lagian gue kenapa? Gue baik-baik aja kok, Lo gak usah khawatir. Oke!"
Ocha hanya tersenyum kecil, sekilas ia melihat perut Vina yang masih rata kemudian beranjak pergi dari kamar Vina dengan perasaan tak menentu.
Hari sudah berganti menjadi gelap, Ocha yang merasa tak tenang karna harus menyimpan rahasia besar dari Anin. Sedangkan dirinya tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Anin, jelas hal ini membuat nya menjadi tak nyaman.
Walaupun berada di kamar nya sendiri, namun Ocha merasa gelisah ia terus mondar-mandir tak tentu arah. Memikirkan apa yang ia lakukan ini benar atau salah, hati nya memintanya untuk memberitahu Anin. Namun,Ocha teringat pada Vina yang berjanji akan mengatakan secara langsung pada Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, tampak sebuah rumah mewah nan megah berdiri kokoh bak istana bergaya modern. Air mancur yang berada di halaman depan yang luas menyambut siapa saja yang datang ke rumah tersebut, berbagai macam mobil mewah pun berjejer rapi di halaman rumah tersebut.
Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam memasuki gerbang yang tinggi menjulang, dengan kecepatan pelan mobil tersebut memasuki halaman rumah mewah tersebut. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah mewah tersebut, pintu mobil terbuka. Menampakkan sosok pria tampan nan gagah dengan setelan kerja nya keluar dari mobil, kacamata hitam bertengger di hidung nya yang mancung. Sempurna, itulah kata yang pas untuk pria yang tak lain adalah Aderaldvin Dharmendra. Putra sulung dari keluarga Dharmendra, penerus perusahaan Dharm corf salah satu perusahaan maju yang menduduki posisis pertama di bidang nya.
Derald berjalan dengan gaya cool nya, ia disambut oleh beberapa pelayan yang membungkuk hormat di depan pintu masuk . Salah satu pelayan membukakan pintu untuk sang tuan muda.
"Selamat datang Tuan.." Sapa pelayan ramah, membukakan pintu untuk Derald.
Derald mengangguk kecil dengan senyuman tipis dibibirnya. Walaupun hanya senyuman tipis, namun itu membuat ketampanan na bertambah berkali lipat.
"Hallo Boy..." Suara bariton itu seketika mengalihkan pandangan Derald kearah nya.
__ADS_1
Derald tersenyum, ia membuka kacamata nya perlahan "Daddy?" Ucap Derald lirih.
Davian Dharmendra ayah dari Derald, pemilik perusahaan Dharm corf. Ia baru kembali dari luar negri setelah mengurus salah satu bisnis nya disana.
"Daddy kapan pulang? Kenapa gak ngasih tau aku, kan nanti bisa aku jemput?" Ucap Derald, setelah melepas pelukan nya.
"Tadi sore. Daddy tidak mungkin mengganggu mu yang sedang sibuk, Boy" jawabnya santai.
"Derald?" Derald berbalik menatap wanita yang tengah menyapa nya.
"Mommy!" Ucap Derald tersenyum tampan.
Wanita paruh baya berpenampilan modis nan elegan tengah tersenyum manis pada putranya, Ialah Tamara ibu dari dua anak yang selalu terlihat cantik berjalan mendekati Derald yang sejak tadi berdiri didepan nya.
"Akhirnya kamu pulang sayang. Mommy kangen banget sama kamu" memeluk putra kesayangannya.
"Maaf Mom, Derald sibuk banget akhir-akhir ini. Jadi, Derald lebih nyaman tinggal di apartemen" ucapnya seraya melerai pelukan menatap netra Mommy nya.
"Iya lebih nyaman tinggal di apartemen karna disini ada aku kan?"
Semua mengedarkan pandangan nya pada gadis imut yang tengah berdiri di ujung tangga, dengan menyilangkan tangan nya di dada. Siapa lagi jika bukan Citra.
"Itu kamu tau" ucap Derald tersenyum smirk.
Citra membulatkan mata nya, "KAK DERALD!!!"
Citra berlari kearah Derald hendak memeluk nya namun, Derald menghindar "gak usah peluk-peluk ya" ucap Derald ketus.
"Kenapa?" Mengerutkan kening nya bingung.
"Geli, di peluk adek nakal ke kamu" balas Derald dengan nada mengejek.
__ADS_1
Dengan santai nya Derald berlalu pergi hendak ke kamarnya.
"Ish, Kak Derald nyebelin banget sih!" Mengejar Derald yang kian menjauh.
Kini, Citra tengah bergelayut manja di tangan kekar sang Kaka, "aku adek yang paling cantik, harus nya Kak Derald bersyukur punya adik ke aku" ucapnya bangga.
"Cih, narsis" sahut Derald.
"Biarin, emang aku cantik kok" semakin mengeratkan pelukan ditangan Derald.
"Kata siapa? Malah ada yang lebih cantik dari kamu" Ujar Derald membayangkan wajah cantik Anin.
"Siapa?" Tanya Citra mendongakkan wajahnya.
"Kamu nanya?" Mengikuti logat yang lagi Viral.
"Ish, Kak Derald!!" Kesal Citra.
Derald tertawa tampan, "Apa? Lepas, gatel tau..." Terus menggoda adik satu-satunya itu seraya berusaha melepaskan tangan nya.
"Aku bukan ulat bulu!" Protesnya tak terima, "gak mau, pokoknya aku mau kaya gini aja. Aku kangen tau sama Kakak..." ucapnya manja sambil mengerucutkan bibirnya.
Ya, beginilah Derald ia senang sekali mengejek Citra. Derald memang sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Dan, ini yang selalu Derald rindukan jika ia tidak pulang ke rumah. Mengganggu dan membuat adiknya itu kesal, menurut Derald itu sangat menyenangkan.
Sepanjang jalan Citra terus ngedumel menggerutu tak jelas, namun tak pelak Derald pun ikut terkekeh mendengar ocehan tak berfaedah adiknya itu.
...****************...
Jangan lupa like dan komentar nya🤗
BSC❤️
__ADS_1