Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Impian


__ADS_3

Impian seringkali menjadi penyemangat seseorang menjalani hidup. Seperti pepatah mengatakan, 'Hidup berawal dari mimpi.' Mereka yang punya impian akan bekerja keras dengan caranya masing-masing untuk mewujudkan mimpi itu.


Satu hal yang harus kamu tahu, kalau kamu punya impian segera bangunlah dari tidurmu, lalu singsingkan lengan bajumu dan mulailah bekerja keras. Karena apa? Impian hanya bisa diraih jika kamu bangun dari tidurmu dan memperjuangkannya. Semakin kamu menunda untuk memulai, maka semakin jauhlah kamu dari impianmu.


Begitulah yang Rangga yakini, dia punya impian untuk memperjuangkan kembali istri dan anaknya. Dia bertekad untuk bertanggung jawab penuh dengan menghidupi mereka dari hasil kerja kerasnya sendiri. Oleh karenanya, dia bangkit dari koma dan menjalani hidup sebagai manusia baru. Berjuang untuk mandiri, melepaskan diri dari bayang-bayang Reyhan dengan mulai merintis karir sendiri.



Singapura, ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa Rangga memilih negara kecil yang sedang berkembang itu sebagai tempat dia merintis karir. Salah satunya karena Singapura, tempat dia melakukan pengobatan pasca koma dan cedera kepala berat akibat kecelakaan yang dialaminya.


Empat tahun dia merintis karir di sana, pasang surut sudah pasti pernah dialaminya. Namun, karena impian disertai tekad yang kuat, ditambah lagi dengan dukungan dari keluarga terutama Jonathan, ayahnya, yang selalu mendampingi dan mensuportnya, segala rintangan mampu dia lalui dengan baik.



Ada satu hal lagi yang dapat Rangga pelajari dari perjalanan hidupnya kali ini, jangan mengukur keberhasilanmu dengan kesuksesan orang lain. Karena terkadang hal itu justru membuatmu insecure, kamu hanya melihat pencapaian seseorang sehingga lupa akan bersyukur atas hasil dari kerja keras yang sudah kamu raih.



Setelah bermandikan keringat dan air mata, akhirnya kini Rangga bisa tersenyum lega. Apa yang menjadi impiannya sudah tercapai. Karirnya semakin melambung, dia juga sudah berhasil bertemu dengan putrinya. Sekarang mimpinya tinggal satu, mendapatkan kembali cinta tulus dari wanita yang paling dicintainya.


"Aku mencintaimu. Sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu, Kak." Cinta mengeratkan kembali pelukannya. "Jangan pergi, kumohon." Cinta mengusap pipinya. Butiran bening luruh dari pelupuk matanya seiring dia mengungkapkan isi hatinya pada Rangga.


Rangga menarik bibirnya ke dalam, dia mengulum senyum. Bak pria yang sedang jatuh cinta, Rangga merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di sekelilingnya, hatinya berbunga-bunga saat Cinta mengucapkan kata-kata itu untuknya. Namun, permainannya belum selesai.


"Maafkan aku, sayangnya rasa cintaku padamu sudah berubah." Masih dengan senyum dikulumnya.

__ADS_1


"Apa?!" Cinta menjauhkan wajahnya dari dada Rangga demi bisa menatap wajah pria itu. Dengan cepat Rangga menghentikan senyumnya, dan memasang wajah datar kembali.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Hm, begitulah perasaanku sekarang. Aku seorang pria normal. Apalagi dulunya aku adalah seorang pria yang menyukai one night stand. Lima tahun waktu yang sangat lama bagiku. Aku tidak sanggup menahannya, maaf." Rangga bicara sesantai mungkin tetapi, tidak dengan Cinta. Air mata kembali bercucuran membasahi wajah gadis itu. Benarkah pria yang sangat dia cintai ini sudah tidak mencintainya lagi? Suatu kenyataan yang tidak pernah bisa dia duga sebelumnya.


"Apa di hatimu sudah ada wanita lain?"


"Untuk saat ini belum." Cinta menghela napas lega. "Tapi untuk kembali mencintaimu rasanya aku butuh waktu." Cinta kembali mengangkat wajahnya. Manik hazel itu menatap Rangga dengan tatapan memelas.


Demi Tuhan, batin Rangga berteriak sekarang. Dia tidak sanggup melihat mata indah itu basah akan air mata. Ingin rasanya dia mendekap Cinta sekarang, menumpahkan rasa rindunya yang membuncah dan mengatakan dengan tegas kalau dia sangat mencintai wanita itu. Rasa cintanya tidak pernah berubah sedikit pun dan tak akan pernah lekang meski termakan oleh waktu. Namun, mengingat tujuannya belum tercapai, Rangga mengurungkan niatnya. Lihatlah, sampai mana dia akan menyiksa istrinya.


"Aku ke sini ingin bertemu putriku, dan meminta ijinmu untuk membawanya bersamaku."



"Hei ayolah, Sunny itu juga putriku. Kamu sudah bersamanya selama lima tahun, sekarang ijinkan aku untuk bersamanya."


"Aku tidak bisa hidup tanpa Sunny."


"Lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak bisa hidup tanpa putriku. Selama ini aku bekerja keras hanya untuknya." Rangga kembali memegang kedua bahu Cinta. "Apalagi setelah mendengar cerita darinya barusan, hatiku seakan teriris. Betapa dia ingin merasakan kasih sayang dari seorang ayah seperti teman-teman sekolahnya. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaannya? Kamu jangan egois, Sunny berhak merasakan kasih sayang dariku juga. Ayahnya itu aku, dan aku masih hidup."


Cinta hanya menunduk, matanya terpejam menahan pilu. Rangga benar, dia tidak boleh egois tapi, untuk menyerahkan Sunny pada Rangga, artinya dia harus berpisah dengan putrinya. Berpisah dengan Rangga sudah membuatnya tersiksa apalagi ditambah berpisah dengan Sunny. "Baiklah tapi, tidak untuk selamanya."


"Tenanglah, aku mengerti perasaanmu. Aku hanya ingin mengajaknya liburan, itu saja. Tidak lama, paling setahun ...."

__ADS_1


"Apa?!" Mata Cinta sontak membola.


"Baiklah, setengah tahun?" tawar Rangga yang dijawab gelengan kepala oleh Cinta.


"Oke, tiga bulan. Deal! Tidak ada tawar-menawar lagi." Rangga mengulurkan tangannya.


Dengan terpaksa Cinta membalas uluran tangan Rangga. "Baiklah, kapan kamu akan berangkat?" tanyanya lemas.


"Lusa." Cinta hanya mengangguk. "Tapi malam ini ijinkan Sunny menginap denganku."


Sontak Cinta mengangkat kembali wajahnya. "Tidak bisa begitu dong Kak, yang akan berpisah dengan Sunny itu aku. Harusnya sampai keberangkatan kalian lusa, Sunny tetap bersamaku." Cinta melayangkan protesnya pada Rangga.


"Malam ini saja. Aku ingin Sunny belajar dulu tidur bersamaku, supaya nantinya terbiasa. Bagaimana nanti kalau Sunny tidak terbiasa denganku saat sudah di Singapura? Bisa runyam, 'kan?"


Lagi-lagi Cinta hanya menghela napas berat, semua yang diucapkan Rangga ada benarnya. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk menjawabnya.


"Baiklah," sahutnya lesu.


Rangga tersenyum sumringah, dia meraih Cinta ke dalam pelukannya. "Makasih ya," gumamnya sembari mengusap rambut Cinta.


Sementara Cinta hanya bisa membenamkan wajahnya di dada Rangga, memuaskan hasratnya mencium aroma tubuh pria itu. Sebentar lagi mereka akan berpisah lagi, meski hatinya tidak terima tapi, apa yang bisa diperbuatnya? Laki-laki ini sudah tidak mencintainya lagi, mungkin ini adalah balasan atas apa yang sudah diperbuatnya dulu. Air matanya tidak berhenti mengalir meski dia sudah memaki dalam hati untuk jangan menangis lagi.


Sementara Rangga berdoa dalam hati, semoga rencananya besok berjalan dengan lancar jika tidak, dia akan kehilangan Cinta lagi. Apalagi jika Cinta menyerah dan melayangkan surat cerai padanya, bisa jadi dirinya akan bunuh diri. Ampun deh!


...****************...

__ADS_1


Oke guys, makasi untuk dukungan yang kalian kasih untuk Cinta sama Rangga. Makasih sudah jadi readers setia yang selalu ngasih dukungan, apapun dukungan dari kalian aku apresiasi banget🤗👏👏👏dan Big thanks deh pokoknya yang udah bagi vote sama hadiah😘😘😘 Aku tunggu dukungan dari kalian next chapter ya🤭🤭🤭


__ADS_2