Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Bukit Teletubbies


__ADS_3

Pak Made datang bertepatan setelah Rangga dan Cinta menyelesaikan sarapan mereka.


"Pagi, Tuan dan Nona. Sudah siap berpetualang hari ini," kelakar Pak Made.


"Sudah dong pastinya Pak," jawab Cinta antusias.


"Kita berangkat sekarang, Pak? Atau, Bapak mau sarapan dulu?" tanya Rangga yang sudah menggendong tas ranselnya.


"Tidak Tuan, terima kasih. Saya sudah sarapan tadi di rumah."


"Owh begitu, baiklah kita berangkat sekarang," ajak Rangga.


Mereka lalu berjalan kaki untuk menuju Pantai Berlian terlebih dulu. Kondisi jalan yang curam tidak memungkinkan mereka untuk menaiki mobil, lagipula lokasi dari rumah pohon ke pantai itu tidak terlalu jauh.


Benar saja, tidak sampai tiga puluh menit, mereka sudah sampai di Pantai Berlian.


"Lho, bukannya kemarin kita sudah ke sini ya, Pak?" tanya Cinta yang menatap Pak Made dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan Nona, ini Diamond Beach, kalau yang kemarin namanya Pantai Atuh. Memang mirip dengan Pantai Atuh, karena tempatnya yang berdekatan."


"Owh, saya kira tempatnya sama."


"Mau mencoba ayunannya, Nona?" Pak Made menunjuk ayunan yang tergantung diantara dua pohon kelapa yang menjulang tinggi.


"Wah ada fasilitas swing kayak di Ubud." Mata Cinta berbinar melihat ayunan yang ditunjuk Pak Made tadi. Sebuah ayunan yang tergantung dengan pemandangan laut yang airnya berwarna biru jernih di bawahnya. Benar-benar indah.


"Ya betul Nona, mirip dengan yang ada di Ubud."

__ADS_1


"Kok kamu tau Ubud, Sayang?" Tangan Rangga sudah bertengger, memeluk bahu Cinta.


"Ya dong, tahun baru kemarin om Davin dan istrinya ngajak aku, oma, dan Sunny berlibur di salah hotelnya di Ubud." Pandangannya menerawang mengingat kenangan itu.


"Owh," jawab Rangga lemah. Tampak raut kesedihan di wajahnya karena tidak bisa bersama mereka saat itu, dan Cinta menyadari itu.


"Setelah ini kita jalan-jalan ke Ubud, bagaimana?" Mencoba menghibur.


"Bener?"


"Hm, aku ingin mengelilingi Bali sekali lagi bersamamu sebelum kita berangkat ke Singapura."


"Aku juga, aku harap bisa menebus waktu lima tahun yang telah terbuang. Mengganti semua kenanganmu yang menjalani hari-hari sendiri di sini dengan hari-hari yang cuma ada aku dan kamu." Mengusap rambut Cinta dengan lembut.


"Hanya ada kenangan tentang kita di sini, hanya kita." Cinta memeluk pinggang Rangga sangat erat, seakan takut mereka akan berpisah lagi. Mereka berpelukan sangat erat seakan dunia milik berdua, tanpa ada Pak Made di samping mereka.


Sementara Pak Made hanya tersenyum haru menyaksikan kemesraan pasangan itu. Tentu dia tahu bagaimana kisah mereka karena Davin sudah menceritakan sebelumnya pada dirinya.


"Oh ya Pak, bagaimana caranya turun? Aku ingin mencoba ayunan itu." Cinta yang sudah kembali pada kesadarannya melepaskan dirinya dari pelukan Rangga.


"Untuk menuju pantai dan ayunan, kita harus menuruni tangga. Mari Nona, tangganya lewat sini." Pak Made menuntun mereka menuruni tangga untuk menuju ayunan di sekitar pantai.



...****************...


Puas bermain ayunan dan menikmati panorama Pantai Berlian, mereka melanjutkan perjalanan menuju Bukit Tanglad atau yang lebih dikenal dengan Teletubbies Hill. Bentuknya sangat unik dan bertumpuk-tumpuk. Di sana juga tidak seramai Bukit Kelingking karena tempatnya jauh dari pelabuhan fastboat. Jadi, wisata Nusa Penida bagian timur memang jarang dikunjungi wisatawan daripada Nusa Penida bagian barat.

__ADS_1


"Gak heran dinamakan Bukit Teletubbies, memang bentuknya menyerupai bukit yang ada di film anak-anak Teletubbies itu, iya 'kan, Pak?"


"Sebenarnya Bukit ini hasil dari topografi daerah Bukit Tanglad, Nona. Namun, karena bentuknya seperti ini orang-orang menyebutnya Bukit Teletubbies," jelas Pak Made.



"Nama yang unik Pak, pemandangannya juga hijau alami, menenangkan," komentar Rangga.


"Di sini biasanya sering dijadikan sebagai tempat prawedding, Tuan."



Langit semakin sore, Rangga dan Cinta masih terduduk berdua di atas rerumputan Bukit Teletubbies. Hanya mereka berdua. Pak Made entah menyingkir ke mana. Mungkin dia ingin memberi waktu pasangan itu untuk berduaan, atau mungkin dia enggan terus-terusan menjadi obat nyamuk.


Cinta duduk di dekat Rangga dengan merebahkan kepalanya di pundak pria itu. Matanya terpejam menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus menerpa wajahnya. Begitu juga dengan Rangga, dia duduk bersila dengan menyandarkan kepalanya di kepala Cinta sembari memejamkan matanya juga.



"Sweetheart,"


"Hm,"


"Apa kamu masih ingat waktu pertama kali kita bertemu?"



...****************...

__ADS_1


Eits, jangan pindah dulu ya guys, eps trakhir menunggu jempol kalian🤭🤭🤭


__ADS_2