
Anin berusaha bangun, "Apa yang ingin kamu lakukan Dira?" Tanya Adrian panik.
"Dira pegel Pah, mau duduk!" Jawab Anin lemah.
"Tapi kamu baru aja sadar sayang, harus banyak istirahat dulu..." Kali ini Anin yang angkat bicara.
Anin tau itu, tapi saat ini punggung nya terasa panas. Anin merasa tubuhnya kaku semua, ia ingin bangun walau ia hanya bisa duduk saja. Anin menatap Adrian memohon, Adrian tidak tega melihat wajah cemberut putri kesayangan nya.
"Yasudah, Papa bantu!" Adrian memeluk Anin.
Anin tersenyum senang, segera ia melingkarkan tangan satunya di leher sang Papa. Alin membantu memperbaiki posisi bantalnya, agar lebih nyaman untuk Anin bersandar.
"Sudah!" Ucap Alin, kemudian Anin menyandarkan tubuhnya.
"Sudah nyaman?" Ucap Adrian.
"Sudah. Makasih Mah, Pah" jawab Anin tersenyum manis.
'Klek' pintu ruangan Anin terbuka tampak Bastian berdiri dengan tatapan mengarah pada Anin. Anin melihat ke arah pintu, Anin diam senyum nya perlahan pudar. Tiba-tiba matanya terasa panas, Anin segera memutus kontak mata lebih dulu.
Bastian berjalan kerah ranjang Anin, ia menyalami Adrian, "Om!" Adrian tersenyum, mengangguk.
"Tante, ini Bastian tadi mampir beli cemilan" menyodorkan paper bag pada Alin.
"Harusnya kamu gak usah repot-repot bawa ini segala!" Ujar Alin menerima paper bag sungkan.
"Gak repot kok Tan, tadi kebetulan Bastian lewat tokonya" balas Bastian.
"Makasih ya.." Ucap Alin tersenyum lembut.
Sedang, Anin berusaha menenangkan gemuruh di hatinya.
Andrian menggeser posisinya, kini Bastian berada tepat disamping Anin. Dengan senyuman merekah ia menyentuh tangan Anin, ingin rasanya Anin menepis tangan nya. Namun, ia sadar masih ada orang tuanya disini.
"Aku seneng kamu sudah sadar. Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Bastian.
"Aku baik-baik saja!" Jawab Anin dingin, bahkan Anin terus menunduk tidak mau melihat wajah Bastian.
"Mah, Anin boleh minta tolong?" Perlahan Anin menarik tangan nya dari genggaman tangan Bastian.
Bastian melihat tangan nya, ia tersenyum kaku. Hatinya seperti tersayat, ada rasa kecewa saat Anin melepaskan tangan nya. Namun, ia berusaha menepis semua perasaan nya.
"Tentu sayang!" Jawab Mama Alin, yang kini tengah duduk di sofa bersama Adrian.
Bastian memperhatikan sikap Anin padanya sedikit berbeda, Bastian berpikir jika mungkin Anin marah pada nya. Walau ia tidak tau apa sebab nya?
"Anin haus..." Ucap Anin lembut.
"Hanya itu?" Alin terkekeh pelan, dan diangguki Anin.
"Sebentar Mama ambilin ya..." Anin tersenyum tipis kearah sang Mama. Alin hendak beranjak dari duduk nya,
"Tunggu Tante! Tante duduk aja, biar Bastian yang ambil minum untuk Anin" bergegas Bastian mengambil air minum untuk Anin yang sudah ia beri sedotan.
__ADS_1
Anin bergeming ia tak mampu menjawab atau menolak. Namun, perhatian nya terus tertuju pada Bastian. Setelah menghabiskan satu gelas air, Anin menyenderkan kepala nya yang terasa sedikit pusing. Tanpa mempedulikan Bastian disamping nya.
"Kalo butuh apa-apa, kasih tau aku. Jangan ngerepotin Mama sama Papa kamu, kasian mereka pasti capek udah jagain kamu seharian" ucap Bastian menasehati Anin dengan lembut.
Namun, Anin masih saja diam. Ia mendengar yang Bastian katakan, tapi ia tidak menjawab atau menanggapinya.
Adrian dan Alin saling melirik, melihat Anin hanya diam bahkan sikapnya berubah dingin dan datar semenjak kedatangan Bastian.
Anin menatap langit-langit dengan pemikiran nya, sedang Bastian hanya diam menunduk. Ia ingin bicara namun ragu karna ada orang tua Anin disini.
"Mah berapa lama Anin pingsan?" Tanya Anin lirih.
"Sehari semalam!" Jawab Alin apa adanya.
Anin melongo tak percaya, "Selama itu?" Gumam Anin.
"Ya. Kamu membuat kami semua khawatir Dira!" Sela Adrian dengan wajah dibuat kesal.
"Maaf!" Ucap Anin merasa bersalah.
"Kamu ini Pah, tadi aja bilang rindu sambil menangis. Giliran Anin sudah bangun malah membuatnya sedih" Omel Alin.
"Apa, Papa nangis?" Tersenyum ke arah Adrian. Anin tidak peduli jika saat ini Bastian tengah memperhatikan nya.
"Tidak! Papa hanya mencemaskan mu" elak Adrian gengsi.
"Em... Benarkah? Jadi Papa tidak merindukan Dira..." Ucap Anin berubah sendu.
Anin tersenyum senang, padahal dirinya hanya menggoda Papa nya saja tadi. Alin yang melihat tingkah suami dan putrinya yang tak pernah berubah itu tersenyum haru. Bastian pun ikut tersenyum, ada rasa hangat di hatinya melihat kebahagian dan kehangatan keluarga Anin.
Bagaimana jadinya jika mereka tau, kalau Bastian sudah mengkhianati putri kesayangan sekaligus kebanggaan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tamara sampai di kediaman nya yang mewah, ia berjalan sedikit cepat. Senyuman tak pernah luntur dibibirnya, ia tersenyum ramah kepada pelayan yang menyambutnya.
"Apa Tuan sudah pulang?" Tanya Tamara.
"Sudah Nyonya!"
"Lalu, Derald dan Citra?"
"Ada di kamar Nyonya!"
Tamara mengangguk, kini ia sudah berada di ruang tengah, "Siapkan makan malam nya!" Seru Tamara tegas, pelayan itupun mengangguk patuh.
"Baik Nyonya. Saya permisi!" Pamit nya.
Tamara beserta suami dan kedua anak nya kini sudah berada di meja makan, mereka menikmati makan malam dengan khidmat tak ada yang mau membuka pembicaraan kali ini.
"Tumben sekali Tom and Jerry ini diam saja dari tadi?" Ujar Davian. Namun tak ada sahutan dari keduanya.
"O iya, Mommy punya kabar baik loh..." Ucap Tamara antusias.
__ADS_1
"Kabar baik apa?" Kali ini Citra bertanya.
"Derald, apa kamu tidak ingin tau kabar apa yang akan Mommy bicarakan?" Melihat ke arah Derald yang hanya diam saja.
"Enggak!"
Derald yang memang sudah menyelesaikan makanan nya sejak tadi, ia berdiri hendak kembali ke kamar nya. Namun, baru beberapa langkah ucapan Mommy nya menghentikan langkah nya.
"Anindira sudah sadar!" Sengaja mengeraskan suaranya.
Seketika langkah kaki Derald berhenti, pandangan nya lurus ke depan. Entah, kenapa tapi rasanya seperti ada yang menggelitik diperut nya, bahkan jantung nya berdebar kencang, seperti ada beban berat yang tiba-tiba terangkat begitu saja. Hingga tanpa sadar sudut bibirnya tertarik keatas walau tipis.
"Beneran Mom, Kak Anin udah sadar?" Ujar Citra senang.
"Iya, besok kalau kamu mau jenguk Kak Anin bareng Mommy aja ya. Besok kan hari libur" usul Tamara.
"Iya Mom..." Jawab Citra dengan mata berbinar.
Tamara memang menceritakan kejadian yang menimpa Anin kepada Davian dan Citra. Sejak pagi Citra memang merengut, ia terus merengek ingin ikut ke rumah sakit. Namun, karna ia harus sekolah dan les Tamara tidak mengizinkan nya.
"Mom, Derald bingung bagaimana kalian bisa mengenal Anin?" Ucap Derald tiba-tiba penasaran.
"Kak Derald inget gak, waktu itu Citra pernah cerita kalau Mommy ketemu temen lamanya?" Bukan nya Tamara, melainkan Citra yang menjawab nya dengan antusias.
Dengan cepat Derald mengangguk, "Temen Mommy itu, Tante Alin..." Lanjut Citra.
"Jadi, perempuan yang kamu lamar untuk Kakak itu...?"
"Kak Anin!" Ucap Citra cepat.
Derald melotot, ia menatap Mommy nya dan diangguki Tamara dengan senyuman merekah. Derald menghela nafas nya berat,
"Kenapa Kak Derald nyesel ya..?" Ledek Citra.
"Apa sih anak kecil, sotoy banget!" Derald membalik kan badan nya, ia merutuki kebodohan nya.
Jika ia tau Anin yang dilamar Citra, dengan senang hati ia akan menerimanya dan tidak akan memarahi adiknya itu. Menyesalpun percuma. Itu semua hanyalah mimpi, karna kenyataan nya Anin akan segera menjadi milik orang lain.
"Dek, kalau kamu mau kerumah sakit bareng Kakak aja. Jangan sama Mommy, Mommy berangkatnya pagi!" Ujar Derald kemudian beranjak pergi menuju ruang kerja nya.
"Dih, tumben banget... Mom Kak Derald kenapa sih kok aneh gitu? Padahal tadi sore pas jemput aku dia marah-marah, cuma gara-gara Citra telat 10 menit doang," Gerutu Citra mencebikan bibir nya.
Namun, Tamara menggidikan bahunya tersenyum tipis. "Karna Kakak mu sedang jatuh cinta" batin Tamara.
Kalau saja Anin masih jomblo dan tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin ia akan mendukung Derald, bahkan ia sangat setuju jika Anin menjadi wanita pilihan putra nya. Karna Tamara sangat menyukai Anin saat pertama melihatnya.
...****************...
Dua episode untuk hari ini, Terimakasih yang udah setia ngikutin cerita ini...
Dukung terus ceritanya sampai tamat nya, Like sama komen nya jangan lupa! Oke...👌
Love sekebon buat para reader tercinta🥰
__ADS_1