Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Sisi lemah Anindira


__ADS_3

Tampak mobil Anin memasuki halaman rumah nya. Setelah mematikan mesih mobil, Anin tidak langsung keluar ia duduk berdiam diri didalam mobil, matanya kembali berkaca-kaca. Terdengar beberapa kali Anin menghela nafasnya, kemudian Anin bercermin merapikan penampilan wajah, lalu Anin menampilkan senyuman terbaik nya.


Anin belum bisa mengatakan yang kini terjadi pada dirinya kepada Mama, Papa nya. Rasanya Anin tidak sanggup, mereka pasti kecewa dan mengingat pernikahan nya tinggal dua hari lagi, ada rasa tidak tega jika kedua orang tua nya harus menanggung malu.


"Maafin Anin... Mah, Pah!" Ucap Anin lirih. Lagi buliran bening itu meluncur dengan bebas di pipinya. Ia benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang.


Anin turun dengan beban yang sangat berat baginya. Ia berjalan dengan perasaan hancur, hatinya remuk, setiap langkah kakinya Anin merasa jika ia tengah berjalan di atas bara api.


Di khianati orang-orang yang sangat kita percaya dengan sepenuh hati, adalah hal yang sangat menyakitkan. Mengingat semua kenangan bersama orang-orang yang mengkhianati nya, semakin menambah luka nya semakin dalam.


Anin kembali menghapus air matanya yang kembali luruh, ia menguatkan dirinya sendiri. Lalu membuka pintu dan masuk kedalam.


Saat berada di ruang tengah, tiba-tiba hatinya kembali tersayat begitu melihat Mama Alin dan Papa Adrian yang tengah berjalan beriringan menuju ke arah nya.


Ada rasa jika Anin ingin sekali berlari dan memeluk kedua orang tua nya, menumpahkan segala gundah di hatinya.


Tapi, tidak. Anin tidak selemah itu, ia akan menghadapinya sendiri. Mata Anin kembali berembun. Namun, dengan cepat Anin menyembunyikan, menghapusnya kasar.


"Tolong aku mohon jangan keluar lagi... Aku gak mau nangis di depan Papa Mama!" Batin Anin pada dirinya sendiri.


Semakin orang tuanya mendekat, Anin berusaha menampilkan senyuman terbaiknya. Ternyata tersenyum disaat hati sedang terluka itu memang sulit. Setiap kali Anin mencoba tersenyum, saat itu juga hatinya terasa sakit. Bahkan lagi-lagi, tanpa izin dari nya, air mata nya kembali luruh membasahi pipinya.


Anin segera menundukan kepalanya, ia berusaha menghilangkan jejak air mata di pipinya.


"Anin... Kamu ini kenapa susah sekali di bilangin sih sayang? Mama kan udah bilang sama kamu, Mama juga udah pesen sama Bi Lani. Kalo kamu gak boleh kemana-mana, seharusnya kamu itu diam dirumah!" Ucap Mama Alin.


Anin masih bergeming, ia tak sanggup bicara sekarang. Karna jika Anin bicara maka ia tidak akan bisa menahan air matanya. Anin hanya pasrah mendengar omelan Mamanya sendiri.


"Kalo kamu mau ketemu Ocha, kenapa gak minta dia buat dateng kesini? Ngapain harus kamu yang kesana?" Omel Alin lagi.


"Kalo Anin gak pergi, Anin gak akan pernah tau semua kebenaran ini Mah..." Batin Anin miris.


Adrian merasa tak tega melihat putrinya di omelin panjang lebar oleh istrinya. Ia juga heran, tumben sekali Anin tidak menjawab ucapan Mamanya. Biasanya jika Mama nya mengomel, maka Anin akan selalu membalas dengan perkataan nya yang bijak.


"Sudahlah Ma... Yang penting kan Dira sudah pulang dan dia baik-baik aja," Ujar Adrian menengahi.

__ADS_1


"Iya, tapi--"


"Mah, Pah. Anin cape mau istirahat!" Bergegas Anin berlalu pergi meninggalkan Alin dan Adrian yang mematung menatapnya heran.


Anin masuk ke kamarnya ia menutup pintu kamar dengan cukup keras, hingga membuat Adrian dan Alin terperanjat.


"Dia kenapa?" Ucap Mama Alin terkejut.


"Mungkin Dira marah sama Mama," jawab Adrian sekenanya.


"Loh kok, harusnya Mama yang marah. Kenapa malah jadi Anin yang marah sama Mama?" Protes Alin tidak terima.


"Ya lagian Mama. Anak baru pulang dimarahin, jadi ngambekan dia. Lagian biarin aja kalau Dira pergi, toh perginya juga ke rumah Ocha. Mungkin Dira mau menghabiskan waktu bersama teman-temannya, sebentar lagi kan Dira bakal menikah dan menjadi seorang istri" jelas Adrian pada istrinya.


Alin terdiam, ia mencerna setiap ucapan suaminya. Memang benar, seharusnya Alin mengerti. Anin bukan anak perempuan jaman dulu yang percaya pada hal-hal mitos seperti itu, jelas Anin tidak akan suka. Di jaman modern seperti ini mana ada kata pamali, apalagi gadis cerdas seperti Anin?


Sedang dikamar, Anin mengunci pintu kamarnya. Ia berjalan gontai menyimpan tasnya di sembarang arah, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Anin menyalakan shower, kini air mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.


Anin kembali mengingat semua kejadian hari ini, disaat ia melihat foto itu dan vidio yang ditunjukan Derald padanya. Mata Anin terlihat memerah, sudah tidak terlihat lelehan air matanya karna bercampur dengan air shower. Bibir Anin gemetar, tubuhnya ambruk dilantai. Pecah sudah tangisan yang sedari ia tahan, Anin menangis dengan keras berharap semua sesak di dadanya bisa berkurang.


Anin menekuk kedua kakinya, ia memeluk kakinya lalu menundukan kepalanya. Seberapa kuat Anin mencoba, namun ternyata ia tetaplah manusia. Hatinya rapuh, jiwanya lemah, hanya dengan menangis Anin bisa melampiaskan emosi dalam dirinya.


🌸🌸🌸


Fajar menyongsong dari upuk timur. Menandakan hari baru bagi setiap insan di muka bumi, termasuk Anin. Setelah puas menangis semalaman, Anin bertekad jika ia tidak boleh menangis lagi. Anin akan berdiri dengan tegak, ia bukan wanita lemah yang mudah di bohongi.


Anin akan mengikuti permainan orang-orang yang mengkhianatinya. Ia ingin melihat sampai mana dirinya akan terus di bohongi, Anin masih berharap Ocha akan datang dan bicara padanya. Karna, hati kecil nya masih mempercayai Ocha.


Pagi ini Anin turun dengan wajah ceria, ia tak sedikitpun memperlihatkan kesedihan nya. Anin juga memakai riasan mata yang cukup tebal, untuk menutupi mata bengkak nya akibat menangis semalaman.


Anin mendekati meja makan, ia duduk di kursi yang biasa ia tempati. Anin bersikap biasa saja, namun satu Anin tak mengucapkan apapun pagi ini.


"Sayang... Are you oke?" Tanya Adrian halus.


"Hm... I'm oke!" Jawab Anin tersenyum manis, melihat Papa Adrian.

__ADS_1


"Kamu marah sama Mama?" Ujar Alin, melihat Anin yang tak melirik dirinya sejak tadi.


"Enggak!" Ucap Anin, seraya menyendok nasi goreng di piring nya.


"Maafin Mama ya... Kemarin Mama khawatir banget sama kamu, Mama janji gak bakal gitu lagi. Harusnya Mama sadar kalau kamu paling gak suka di kekang, tolong maafin Mama ya sayang!" Ujar Alin tulus.


Anin menatap Mamanya yang kini tengah menatapnya sedih, "Anin gak marah Mah. Justru Anin yang harus minta maaf, karna sikaf Anin kemarin sangat tidak sopan" Anin menundukan kepalanya menyesal.


"Gak papa sayang. Mama sama Papa ngerti kok, lusa itu pernikahan kamu jadi udah ya... Jangan sedih gitu dong" hibur Adrian.


Namun, bukan nya senang Anin terlihat mengepalkan tangan nya yang tengah memegang sendok dengan sangat kuat. Berusaha menahan gejolak di hatinya, Anin tersenyum samar. Kemudian melanjutkan sarapan nya dengan malas.


"Kita ngapain kesini sih Mah?" Gerutu Anin.


Kini Anin dan Mama Alin sudah berada di salon.


"Kamu ini gimana sih? Kamu kan mau menikah jadi sebelum itu kamu harus perawatan dulu, biar nanti pas di pajang kamu bersinar" ujar Alin antusias.


"Di pajang, emang aku manekin?" Ucap Anin kesal.


"Ish, udah ah ayo..."


"Tapi Anin gak mau Mah!"


"Tapi, kenapa?"


"Ya... Gak papa, menurut Anin ini gak perlu!"


"Ini perlu sayang. Mama mau anak Mama satu-satunya ini menjadi pengantin yang paling cantik nanti" timpal Alin berbinar bahagia.


"Mama sepertinya sangat bahagia, apa gue sanggup melakukan semua ini? Maafin Anin Mah, mungkin yang akan Anin lakukan nanti akan membuat Mama dan Papa kecewa..." Batin Anin.


...****************...


Wah-wah Anin punya rencana apa tuh?

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Vote dan yang mau jawab. Jawab di Komen ya🤗


BSC❤️


__ADS_2