Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Kembalilah Padaku


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, Rangga terlihat masih duduk di ruangan kerjanya dengan mata tertutup. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi kebesarannya dengan menghadap langit-langit ruangan itu.


"Kita pisah!"


Ucapan Cinta terngiang terus di kepalanya. Membuat darahnya seketika mendidih, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat. Dia marah. Marah pada dirinya sendiri. Karena kebodohannya, dia akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


****! umpat Rangga dalam hati. Dia membuka kedua matanya menatap langit-langit ruangannya.


"Hah!" Helaan napas berat lolos begitu saja dari bibirnya. Dia duduk tegak kembali menatap layar laptopnya untuk beberapa saat. Pikirannya kembali kacau, dia berdiri lalu dengan kasar meraih vas bunga yang terletak di sudut meja kerjanya dan melemparnya.



"Arrggghh!"


Prankkk!


Vas bunga itu melayang menghantam dinding ruangan dan jatuh berkeping-keping.


"Sialan! Brengsek!" Rangga mengumpat dengan kasar sembari mengacak-acak semua kertas-kertas yang bertumpuk di atas meja kerjanya hingga berserakan di lantai. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya tetapi, mau marah pada siapa? Bukankah ini terjadi karena kesalahannya sendiri.


Puas melampiaskan kekesalannya, dengan lunglai dia berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya dengan malas di sana. Rangga terdiam memandang langit-langit ruangannya, menerawang memikirkan kembali nasib pernikahannya dengan Cinta.


Apakah harus berakhir seperti ini? lirih batinnya. Setelah berapa menit dia terdiam sampai terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Masuk!" jawab Rangga dengan malas tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit ruangannya.


"Maaf Pak, apa ada tugas tambahan untuk saya?" tanya Agnes seperti biasa.


"Tidak ada, pulanglah!" jawab Rangga sembari memijit pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ga? Beberapa hari ini aku perhatikan kamu tidak fokus dengan pekerjaanmu. Apa kamu ada masalah?" tanya Agnes memberanikan diri demi melihat kekacauan dalam ruangan Rangga. Dia kembali bicara dengan bahasa santai di saat jam kerjanya sudah berakhir dan Rangga sudah bukan sebagai atasannya lagi.


Rangga hanya terdiam. Melihat itu Agnes menghela napas lalu berjalan mendekati meja kerja Rangga untuk memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai dan merapikannya kembali di atas meja.


"Maaf Ga, kalau aku lancang. Kalau boleh aku tau, kenapa beberapa hari ini kamu terlihat berbeda dari biasanya? Apa kamu lagi ada masalah?" tanya Agnes lagi yang sudah duduk di sebelah Rangga.



"Gak ada Nes, aku hanya lelah. Kamu pulanglah. Kasian Angga menunggumu."


"Em, ngomong-ngomong soal Angga, kamu kapan ada waktu? Angga ingin bertemu denganmu. dia bilang ingin memberimu hadiah karena kamu sudah ada untuk dia waktu itu." Agnes menatap Rangga dengan penuh harap.


"Belum tau Nes," jawabnya singkat.


"Besok bagaimana?" tanya Agnes dengan tersenyum manis.


"Kayaknya gak bisa Nes,"


"Nes, pulanglah! Aku lelah." Rangga menghela napas berat lalu menangkup wajahnya sendiri.


"Hm, baiklah, maafkan aku. Aku sudah mengganggumu. Aku permisi pulang duluan." Dengan perasaan sedih bercampur kecewa Agnes bangkit dari duduknya lalu membuka pintu bersamaan saat Gilang ingin memasuki ruangan itu.


Agnes hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Gilang, begitu juga Gilang yang membalasnya dengan senyuman tipis.


"Loe kenapa? Masih ribut sama Cinta?" Gilang menepuk pundak Rangga dan sudah duduk di sebelahnya.


"Cinta minta pisah setelah lahiran," jawab Rangga frustasi. Dia melengos dan menyandarkan kepalanya lagi di sofa.


"Apa? Pisah?" pekik Gilang tak percaya yang hanya dijawab helaan napas oleh Rangga.

__ADS_1


"Ck, parah!" Gilang berdecak, "Loe sih brengsek jadi laki, pake acara selingkuh sama Agnes begini 'kan jadinya."


"Heh, gue emang laki brengsek tapi, gue bukan tukang selingkuh." Rangga melotot pada Gilang. "Semenjak gue mutusin buat menjalin hubungan sama Cinta gue udah berkomitmen untuk berhenti dari dunia gelap gue. Sudah cukup buat gue melalang buana, udah cukup buat gue main-main selama ini. Cuma Cinta, wanita yang ada di hati dan hidup gue." Rangga menumpahkan isi hatinya pada Gilang dengan berapi-api.


Gilang kembali menepuk pundak Rangga, berusaha untuk menenangkannya. "Iya gue tau, sorry! Terus, gimana sekarang keputusan loe?"


"Entahlah Lang, gue bingung. Gue gak mungkin pisah sama Cinta, dia separuh hidup gue," ujarnya pedih bahkan dengan mata yang berkaca-kaca.


...****************...


"Cinta sudah tidur, Bik?" tanya Rangga pada pelayan yang membukakannya pintu.


"Belum Tuan, Nona baru saja masuk ke kamarnya."


"Lalu ayah sama ibu?"


"Nyonya dan tuan juga baru saja masuk ke kamar bersamaan dengan nona."


"Hm, baguslah. Ini mangga muda pesanan Cinta, Bik." Rangga menyodorkan kantong belanja berisi mangga muda pesanan Cinta yang disampaikan pelayan itu pada Rangga tadi. Selama beberapa hari setelah pertengkarannya dengan Cinta, Rangga memang mengetahui perkembangan Cinta lewat pelayan yang ada di rumah Reyhan. Dia meminta pelayan itu memberitahunya apa yang Cinta butuhkan. Termasuk kebiasaan ngidam Cinta saat-saat menjelang subuh, Rangga tetap berusaha mencarikan apa yang Cinta mau meski dia sangat kelelahan karena setiap hari harus pulang-pergi dari rumah Reyhan ke kantornya yang memakan waktu enam jam perjalanan bolak-balik rumah ke kantor.


"Apa Tuan ingin makan malam, biar saya siapkan?" tawar pelayan itu.


"Tidak usah Bik, saya mau langsung istirahat saja," jawabnya lesu.


"Baiklah Tuan, Tuan memang terlihat sangat lelah. Selamat beristirahat Tuan," ucap pelayan tadi dengan perasaan iba demi melihat wajah Rangga yang memang kelelahan. Bagaimana tidak, beberapa hari ini Rangga memang kurang tidur karena dia sampai di rumah saat malam hari, lalu berangkat kembali ke kantornya saat subuh belum lagi jika Cinta meminta sesuatu di waktu menjelang subuh, maka pelayan itu dengan terpaksa membangunkan Rangga kembali dan jadilah Rangga tidak mendapat istirahat sama sekali.


Sebelum menuju kamar tamu, tempatnya tidur beberapa hari ini, Rangga lebih dulu menaiki tangga untuk melihat kamar Cinta walaupun dia tahu Cinta tidak akan mau membukakan pintu ataupun menemuinya. Dipandangnya pintu kamar Cinta yang berwarna coklat terang itu dengan perasaan campur aduk. Dia tersenyum miris mengingat kembali saat-saat dia berada di dalam kamar itu bersama Cinta.


"Kumohon, kembalilah padaku Sayang,"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2