
Hasrat yang tak terbendung, membawa Cinta dan Rangga berakhir di kamar ini. Kamar yang memang milik mereka berdua dulunya.
Setelah menutup pintu Rangga langsung menerjang Cinta. Menciuminya sembari membimbingnya ke ranjang. Tangan kirinya mendekap tubuh Cinta erat sedangkan tangan kanannya dengan lihai menarik tali gaun tidur Cinta hingga dalam sekali tarikan gaun itu terlepas menimpa lantai dan hanya menyisakan pakaian da*lam. Kemudian, dia mulai meremasi da*da istrinya itu.
Cinta merintih, dia tidak mau kalah dan ikut membuka kancing kemeja Rangga satu-persatu hingga semua kancing terlepas dan Rangga melempar kemejanya dengan asal.
Fokus bercumbu membuat mereka tak sadar jika tubuh mereka terhantuk pinggiran ranjang dan akhirnya mereka jatuh bersama di atasnya.
Cinta dan Rangga tertawa atas kelakuan mereka masing-masing. Namun, tak butuh waktu lama untuk mereka kembali saling mencumbu, memuaskan keinginan se*ksual mereka yang terpendam beberapa hari ini.
Rangga kembali mena*utkan bibir mereka, menye*sapnya, dan membe*litnya dengan sempurna. Setelah dirasa Cinta kehabisan napas, Rangga melepas ciumannya lalu beralih ke leher Cinta. Bibirnya mulai mengabsen tiap inci bagian leher Cinta, mencium, menjilat, dan menghisapnya hingga meninggalkan tanda kepemilikannya di sana. Puas bermain dengan leher istrinya kini bibirnya beralih turun ke bagian da*da.
Entah siapa yang memulai lebih dulu hingga kini mereka berdua sudah dalam keadaan sama-sama polos.
Cinta kembali mengerang saat Rangga mengulum dan meremas bagian da*danya bergantian. Apalagi, disaat tangan kiri Rangga mulai turun perlahan mengusap perutnya, pusar, lalu kebagian bawah lagi dan mulai bermain-main di sana.
Lagi-lagi Cinta harus mengerang, menikmati permainan jari Rangga di bawah sana. Dengan mata terpejam, tangannya berusaha meraih apa pun yang ada di sekitarnya. Sentuhan Rangga bagaikan sengatan aliran listrik yang menjalar secara spontan ke tubuh Cinta hingga naik ke ubun-ubun. Dia hilang kesadaran untuk beberapa saat hingga tidak tahu kepala Rangga sudah berpindah dan berada di bawah sana.
__ADS_1
"Oh, no! Jangan lakukan itu, Kak!" teriak Cinta sembari mengangkat kepalanya. Namun, terlambat karena lidah Rangga sudah mendarat di sana. Cinta kembali menjatuhkan kepalanya dengan kasar. Tangannya kembali mencengkram sprai dengan kuat saat lidah Rangga bermain-main secara sempurna di sana, membuat Cinta semakin menggila. Ya, ini adalah pertama kalinya untuk Rangga sepanjang mereka melakukan itu. Dia ingin memu*askan Cinta dengan cara berbeda di setiap permainannya.
"Kak, please ...."
Napas Cinta jelas tersengal, dia merasa sesuatu akan segera tumpah di bawah sana.
Rangga mengetahuinya dan dia sengaja menghentikan permainannya detik itu juga demi menyiksa istrinya. Membuat Cinta merasa frustasi karena Rangga menyukai itu. Menyukai wajah memohon Cinta.
Rangga mendongakkan kepalanya, dan tersenyum puas melihat mata sayu Cinta saat menatapnya. Mata yang memohon untuk segera mendapat pelampiasan. Tanpa pikir panjang lagi Rangga segera mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Cinta.
"Kenapa? Hm?" goda Rangga di sela-sela kecupannya di leher Cinta, "kamu sudah tidak tahan, Sayang? Kamu ingin aku segera memasukimu? Huh?"
"Akhh!"
Sebuah pekikan manja penuh kenik*matan lolos dari bibir Cinta. Apalagi saat Rangga mulai bergerak di atasnya seirama dengan suara-suara asing yang keluar dari bibir Cinta.
Cinta kembali mengerang, melenguh, mengeluarkan suara-suara asing yang memacu semangat adrenalin Rangga. Semakin sering Cinta mengeluarkan suara asing itu semakin bersemangat Rangga untuk bergerak di atasnya dengan disertai sentuhan jemari nakal yang bermain-main di setiap lekuk tubuh Cinta. Memabukkan dan melenakan. Membuat Cinta harus melenguh setiap kali Rangga kembali menyentuhnya untuk seterusnya menuntun Cinta menyusuri telaga penuh kenik*matan yang paling dalam, lalu selanjutnya terbang menuju puncak nirwana, dan melebur bersama di udara. Sungguh kenik*matan yang tiada tara. Namun, puncak yang sudah digapai rasanya belum cukup untuk mereka, hingga saat Cinta tanpa rasa malu memintanya kembali, Rangga dengan senyum penuh kemenangan memenuhi inginnya lagi dan lagi.
Tidak ada suara, ataupun kata-kata. Mereka berdua terdiam, hanyut, dan larut dalam kerinduan yang berkarat. Menambah kebisuan kamar yang menjadi saksi adegan percintaan dan kisah romantis dari dua insan yang melepas rindu. Hanya des*ahan napas keduanya yang memburu, bertarung dengan gelapnya malam yang kian pekat. Meski peluh telah mengucur dari tubuh keduanya. Suhu AC yang sudah dalam suhu terendah ternyata tidak mampu sama sekali meredam suhu panas dari tubuh keduanya.
__ADS_1
"I love you," bisik Rangga di sela-sela gerakannya yang terus memompa Cinta di bawah sana. Sampai dia merasa milik Cinta meremas miliknya pertanda Cinta akan mencapai puncaknya kembali.
"Bersama," ucap Rangga yang lalu kembali melu*mat bibir Cinta dengan rakus saat dirasa miliknya juga akan mencapai puncaknya yang untuk kesekian kali.
"Sekarang," perintah Rangga, yang selanjutnya diiringi lenguhan panjang dari keduanya.
"Hah ... hah ... hah ...." Cinta bangkit dari tidurnya dan menuntun tubuhnya sendiri untuk duduk dan bersandar pada sandaran kasur empuk miliknya. Dia menyeka butiran keringat yang membasahi dahi dan wajahnya dengan tubuh yang juga sudah basah akan keringat. Napasnya naik turun dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
"Apa itu tadi? Apa yang terjadi barusan hanya mimpi? Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?"
...****************...
Uppsssπ€ jeng jeng jeng... gubraakkkk!!!πππ
Cuma mimpi ternyata guysπππ
aaduhhh maafkan othor yang nakal ini yaππππ
__ADS_1