
Ocha terkejut bukan main ia sampai menutup mulutnya, matanya terus menatap layar laptop tanpa teralihkan sedikitpun.
Ocha tidak percaya jika yang ia lihat itu adalah...
"Vina?!" Pekik Ocha tidak sengaja.
Ocha segera menutup mulutnya, saat melihat Billy memperhatikan nya.
"Ngapain dia ke cafe sama Bastian? Sejak kapan mereka sedekat itu? Apa jangan-jangan..." Ocha menggelengkan kepalanya pelan, "Gak apa yang gue pikirin itu gak bener, gak mungkin Vina mengkhianati Anin!" Ocha teringat pada Anin, melihat ke arah pintu.
"Anin gak boleh liat ini. Bisa-bisa dia salah paham sama Vina, gue harus cari tau dulu kebenaran nya baru setelah itu gue akan kasih tau Anin" Ocha terus membatin.
"Tapi, Anin kemana?" Gumam Ocha, saat Anin tak kunjung kembali.
"Sudah cukup Mas, terimakasih!" Ocha mendorong laptop Billy sedikit.
"Hmm, sama-sama!" Balas Billy.
"Kalo gitu saya permisi dulu" Billy mengangguk cepat.
Ocha beranjak keluar ruangan Billy, ia mencari-cari Anin tapi ia tidak menemukan nya.
"Anin kemana, kok gak ada?" Ocha berjalan keluar cafe, dan itu tak luput dari perhatian Derald. Sebelumnya ia juga melihat Anin pergi dengan tergesa-gesa.
Ocha tidak melihat mobil Anin di parkiran. Ocha menyalakan ponselnya, mencari nomor Anin kemudian menekan tombol memanggil.
"Hallo!"
"Nin Lo dimana?" Pekik Ocha.
"Gue dijalan, sorry ya Cha gue balik tanpa pamit! Kaya nya ada masalah deh sama Nyokap gue..." Jawab Anin khawatir.
Ocha menghela nafas nya, "Syukur deh Anin pulang duluan. Jadi, dia gak akan ngeliat rekamam itu"
"Cha! Ocha?"
"Iya! Yaudah gak papa, gue naik taksi aja"
"Hm, sekali lagi sorry ya Cha!"
Setelah melihat Anin dan Ocha pergi, Derald segera beranjak di ikuti Nichol menuju ruangan Billy mencari tau apa yang kedua gadis itu bicarakan.
Billy menceritakan apa yang Anin inginkan dari nya secara lengkap tanpa ada yang terlewat.
"Jadi Anin belum sempet liat rekaman nya?" Tanya Derald diangguki Billy.
"Cuma temen nya yang liat. Tapi aneh nya dia keliatan kaget gitu, kaya nya temen nya kenal deh sama cewek dalam rekaman itu" Ucap Billy menduga-duga.
Derald tidak menjawab ia kembali menatap layar laptop dengan seksama, "Itu cewe yang sama dengan Vidio yang Zino kirim waktu itu. Kalo Ocha mengenalnya berarti Anin juga kenal sama cewe itu" pikir Derald.
"O iya, tadi gue sempet denger dia nyebut Vina. Mungkin itu nama cewe ini" menunjuk layar laptopnya.
__ADS_1
"Bill, gue minta Lo share vidio ini ke gue sekarang!" Pinta Derald.
"Tapi, buat apa?" Tanya Billy menyerngit bingung.
"Buat bukti" jawab Derald cepat, "Udah cepetan Lo kirim!" Pinta Derald tegas.
"Iya... Kalo bukan temen gue udah abis gue jadiin perkedel buat menu baru di cafe gue" gerutu Billy kesal.
"Apa Lo bilang? Mau gue jahit tu mulut?!" Ancam Derald.
"Hehe.. Bercyanda... Bescyandaa!" Ucap Billy mengikuti kata yang lagi viral di toktok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma, Mama!" Teriak Anin saat ia sampai di rumah.
Anin sedikit berlari ke arah dapur, "Non Anin!" Ucap Bi Lani.
"Bi, Mama mana?" Ucap Anin panik.
"Nyonya... Ada di kamar Non" jawab Bi Lani.
Anin segera berbalik menuju kamar orang tuanya dengan tergesa, sedangkan Bi Lani tampak mematung dengan wajah keheranan melihat Anin yang terlihat cemas.
"Ma-- Mama?" Anin membuka handle pintu kamar.
Seketika Anin mematung, melihat Mama Alin ada dihadapan nya dengan senyuman merekah ke arah nya.
"Mama gak papa, kamu kenapa sih kok panik gitu?" Tanya Mama Alin cemas.
"Bukan nya tadi Mama bilang ditelpon gawat, terus suara Mama panik gitu. Anin jadi khawatir makanya Anin langsung pulang" jelas Anin dengan wajah bingung.
"Haha.. kamu ini, maksud Mama gawat itu ini kamu liat" menunjukan kartu undangan yang sudah dicetak di tangan nya, "Lebih bagus dari yang di gambar kan sayang?" sambungnya.
Anin melongo tak percaya, hanya karna ini Mama Alin sampai bicara dengan nada panik yang sukses membuat Anin khawatir setengah mati.
"Mamaa!! Mama tega banget sih cuma karna ini Mama nelpon Anin. Ini yang Mama sebut gawat!" Merebut kartu undangan itu, "Ish.." melempar kartu undangan itu asal ke kasur.
Anin benar-benar kesal, entahlah kenapa ia bisa sepanik ini. Mungkin karna suasana hatinya sedang tidak baik, bahkan ia pergi sebelum melihat rekaman itu. Padahal tadi Anin ngotot sekali ingin melihat nya.
"Kenapa kamu marah sama Mama?" Tanya Mama Alin bingung.
"Mama tau gak tadi Anin lagi ada urusan penting. Terus Mama nelpon kaya gitu dan yang bikin Anin panik handphone Mama mati, Anin takut terjadi sesuatu sama Mama.." jelas Anin.
"Sayang handphone Mama mati karna kehabisan baterai, tuh lagi di charge" menunjuk ponselnya.
Anin menunduk menghela nafasnya, kemudian duduk dikasur sang Mama. Karna masalah ini membuat Anin tidak bisa berpikir dengan baik, Anin selalu merasa cemas bahkan hatinya selalu tidak tenang. Anin benar-benar merasa lelah dengan semua ini, ia bingung apakah ini semua hanya perasaan nya saja atau memang ada hal yang harus Anin ketahui?
Mama Alin tak tega melihat putrinya terduduk lesu, "Maafin Mama ya sayang, harus nya Mama gak lebay kaya gitu. Mama gak tau kalau kamu bakal sepanik ini!" Ucap Mama Alin mengelus rambut Anin sayang.
Anin menatap Mama nya, Anin memeluk Mama Alin cukup erat. Rasanya Anin ingin menumpah kan segalanya, dengan memeluk Mamanya itu membuatnya lebih tenang. Pelukan hangat dan usapan lembut penuh sayang, menguar segala beban dan rasa lelah dihati Anin.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Tumben kamu manja gini? Apa ada masalah dikantor?" Tanya Mama Alin, merasa Anin sedikit berbeda hari ini.
Anin menggeleng pelan dipelukan Mama Alin, "Anin cape banget Mah hari ini, dengan meluk Mama seperti ini membuat Anin nyaman dan lebih baik sekarang" ucap Anin tersenyum tipis.
Mama Alin tersenyum, kemudian merapatkan pelukan nya. Putri kesayangan nya kini sudah semakin dewasa bahkan sebentar lagi akan menikah dan meninggalkan rumah. Ada rasa tidak rela, tapi juga bahagia melihat Anin yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
Tak terasa air mata Anin mengalir begitu saja, Anin segera menghapus nya dan semakin mengeratkan pelukan nya.
Ditempat lain Ocha turun dari taxi, Ia berjalan dengan tergesa. Namun seketika langkah nya berhenti saat melihat Bastian keluar dari Apartemen.
Ocha bersembunyi di balik tembok, "Bastian ngapain ke apartemen Vina?" Ucap Ocha pelan.
"Sebenarnya ada hubungan apa mereka, apa sedekat itu sampai di anterin kedalam?" Gumam Ocha lagi.
Setelah mobil Bastian menjauh, Ocha melesat masuk. 'Ting' walau Ocha tau kode pintunya namun ia tetap menggunakan sopan santun nya dengan menekan bel, karna ia sadar Ocha datang tanpa memberi Vina kabar.
"Ocha!" Wajah Vina menegang, entah ia terkejut karna Ocha datang tiba-tiba atau karna hal lain.
"Lo tumben kesini gak ngasih tau gue?" Tanya Vina mencoba setenang mungkin.
Sebenarnya ia khawatir, apakah Ocha melihat Bastian keluar dari sini atau tidak. Secara baru beberapa menit yang lalu Bastian pergi.
"Kenapa? Lo gak suka gue kesini?"
"Ya enggak lah Cha bukan gitu..."
"Terus? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang Lo sembunyiin ya?" Dengan ekspresi menyelidik.
"Lo ngomong apa sih Cha?" Vina berlalu begitu saja.
Ocha melihat baju yang Vina pakai masih baju yang sama saat di cafe, "Lo abis ke luar ya?" Tanya Ocha mengikuti Vina dibelakang.
"Ee... Iya" jawab Vina spontan.
"Em... Dari mana?" Tanya Ocha lagi.
"Gue-- abis dari cafe," Vina tersenyum singkat.
Ocha tersentak, "Cafe?" Ulang Ocha.
Vina mengangguk, "Hari ini gue ke cafe sama Adelio, cowok yang gue suka sekaligus ayah dari anak gue" ucap Vina dengan santai nya.
Ocha membelalak tak percaya. Bagaimana mungkin jelas-jelas Ocha melihat dalam rekaman itu jika wanita yang bersama Bastian itu Vina. Tapi kenapa Vina mengatakan jika ia bertemu Adelio laki-laki yang Vina temui saat di Australi?
Memikirkan semua ini membuat kepala Ocha seakan berputar karna dipenuhi banyak nya pertanyaan di dalam nya. Begitu banyak teka-teki yang sepertinya harus ia pecahkan.
...****************...
2 episode untuk hari ini...
Semoga kalian mengikuti cerita ini sampai tamat ya😊 Like,Vote dan Komen nya jangan lupa, karna itu sangat berharga buat Author. Terimakasih...🤗
__ADS_1