
Ocha membereskan semua nya, ia menyimpan kembali kotak itu ke atas lemari. Namun Ocha membawa foto itu dan memasukkannya kedalam tas. Ia bergegas pergi dari apartemen Vina, wajahnya tampak murung pikiran nya berkecamuk antara harus memberitahu Anin atau tidak.
Ocha berjalan gontai menuju mobilnya, lalu pergi. Sepertinya Ocha tidak bisa ke kantor hari ini, ia pun kembali ke rumah nya.
Anin mengerjapkan matanya, karna lelah menangis Anin langsung tertidur. Ia sampai tidak tau kapan dirinya tidur, Anin melihat jam didinding sudah menujukan pukul 4 sore.
Anin mengedarkan pandangannya, ia melihat Mama Alin tengah sibuk dengan beberapa kertas yang berserakan di meja.
"Ma..." Ucap Anin lirih.
"Sayang kamu udah bangun?" Seru Mama Alin lekas beranjak mendekati putrinya.
Anin mengangguk, ia berusaha bangun dan duduk.
"Kamu perlu sesuatu?" Tanya Alin yang kini sudah berada disamping putrinya.
Anin melihat Alin matanya kembali berkaca-kaca, "Kenapa sayang?" Ucap Alin melihat putrinya yang hanya diam saja.
'Grepp' Anin memeluk Mama nya dengan erat. Air matanya tak bisa ia bendung lagi, Anin butuh seseorang disampingnya. Anin butuh tempat untuk menumpahkan segala beban di hatinya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Alin khawatir, ia merasakan tubuh Anin bergetar ia tau jika saat ini Anin tengah menangis walau Anin tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Anin ingin sekali mengatakan semuanya, tapi Anin tidak bisa. Lidahnya terasa kelu, Anin hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Katakan ada apa sayang, apa kamu mimpi buruk?" Ucapnya lembut, mengusap rambut Anin sayang.
Ya, Anin berharap semua ini hanya mimpi. Tapi tidak ini bukan mimpi ini kenyataan yang harus ia hadapi dan temukan kebenaran nya. Anin melonggarkan pelukannya, ia menatap Alin sendu.
"Mah Anin mau pulang..."
"Pulang? Tapi kamu belum sembuh total sayang," mengusap pipi Anin lembut.
"Anin baik-baik aja Mah, Anin mohon Anin mau pulang!" Menggenggam tangan Mama Alin di pipinya.
Alin menghela nafas berat, "Oke, nanti Mama bicarakan sama Tante Tamara ya. Kalo Tante Tamara ngizinin kamu pulang kita pulang besok."
Anin mengangguk, ia kembali memeluk Mama Alin menyandarkan kepalanya nyaman.
Pagi ini, seperti biasa Tamara mengecek kondisi Anin.
"Gimana Tante, Anin baik-baik aja kan?" Tanya Anin.
"Ya, semuanya sudah normal. Bahkan keadaan kamu sekarang jauh lebih baik, cuman tekanan darah kamu masih sama seperti kemarin" jelas Tamara.
"Apa Anin boleh pulang hari ini Tan?"
"Lebih baik kamu tinggal sehari lagi disini, jika tekanan darah kamu sudah normal baru kamu boleh pulang" saran nya.
"Tapi Tan, Anin pengen pulang sekarang... Izinin Anin ya Tan, please! Anin janji akan istirahat di rumah dan rajin minum obat nya," menatap Tamara penuh harap.
Tamara menghela nafas nya, "Baiklah, tapi ingat kamu harus cek kesehatan kamu dua hari sekali. Ya?" Anin mengangguk cepat, dengan senyuman mengembang.
"Dan, satu hal lagi jangan terlalu banyak pikiran dan istirahat lah yang cukup," sambung Tamara.
Senyuman Anin berubah tipis, "Iya, terimakasih banyak Tante..." Tamara mengangguk berkali-kali, ia tersenyum hangat pada Anin.
Kondisi Anin memang sudah membaik. Tamara pun mengizinkan nya pulang dan istirahat di rumah, Anin sangat bahagia bisa pulang.
Anin memang tidak suka berada di rumah sakit, berhubung ruangan Anin ruang VVIP jadi tempatnya lebih nyaman dan tidak bau obat sedikitpun, malah ruangan nya selalu wangi dan bersih. Namun, tetap saja ini rumah sakit dan Anin sangat merindukan rumahnya apalagi kamarnya.
__ADS_1
Anin sudah mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian yang biasa ia kenakan. Anin juga mengikat rambut panjang nya asal, hingga leher jenjang Anin yang putih terpampang sempurna.
Ia membatu Mamanya mengemas barang-barang kedalam tas berukuran sedang.
"Udah sayang kamu duduk aja biar Mama yang beresin lagian ada Papa yang bantuin Mama" ujar Alin, khawatir Anin kecapean.
"Gak papa Mah, hitung-hitung olahraga" tersenyum manis.
"Ini kotak apa sayang?" Ucap Adrian yang tengah membereskan buah-buahan samping ranjang Anin.
Anin dan Alin melihat Adrian bersamaan, "Oh itu punya Anin Pah" ujar Anin menghampiri Papa nya.
Anin sampai lupa dengan flashdisk yang Ocha berikan. Ia memegang kotak itu sendu, "Lo kemana Cha, kenapa Lo gak dateng kesini lagi?" Batin Anin.
'Klek'
Seorang pria tampan menyembul dari balik pintu, semua orang melihat ke arahnya.
"Nak Derald? Ayo silahkan masuk," Ucap Alin ramah.
Derald tersenyum tampan, "Pagi Om, Tante. Hy" kini pandangan nya beralih pada Anin.
Kini Derald berdiri di depan Anin dan kedua orang tuanya.
"Pagi" Jawab Adrian.
"Pagi..." Kini Alin yang menjawab.
Sedang Anin hanya tersenyum tipis. Ia melihat Derald yang selalu menunjukan senyumnya saat berada didekatnya.
"Mommy bilang kamu sudah boleh pulang?" Kata Derald.
"Akh, senyuman itu lagi..." Batin Derald.
Ia selalu terpesona jika melihat senyuman Anin. Apalagi ini masih pagi, serasa mentari pagi yang menghangatkan hatinya. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan nya.
Semenjak kejadian yang menimpa Anin kemarin, Anin selalu bersikap lebih baik pada Derald. Anin jadi tidak ketus dan dingin lagi pada Derald.
"Ya sudah berhubung ada kamu disini, gimana kalau kamu bantuin Om beresin barang-barang ini?" Ucap Adrian.
"Papa!"
"Gak papa kok Tante, saya gak keberatan" sela Derald.
"E--enggak jangan! Papa, Papa apa-apaan sih. Nyuruh orang seenaknya, Derald itu tamu masa disuruh beresin semua ini" protes Anin tak enak.
"Loh kenapa? Orang Derald sendiri bilang gak keberatan. Ya sudah, tolong kamu lanjutkan yang ini ya! Om harus urus administrasi nya dulu" ujar Adrian.
"Tunggu Om! Masalah administrasi, Om gak usah khawatir. Saya sudah selesai kan semuanya," Ucap Derald tenang.
Semua nampak terkejut. Anin menatap Derald, "Maksud kamu... Kamu yang bayar semuanya?" Tanya Anin meyakinkan.
Derald tersenyum mengangguk, "Iya" jawab Derald enteng.
Adrian dan Alin saling tatap, "Tapi kenapa? Kamu pikir keluarga ku gak bisa bayar?" Ucap Anin sewot.
"E--enggak, bukan gitu. Sebenarnya aku yang memesan ruangan ini, jadi aku juga yang harus bayar" Ucap Derald ambigu.
"Tapi ini ruang VVIP loh, pasti mahal!" Seru Anin dan diangguki kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sudahlah kamu gak usah khawatir kan soal itu. Mana yang harus saya beresin Om?" Ucap Derald mengalihkan pembicaraan.
Derald mendekat ke arah Adrian yang berdiri disamping Anin, "Tunggu!" Anin memegang pergelangan tangan Derald.
"Kita perlu bicara" Anin menarik tangan Derald keluar ruangan.
Derald terkejut tangan nya di tarik Anin secara tiba-tiba, ia masih diam hanya mengikuti setiap langkah di belakang Anin. Ia melihat kearah tangan nya, senang rasanya melihat Anin memegang tangan nya seperti ini. Ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Seketika sebuah senyuman terbit di bibirnya.
Kini Anin dan Derald sudah berada di rooftop, "Apa maksud kamu, kenapa kamu membayar semua biaya rumah sakit ku?" Tanya Anin, menatap Derald dingin.
Karna kesal Anin sampai melupakan tangan nya yang masih memegang pergelangan tangan Derald. Derald hanya diam, ia sangat menikmati momen ini walau gadis di depan nya ini terlihat tengah marah. Tapi Derald tak memperdulikan itu, ia tersenyum tipis.
Anin menyerngit, melihat Derald malah tersenyum padanya. Reflek Anin melihat kebawah, mata nya membelalak. Dengan cepat Anin melepas tangan Derald cukup kasar, hingga membuat Derald tersadar.
Ada rasa tidak rela saat Anin melepaskan tangan nya, senyuman itu seketika memudar. Ia melihat Anin yang salah tingkah, namun masih memasang wajah jutek nya. Padahal tadi Anin sudah bersikap baik padanya.
"Aku gak mau tau ya. Kamu tarik kembali uang kamu, aku bisa bayar sendiri" ucap Anin ketus.
"Ya gak bisa dong. Udahlah, kenapa kamu mesti marah sih?" Tolak Derald.
"Jelas aku marah, aku gak suka ngerepotin orang lain. Lagian aku juga punya uang!"
"Kalo gitu kamu simpan aja uang kamu itu," usul Derald.
"Tapi biaya rumah sakit nya besar Derald, apalagi aku dirawat di ruang VVIP. Lagi pula aku gak suka ngerepotin orang lain," Anin menaikan sedikit nada suaranya.
Derald tersenyum tampan, "Siapa yang ngerepotin, aku gak berasa di repotin malah aku senang. lagi pula buat aku, uang segitu gak seberapa..." Ucap Derald bangga.
Anin melongo tak percaya, "Mungkin buat kamu uang segitu gak ada apa-apanya, tapi menurutku itu sangat besar. Lagian kenapa sih kamu malah meminta ruang VVIP segala?" Ucap Anin kesal.
"Karna aku mau yang terbaik buat kamu!" Menatap Anin teduh.
Anin tersentak ia menatap Derald, "A-apa?"
"Kamu tau, keadaan kamu waktu itu kritis suhu tubuh kamu semakin menurun. Jadi aku minta buat mindahin kamu ke ruang VVIP karna disana ada penghangat ruangan nya, lagian Mommy juga menyarankan itu" jelas Derald gugup.
"Pokok nya aku bakal ganti uang kamu!" Ucap Anin masih dengan pendirian nya.
"Udahlah Nin, kenapa kamu masih bahas soal uang itu lagi sih? Lagian aku gak masalah kalau pun kamu gak bayar juga," Ujar Derald yang tak habis pikir, kenapa Anin terus membahas hal itu.
"Hah. Gratis? Kamu pikir rumah sakit ini punya Nenek moyang kamu apa" sahut Anin menggelengkan kepalanya.
"Emang iya" jawab Derald, "Lebih tepatnya sih Kakek ya bukan Nenek" lanjutnya dengan gayanya yang cool.
Anin tertawa hambar, pria di hadapan nya ini benar-benar tidak tau malu. Sudah sombong ngaku-ngaku pemilik rumah sakit lagi.
"Kenapa ketawa? Aku serius!" Tanya Derald.
"Aku tau kamu putra pemilik perusahaan Dharm corf, perusahaan terbesar di bidang nya. Tapi, rumah sakit ini---"
"Milik Granfa!" Sela Derald.
'Glek' Anin menelan ludah nya kasar. Ia mendongak melihat Derald yang tengah memasang wajah serius.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, karna dukungan dari kalian itu adalah motivasi buat Author. Karna menulis itu tidak segampang membaca😊 Terimakasih...
BSC❤️
__ADS_1